Memasuki usia yang makin hari makin harus dewasa, menurut kalian belajar menempatkan diri itu seberapa penting, sih? Di lingkungan kerja utamanya.
Thursday, 22 March 2018
Spesies Berambisi Tinggi
Teruntuk kalian yang masih mencari pekerjaan yang lebih baik di luar sana, yang juga mungkin punya impian bekerja di perusahaan milik negara yang digadang-gadang akan mensejahterahkan kehidupan hingga anak cucu mendatang, terkhususnya wanita, kudoakan kalian menjadi wanita sekuat-kuatnya wanita.
Why? Karena tidak semua yang kamu impikan itu berjalan sesuai dengan yang kamu mau, terlebih kalau kalian harus tinggal di kota orang. Berbagai suku bercampur menjadi satu dalam satu wadah yang dinamakan perusahaan. Ketika di dalam otakmu tertanam keras untuk merantau demi kehidupan yang lebih baik, maka tanamkanlah pula sedalam-dalamnya bahwa kamu harus siap menempatkan diri dalam keadaan apapun.
Sedikit sharing aja, sih. 27 April 2017 lalu, berarti menuju setahun lah aku bekerja di salah satu perusahaan milik negara yang mungkin hingga kini digandrungi banyak fresh graduate atau bahkan yang sudah bekerja di tempat yang sudah baik. Kalau dikatakan senang, ya bersyukur alhamdulillah setelah dua kali gagal tes akhirnya aku dikasih rezeki buat kerja di sana, di kota Bandung pula, kota yang jadi idaman perantau, katanya.
Ya sebenarnya tidak sebegitu enak seperti yang dilihat orang, tetap saja di kota ini aku berjuang dengan segala hal, dengan ambisi orang lain khususnya. Kenapa berjuang dengan ambisi orang lain? Ya itu, bekerja di perusahaan yang punya tujuan utama untuk kebaikan negara itu tidaklah segampang yang dilihat, semua pekerjaan berdasarkan target. Tidak jarang aku harus pulang larut, jalan kaki sendirian di bawah hujan sambil memeluk berkas sambil menangis ingat orangtua di rumah.
Belum lagi bertemu dengan orang-orang yang punya ambisi lebih, karir yang lebih baik. Wajar sebenarnya, hanya saja kadang ada beberapa kepala yang punya tujuan besar untuk hidupnya malah membuat orang lain tidak nyaman. Contoh, ada partner kerja yang mati-matian bekerja untuk mencapai target kinerja perusahaan, sampai rela tidur di kantor segala, tapi tidak punya jam kerja yang baik. Disebabkan dia sering pulang larut, di pagi hari dia tidak datang tepat waktu, atau sering menghilang entah ke mana di saat jam kerja, tapi ketika yang lain sudah beranjak akan pulang barulah dia sibuk memulai pekerjaannya.
Lalu bandingkan dengan yang lain, misalnya kamu sejak malam sudah merencanakan apa yang akan kamu kerjakan selama jam kerja di kantor keesokan harinya. Kamu datang tepat waktu, lalu setelah duduk di bangku panasmu kamu mulai mengambil secarik kertas kemudian menuliskan apa-apa yang akan kamu kerjakan dalam satu hari itu, berikut juga batas waktu dari setiap pekerjaan. Sehingga, ketika sudah waktunya jam pulang, kamu pun bisa lega untuk pulang tepat waktu. Akan tetapi ketika memang diperlukan untuk lembur, kamu pun tahu diri kalau tidak seharusnya kamu pulang lebih dulu.
Nah, menurut kalian sikap manakah yang tepat bagi kita para pegawai? Apakah kualitas seorang pegawai dilihat dari seringnya dia pulang malam atau dari seberapa tepatnya dia mengatur waktu kerjanya.
Ya, kalau menurutku pribadi itu kembali lagi ke visi dan misi hidup masing-masing. Ketika seseorang berambisi kuat untuk karir, maka dia seperti tidak punya kehidupan lain, bahkan dalam satu minggu penuh dia dikuasai oleh pekerjaan. Hm, atau yang demikian dianggap lebih bisa diandalkan?
Aku pribadi termasuk spesies yang tidak begitu tertarik akan hal itu, mungkin salah, seharusnya siapapun yang berani nyemplung dalam kubangan ini harus berani basah-basahan,bukan? Tapi kembali lagi, aku punya kehidupan lain, aku punya keluarga, orang yang disayang, bahkan aku butuh waktu untuk diriku sendiri.
Nah kadang apa yang menjadi prinsip hidup kita tidak sepenuhnya bisa diterima orang lain, akan ada cibiran-cibiran yang mungkin terdengar kurang enak ketika kamu berada di jalan yang menurutmu sudah benar. Herannya lagi kadang aku berpikir, apapun yang kita lakukan maka yang menuai hasil adalah kita. Lantas kenapa masih ada jenis makhluk hidup yang merasa jengkel ketika kelelahan yang dia tanam tidak disentuh sedikitpun oleh orang lain.
Maksudnya gini, ketika ada yang bekerja jor-joran lalu mendapat nilai yang baik dan hasil financial yang memuaskan merasa kamu itu terlalu santai. Tidak sama seperti dia. Padahal apapun yang didapatnya tidak sedikitpun kamu makan.
Kira-kira begitulah gambaran ketika banyak kepala yang beragam isi di dalamnya menjadi satu. Mudah-mudahan kalian yang nanti juga akan masuk ke dalam kubangan ini jauh lebih siap dibanding aku yang masih suka baperan kalau dizolimi orang lain. Perasa mungkin.
Ya sebenarnya tidak sebegitu enak seperti yang dilihat orang, tetap saja di kota ini aku berjuang dengan segala hal, dengan ambisi orang lain khususnya. Kenapa berjuang dengan ambisi orang lain? Ya itu, bekerja di perusahaan yang punya tujuan utama untuk kebaikan negara itu tidaklah segampang yang dilihat, semua pekerjaan berdasarkan target. Tidak jarang aku harus pulang larut, jalan kaki sendirian di bawah hujan sambil memeluk berkas sambil menangis ingat orangtua di rumah.
Belum lagi bertemu dengan orang-orang yang punya ambisi lebih, karir yang lebih baik. Wajar sebenarnya, hanya saja kadang ada beberapa kepala yang punya tujuan besar untuk hidupnya malah membuat orang lain tidak nyaman. Contoh, ada partner kerja yang mati-matian bekerja untuk mencapai target kinerja perusahaan, sampai rela tidur di kantor segala, tapi tidak punya jam kerja yang baik. Disebabkan dia sering pulang larut, di pagi hari dia tidak datang tepat waktu, atau sering menghilang entah ke mana di saat jam kerja, tapi ketika yang lain sudah beranjak akan pulang barulah dia sibuk memulai pekerjaannya.
Lalu bandingkan dengan yang lain, misalnya kamu sejak malam sudah merencanakan apa yang akan kamu kerjakan selama jam kerja di kantor keesokan harinya. Kamu datang tepat waktu, lalu setelah duduk di bangku panasmu kamu mulai mengambil secarik kertas kemudian menuliskan apa-apa yang akan kamu kerjakan dalam satu hari itu, berikut juga batas waktu dari setiap pekerjaan. Sehingga, ketika sudah waktunya jam pulang, kamu pun bisa lega untuk pulang tepat waktu. Akan tetapi ketika memang diperlukan untuk lembur, kamu pun tahu diri kalau tidak seharusnya kamu pulang lebih dulu.
Nah, menurut kalian sikap manakah yang tepat bagi kita para pegawai? Apakah kualitas seorang pegawai dilihat dari seringnya dia pulang malam atau dari seberapa tepatnya dia mengatur waktu kerjanya.
Ya, kalau menurutku pribadi itu kembali lagi ke visi dan misi hidup masing-masing. Ketika seseorang berambisi kuat untuk karir, maka dia seperti tidak punya kehidupan lain, bahkan dalam satu minggu penuh dia dikuasai oleh pekerjaan. Hm, atau yang demikian dianggap lebih bisa diandalkan?
Aku pribadi termasuk spesies yang tidak begitu tertarik akan hal itu, mungkin salah, seharusnya siapapun yang berani nyemplung dalam kubangan ini harus berani basah-basahan,bukan? Tapi kembali lagi, aku punya kehidupan lain, aku punya keluarga, orang yang disayang, bahkan aku butuh waktu untuk diriku sendiri.
Nah kadang apa yang menjadi prinsip hidup kita tidak sepenuhnya bisa diterima orang lain, akan ada cibiran-cibiran yang mungkin terdengar kurang enak ketika kamu berada di jalan yang menurutmu sudah benar. Herannya lagi kadang aku berpikir, apapun yang kita lakukan maka yang menuai hasil adalah kita. Lantas kenapa masih ada jenis makhluk hidup yang merasa jengkel ketika kelelahan yang dia tanam tidak disentuh sedikitpun oleh orang lain.
Maksudnya gini, ketika ada yang bekerja jor-joran lalu mendapat nilai yang baik dan hasil financial yang memuaskan merasa kamu itu terlalu santai. Tidak sama seperti dia. Padahal apapun yang didapatnya tidak sedikitpun kamu makan.
Kira-kira begitulah gambaran ketika banyak kepala yang beragam isi di dalamnya menjadi satu. Mudah-mudahan kalian yang nanti juga akan masuk ke dalam kubangan ini jauh lebih siap dibanding aku yang masih suka baperan kalau dizolimi orang lain. Perasa mungkin.
Friday, 16 February 2018
Kenapa Nggak Pernah Nulis lagi?
Sebuah kalimat pertanyaan itu sudah beberapa kali
dalam beberapa tahun ke belakang bermunculan. Ya, tepatnya, sih, setelah aku
memang nggak nulis lagi. Sekitar tahun 2015 kemarin, ketika aku udah nyemplung
di dunia kerja, aku memang mengurangi rutinitas yang bersentuhan langsung
dengan dunia tulis-menulis. Dulu banget, waktu masih kuliah sampe pas selesai
kuliah, masa transisi sebelum kerja a.k.a pengangguran, aku tuh paling suka
ikut event-event nulis. Biasanya setiap malam apa gitu, aku
udah lupa sih jadwalnya sekarang, aku suka ikutan puisi malam di akun twitter-nya
nulis buku.
Kalo nggak salah itu mulainya pukul 23:00-00:00,
biasanya admin nulisbuku bakal ngasih satu kata kunci buat dijadiin puisi
dengan hastag #puisimalam. Saking niatnya, aku tuh biasanya
tidur dulu mulai dari habis salat isya, terus paket data sengaja aku matiin dan
alarm udah aku setel sesuai jadwalnya. Soalnya, aku pernah kesel banget gegara
ketiduran pas nyetel alarm lebih cepet 15 menit dari acaranya dimulai. Padahal
niatnya supaya ada persiapan dulu, supaya otak bisa mikir buat ngeluarin
kata-kata pamungkas malem itu, tapi nyatanya aku ketiduran, pas bangun udah
subuh aja.
Entah kenapa aku dulu bisa sebegitu menyesalnya kalo
ketinggalan tuh puisi malam, berasa kayak kehilangan satu kesempatan emas buat
mengasah kemampuanku. Apalagi pas pagi-pagi itu liat di timeline twitter kalo
banyak puisi yang bagus-bagus itu di-retweet sama admin nulisbuku,
rasanya gondok pisan euy. Nah, dari puisi malam inilah aku banyak kenal
penulis-penulis berbakat Indoesia, penulis pemula kayak aku. Biasanya dimulai
dari mereka me-retweet puisi-puisiku yang di-retweet sama
nulisbuku, lalu saling balas dan akhirnya saling kasih link blog sampe sharing
soal kepenulisan.
Aku inget banget waktu itu sampe bikin grup gitu, kalo
nggak salah isinya kami bertiga itu satunya namanya Siska, dia lebih muda dari
aku, dia kuliah jurnalis kalo nggak salah. Satunya lagi Umay, dia orang Medan
dan suka nulis juga, aku lupa dia jurusan apa kemarin, kami seumuran. Nah
karena waktu itu ada lomba menulis yang hadiahnya tiket liburan ke Bali,
jadilah kami pada ikut, akhirnya yang menang itu kalo nggak salah penulis dari
Sulawesi atau Kalimantan. Setelah saling kontak-kontakan, mention-mention-an,
dia juga kami masukin di grup dan sekarang entah ke mana dia.
Selain itu, aku juga suka ikutan lomba FF2in1, Flash
Fiction Two in One. FF2in1 itu adalah satu acara yang juga dibuat sama
nulisbuku, di mana admin bakal melempar dua lagu yang dibagi dua sesi,
masing-masing 30 menit. Misalnya, di sesi pertama si admin ngasih lagunya
Sheila on Seven yang judulnya Anugerah Terindah atau lagu-lagu Barat, nah bagi
siapapun yang mau ikutan harus nulis di blog masing-masing, tulisan dengan
maksimal karakter sebanyak 500 kata kalo nggak salah, itu setiap Rabu malam jam
19:00.
Bagi siapa yang menang, berhak buat milih satu buku
yang ada di web nulisbuku, gratis. Sumpah itu bikin penasaran banget, setiap
ikut FF2in1 itu rasanya deg-degan. Beneran. Baru sepuluh menit aja udah banyak
banget yang ikutan dan pemenang yang diambil cuma satu, sampai pada akhirnya
waktu itu aku pernah ikutan dan menang, dapet buku deh. Itu juga rasanya yang
ikutan sepi, keliatan banget kalo saingan beratnya lagi pada nggak ada jadinya
aku menang haha.
Ya gitulah pokoknya, sampe sekarang pun aku berterima
kasih sama nulisbuku yang udah mau menjadi wadah bagi penulis-penulis pemula
seperti kami untuk belajar terus, untuk lebih mencintai bahasa, untuk lebih
banyak berkomunikasi dengan seluruh penulis berbakat di Indonesia yang mungkin
belum berkesempatan untuk bisa memajang karya mereka di toko buku ternama.
Nah, balik lagi ke pertanyaan di atas, kenapa nggak
pernah nulis lagi?
Gimana ya jawabnya, aku juga sebenernya bingung mau
jawab pertanyaan itu. Kalo dibilang nggak pernah lagi sih enggak, aku masih
nulis sampe 2015 akhir kalo nggak salah. Jadi sebenernya itu lebih karena
keadaan sih, di mana aku harus fokus dengan karirku, maksudnya dengan
pekerjaanku. Dulu banget, waktu masih menggebu-gebu soal nulis sampe aku
nerbitin novel di saat aku juga lagi sibuk-sibuknya kuliah, rasanya aku tuh
hidup banget dengan duniaku, menulis. Sampe pada waktu itu aku udah mulai kerja
di awal 2015, udah mulai susah bagi waktu.
Waktu masih nganggur di rumah, aku bisa bebas ngerjain
tulisanku sampe jam berapapun. Nah ini juga yang udah hilang dari aku, mungkin
bakal aku bahas di tulisan khusus lainnya. Tentang semangat yang dulu ada,
sampe aku punya kepinginan bukuku ada di Gramedia dan jadi best seller,
kemudian difilmkan dan filmnya juga laku keras.
Tapi makin ke sini, tiba-tiba dan memang aku
orangnya overthingking gitu kan. Semua hal kecil pun
dipikirin, makanya suka sakit kepala gegara kayak gituan. Aku tuh mikir aja,
aku tuh pengin punya buku yang menginspirasi, buku yang bermanfaat, nggak cuma
sekedar nulis dan laku di pasaran terus dompetku tebel dan bisa beli ini itu.
Ini tuh lebih dari beban moral, bagi aku nulis itu
dampaknya luar biasa. Ketika tulisanku disukai banyak orang, kemudian mereka
mempedomani isinya, di sanalah amal jariyahku dicatat. Ketika isinya
benar-benar bisa menjadi manfaat dan berisi kebaikan, tentulah itu berbalik
positif juga kan buat aku. Nah, sementara selama ini tulisanku itu biasanya
sesuai dengan tema-tema yang udah ditentuin sama panitia lomba-lomba menulis,
yang notabene-nya itu nggak jauh-jauh dari soal “percintaan”.
Entahlah, yang ada di kepalaku itu adalah, aku nggak
mau menebar pemikiran yang salah sama pembaca-pembaca tulisanku. Maka dari itu,
ada sih beberap lagi draft naskah tulisanku yang pernah aku
ikutsertakan dalam lomba nulis itu sampe sekarang aku simpen aja file-nya.
Kok gitu? Ya itu tadi aku nggak mau tulisanku malah membawa banyak hal negatif.
Misal nih, bukan maksud buat men-judge penulis-penulis lain ya.
Misalnya aku nulis novel soal cinta-cintaan yang isinya tentang cara-cara
mempertahankan hubungan LDR, katakanlah memang sesuai, bisa diterapkan. Tapi
apakah dibenarkan aku ngasih saran-saran yang begituan, ngajarin anak muda
Indonesia buat pacaran dan lain-lain.
Ya gitulah pokoknya, aku tuh pengin kalo tulisanku itu
benar-benar ada manfaatnya. Kemarin sempet nulis soal perjuangan seorang guru
buat ngajar di sekolah terpencil gitu, itu udah dari tahun 2014 kalo nggak
salah sih nulisnya, tapi sampe sekarang belum juga terbit karena belum punya
waktu merevisi. Ya, mudah-mudahan nanti bisa balik lagi semangat nulisnya
seperti dulu, juga isinya bener-bener bisa dijadiin pedoman buat siapapun yang
ngebaca.
Monday, 25 December 2017
Turns to 24!
Yaps, 24 tahun.
22 Desember 1993-22 Desember 2017. Genap sudah gadis itu berusia 24 tahun, satu tahun lagi menjelang usia krusial bagi wanita kebanyakan. Benarkah?
Bukan soal benar atau tidak, tapi soal pandangan dari mindset masing-masing kepala. Menuju angka 25 itu sebenarnya bukanlah hal yang menakutkan bagi wanita, hanya saja memang faktor biologis yang nantinya akan menentukan untuk keberlansungan keturunan mereka itu yang perlu dipikirkan.
Kaum Adam mungkin banyak yang berpendapat kalau usia 25 itu masih muda untuk takaran seorang wanita segera menyandang gelar istri, apalagi kalau si wanita punya hormon yang sehat, atau memang diberi rezeki muka awet muda. Tapi, lagi-lagi bukan soal itu, bukan juga tergesa-gesa, hanya saja menyegerakan itu lebih baik.
By the way, ngomoningin soal ulang tahun, rasanya di mana-mana semua wanita suka dikasih kejutan yang romantis, bukan? Tentu saja, tapi romantis itu tidak melulu soal ngasih kue atau kado (rasanya sudah sering bilang ini). Iya, romantis itu bisa lewat ucapan selamat ulang tahun degan cara spesial, atau diam-diam mengumumkan pada khalayak banyak (socmed) tentang keberadaan orang yang disayang, tidak perlu berlebihan, tapi hal seperti ini kadang melebih segalanya. Membuat seseorang merasa istimewa, merasa ada, dan dunia perlu tahu kalau dia termiliki.
Ya, lagi-lagi isi kepala dan hati kaum Adam dan Hawa itu berbeda, akan selalu begitu. Lalu, apa ketika si kaum Adam tidak begitu peduli dengan segala macam keromantisan itu lantas disimpulkan bahwa rasa sayang mereka tidak seberapa? Tidak, tentu tidak. Hanya saja kadang dalam hidup ini seseorang itu perlu dibuat merasa bangga dan bahagia karena sudah termiliki olehnya. Seketika ada mata lain yang memandang, tentulah dia merasa kuat dan selalu dianggap ada. Ini hanya sudut pandang saja.
Eh satu lagi lah, kadang hal biasa yang dilakukan tanpa bertanya itu lebih membahagiakan daripada spesial tapi setelah diingatkan. Sekian.
Jadi, bagaimana pertambahan usianya? Biasa saja. Seperti sebelumnya.
22 Desember 1993-22 Desember 2017. Genap sudah gadis itu berusia 24 tahun, satu tahun lagi menjelang usia krusial bagi wanita kebanyakan. Benarkah?
Bukan soal benar atau tidak, tapi soal pandangan dari mindset masing-masing kepala. Menuju angka 25 itu sebenarnya bukanlah hal yang menakutkan bagi wanita, hanya saja memang faktor biologis yang nantinya akan menentukan untuk keberlansungan keturunan mereka itu yang perlu dipikirkan.
Kaum Adam mungkin banyak yang berpendapat kalau usia 25 itu masih muda untuk takaran seorang wanita segera menyandang gelar istri, apalagi kalau si wanita punya hormon yang sehat, atau memang diberi rezeki muka awet muda. Tapi, lagi-lagi bukan soal itu, bukan juga tergesa-gesa, hanya saja menyegerakan itu lebih baik.
By the way, ngomoningin soal ulang tahun, rasanya di mana-mana semua wanita suka dikasih kejutan yang romantis, bukan? Tentu saja, tapi romantis itu tidak melulu soal ngasih kue atau kado (rasanya sudah sering bilang ini). Iya, romantis itu bisa lewat ucapan selamat ulang tahun degan cara spesial, atau diam-diam mengumumkan pada khalayak banyak (socmed) tentang keberadaan orang yang disayang, tidak perlu berlebihan, tapi hal seperti ini kadang melebih segalanya. Membuat seseorang merasa istimewa, merasa ada, dan dunia perlu tahu kalau dia termiliki.
Ya, lagi-lagi isi kepala dan hati kaum Adam dan Hawa itu berbeda, akan selalu begitu. Lalu, apa ketika si kaum Adam tidak begitu peduli dengan segala macam keromantisan itu lantas disimpulkan bahwa rasa sayang mereka tidak seberapa? Tidak, tentu tidak. Hanya saja kadang dalam hidup ini seseorang itu perlu dibuat merasa bangga dan bahagia karena sudah termiliki olehnya. Seketika ada mata lain yang memandang, tentulah dia merasa kuat dan selalu dianggap ada. Ini hanya sudut pandang saja.
Eh satu lagi lah, kadang hal biasa yang dilakukan tanpa bertanya itu lebih membahagiakan daripada spesial tapi setelah diingatkan. Sekian.
Jadi, bagaimana pertambahan usianya? Biasa saja. Seperti sebelumnya.
Sunday, 15 October 2017
Bahagia itu Sederhana
Bahagia itu sederhana saja, hanya dengan diberi kabar atau bahkan mendengar suaranya sejenak.
Kamu tahu bagaimana rasanya lelah karena berkutat dengan pekerjaan selama satu minggu penuh, kan? Jadi ketika weekend tiba rasanya ingin tiduran saja di kamar menghabiskan libur.
Tidak, tidak dengan wanita ini. Dia selalu menghitung hari di mana weekend yang dia punya sama dengan weekend orang yang dia sayang. Kenapa? Supaya bisa mendengar suaranya untuk melepas rindu walau sejenak saja.
Iya, waktu memang menjadi pembatas segalanya. Pembatas rindu yang makin hari makin menggebu. Bahkan ketika badannya sedang kurang fit pun dia rela menuntaskan pekerjaan lain di siang hari, supaya ketika malam tiba dia bisa mendengar suara orang yang disayanginya lebih lama. Syukur-syukur bisa memandangi wajahnya lewat layar handphone-nya.
Tapi kenyataan tidak selalu sama dengan yang diharapkan. Ketika dia punya banyak waktu dan perhitungannya benar. Bahwa hari yang dia tunggu ketika dia bisa mendengar suata itu tidaklah sama.
Kadang dia rela meninggalkan segala kegiatan demi menunggui bunyi dari handphone-nya, tapi tetnyata kadang orang yang dia sayang tak selamanya harus menghabiskan waktu untuknya. Dia juga punya kehidupan lain dan punya hak atas dirinya sendiri.
Jadilah kesia-siaan dalam menunggu itu tak jarang membuat matanya sembab, selain menahan kantuk, juga menahan rindu, dan mungkin orang yang dia sayang tidak tahu tentang itu.
Sebut saja itu "tulus".
Kamu tahu bagaimana rasanya lelah karena berkutat dengan pekerjaan selama satu minggu penuh, kan? Jadi ketika weekend tiba rasanya ingin tiduran saja di kamar menghabiskan libur.
Tidak, tidak dengan wanita ini. Dia selalu menghitung hari di mana weekend yang dia punya sama dengan weekend orang yang dia sayang. Kenapa? Supaya bisa mendengar suaranya untuk melepas rindu walau sejenak saja.
Iya, waktu memang menjadi pembatas segalanya. Pembatas rindu yang makin hari makin menggebu. Bahkan ketika badannya sedang kurang fit pun dia rela menuntaskan pekerjaan lain di siang hari, supaya ketika malam tiba dia bisa mendengar suara orang yang disayanginya lebih lama. Syukur-syukur bisa memandangi wajahnya lewat layar handphone-nya.
Tapi kenyataan tidak selalu sama dengan yang diharapkan. Ketika dia punya banyak waktu dan perhitungannya benar. Bahwa hari yang dia tunggu ketika dia bisa mendengar suata itu tidaklah sama.
Kadang dia rela meninggalkan segala kegiatan demi menunggui bunyi dari handphone-nya, tapi tetnyata kadang orang yang dia sayang tak selamanya harus menghabiskan waktu untuknya. Dia juga punya kehidupan lain dan punya hak atas dirinya sendiri.
Jadilah kesia-siaan dalam menunggu itu tak jarang membuat matanya sembab, selain menahan kantuk, juga menahan rindu, dan mungkin orang yang dia sayang tidak tahu tentang itu.
Sebut saja itu "tulus".
Saturday, 5 August 2017
Selamat Bertambah Usia
Teruntuk kamu yang bertambah usia hari
ini.
Teruntuk kamu yang bertambah usia hari
ini, aku masih ingat jelas saat pertama kali kedua pasang mata kita bertemu
tatap. Saat pertama kali kamu datang ke rumah sendirian, bertemu Ayah dan Ibu.
Kita saat itu bertukar cerita seadanya, tentang pekerjaanmu yang saat itu akan
segera kamu tinggalkan karena jerih payahmu akan segera terbalaskan. Juga
tentang ceritaku yang juga masih terus berjuang untuk pekerjaan yang lebih
baik.
Saat itu, aku sebenarnya malu, sebab
baru kamu laki-laki pertama yang berani datang ke rumah sendirian, sementara
temanku saja harus membawa teman wanita supaya bisa aman main ke rumah. Saat
itu kita ngobrol seseru itu, tidak terlalu canggung meski baru pertama kali.
Kamu dengan segala kepercayaan dirimu datang untuk menagih janji untuk makan
kue nastar di rumah.
Haha, kue nastar itu hanyalah modus
setelah novel pertamaku meluncur ke rumahmu. Walaupun niatmu membelinya hanya
untuk menjadi langkah awal kedekatan kita. Iya, aku ingat semuanya. Aku ingat
saat pertama kali deguban jantungku terasa berbeda ketika menjemputmu di depan
pagar rumah, mengajakmu masuk dan menyuguhimu makanan sederhana di rumah, juga
cokelat berbentuk hati itu.
Kamu pun dengan gagahnya masuk, tidak
terlihat kecemasan dari raut wajahmu. Saat itu aku kaget sungguhan, ternyata
aku hanya sebatas pundakmu saja. Selama waktu berjalan di hari pertama kita
bertemu itu, aku merasa ada yang berbeda dari sorot matamu, ketulusan.
Saat itu, kamu juga menunjukkan KTP
milkmu dan mengatakan dengan jelas bahwa kamu lebih muda dariku. Saat itu aku
malu sekaligus geli, bisa-bisanya brondong macam kamu berani menggodaku seperti
itu, datang ke rumah dengan sok pedenya ngajak ngobrol enteng tanpa terlihat
kecemasan sedikitpun.
Sejak itu, aku menjadi lebih tertarik
padamu, ditambah lagi informasi tentang kamu yang selalu ditransfer temanmu
untukku. Sampai pada akhirnya aku menemukan satu titik yang membuatku mencoba
untuk membuka hati kembali, untuk kamu.
Proses itu kita jalani bersama, kita
lewati dengan tidak begitu mudah. Banyak ranjau dan halang merintangi
kesemuanya. Diawali dari memantapkan hati untuk bersama dengan visi dan misi
yang sama, kemudian diterjang ombak yang cukup besar di awal perjalanan,
kemudian ombak lagi di pertengahan sampai pada saat itu mungkin kamu mulai
lelah dengan ombak-ombak yang mungkin aku ciptakan sendiri dan sampai pada
detik ini, akhirnya kita berhasil melewati banyak ombak yang menghalang karena
sama-sama masih memiliki visi dan misi yang juga sama.
Teruntuk kamu, laki-laki yang paling
bisa membuatku rindu sepanjang waktu, laki-laki yang selalu bisa membuatku
gagal untuk diam bisu saat hati entah kenapa merasa kesal padamu, laki-laki
yang tidak ingin banyak berjanji tapi selalu berusaha mencukupi, laki-laki yang
selalu berhasil membuat titik air mata tumpah karena lelahmu yang tak pernah
kau ucap, laki-laki yang tak pernah hilang barang sedetik pun dari ingatan,
kamu tentulah tahu seberapa besar perasaan ini terjaga selama dua kali
pertambahan usiamu ini.
Sayang, tetaplah seperti ini, menjadi
laki-laki yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam otakku untuk mencari
penggantimu di kemudian hari.
Sayang, tetaplah menjadi tempat
ternyaman, meski waktumu tak banyak untuk bisa kamu bagi karena banyak yang
harus kamu penuhi.
Sayang, tidak ada sesuatu yang
istimewa yang bisa kuberikan selain kesetiaan yang mungkin tidak begitu
terlihat saat ini.
Sayang, semoga kelak dengan semakin
dewasanya kamu, maka semakin bermanfaat pula bagi keluarga dan orang-orang yang
kamu sayangi.
Sayang, tidak akan ada paksaan dalam
hubungan ini. Jika aku sebagai pihak yang menunggu dan kamu pihak yang
ditunggu, tentulah tidak ada lagi pertanyaan setelah ini, cukup dengan menunggu
tibanya waktu itu.
Sayang, tidak ada hari paling bahagia
kecuali tidak ada lagi jarak bagi kita berdua.
Selamat bertambah usia, lelakiku.
Wednesday, 26 July 2017
Cari yang Sepadan
Tahukah kalian
arti kata sepadan versi KBBI online adalah:
sepadan (dengan)/se·pa·dan (dengan)/ a mempunyai nilai (ukuran, arti, efek, dan sebagainya)
yang sama; sebanding (dengan); seimbang (dengan); berpatutan (dengan).
Terkait dengan kata sepadan ini, tentulah banyak
hal yang perlu kita lakuin dan pilih itu sepadan. Contoh, sejak dulu aku tuh
punya kepengenan punya calon pendamping hidup a.k.a suami itu yang sepadan.
Sepadan dalam artian selaras. Mulai dari gaya hidup, sudut pandang, visi, misi
dan lain-lain. Kenapa mesti gitu? Aku pernah nggak sengaja liat video ustad apa
gitu ceramah soal mencari pasangan itu hendaklah yang sepadan. Misalnya, kita
kepengen dapet suami atau istri yang solehah ya tentulah kita harus seperti
kriteria itu terlebih dahulu. Kalo seandainya kita kepengen dapet suami atau
istri yang rajin ibadah, baik wajib maupun sunah ya kita mesti gitu juga. Kalo
nggak sepadan, risikonya berat. Misal punya suami yang rajin qiyamul lail (solat tahajjud), tapi
kitanya sendiri nggak gitu. Ketika si suami bangunin buat solat tahajjud bareng, itu pasti rasanya berat. Nah, di situ letak sepadan itu mesti diterapkan.
Dari sisi materi atau ekonomi, ketika ada
ketimpangan, nggak jarang rumah tangga itu bakal sulit dijalani. Makanya dari
dulu aku tuh kepengen banget punya suami yang dia dan keluarganya itu nggak
terlalu mengutamakan urusan dunia. Punya mertua yang gaul dan ngerti banget
dunia kekinian itu rasanya momok banget buat aku. Aku pengen punya mertua itu
yang kayak ibuku sendiri, yang sederhana dan nggak neko-neko, biar nyaman meski
nanti tinggal bareng. Nggak melulu ngeliat dari kacamata dunia doang.
Terus, aku juga kepengan punya suami itu yang
ilmunya sepadan, sama-sama mau belajar kalo sekarang ilmunya masih cetek,
syukur-syukur dapet suami yang bisa ngasih ilmu lebih banyak, tambahan bekal
buat anak-anak kami kelak. Selain itu, aku juga seneng banget kalo dalam
hubungan itu si pasangan mau menghargai dan melihat sisi positif lebih banyak
(meski kadang aku juga suka negatif sih, maklum lah kalo cewek kan perasa).
Contoh, dalam kondisi aku drop karena urusan
kerjaan dan lain-lain, dia tu selalu ngasih semacam suplemen yang bikin aku
tadinya minder, males, nggak pede dan lain-lain itu jadi lebih semangat. Ketika
dunia rasanya nggak nganggep aku ada, dia ada buat ngasih tahu kalo aku itu berharga,
misalnya ketika aku lagi ngerasa drop karena dituntut ini itu dalam kerjaan.
Dia bakal nenangin gini:
“Kamu tuh hebat, makanya kamu disuruh ini itu.”
Atau ketika aku gagal menjalani sesuatu, dia
bakal bilang:
“Tenang, aku yakin kamu tuh mampu. Kamu pasti
bisa.”
Atau aku yang juga selalu ngaggep dia itu yang
paling hebat, misalnya dia bilang:
“Ah, apalah aku ini cuma kerja di sini.”
Aku pasti jawab: “Kamu tuh hebat, nggak semua
orang bisa kerja di tempatmu.”
Atau “Kamu tuh memang yang terbaik, nggak pernah
berubah meski udah dikasih kelebihan kayak gini.”
Menurutku, kesepadanan perlakuan itu adalah
penting. Ketika kita memilih calon pasangan hidup yang sepadan, mulai dari
pemikiran, tabiat, perlakuan, dan segala yang mencakup aspek kehidupan itu
harus dipertimbangkan. Ketika kita sudah menemukan yang sepadan dan selaras
dengan segala tujuan hidup dan kebiasaan, mudah-mudahan nggak akan ada yang
namanya kekurangan, baik dari segi dunia maupun akhirat.
Sejauh ini aku bersyukur, Allah sudah dengan
sangat baiknya ngasih kondisi gini dilengkapi dengan dia yang kuanggap sepadan.
Mudah-mudahan di kehidupan di kemudian hari kesepadanan itu membuahkan hasil
yang baik untuk semua pihak.
Subscribe to:
Posts (Atom)