Thursday, 22 March 2018

Don't Act Like a Boss

Memasuki usia yang makin hari makin harus dewasa, menurut kalian belajar menempatkan diri itu seberapa penting, sih? Di lingkungan kerja utamanya.


Spesies Berambisi Tinggi

Teruntuk kalian yang masih mencari pekerjaan yang lebih baik di luar sana, yang juga mungkin punya impian bekerja di perusahaan milik negara yang digadang-gadang akan mensejahterahkan kehidupan hingga anak cucu mendatang, terkhususnya wanita, kudoakan kalian menjadi wanita sekuat-kuatnya wanita.

Why? Karena tidak semua yang kamu impikan itu berjalan sesuai dengan yang kamu mau, terlebih kalau kalian harus tinggal di kota orang. Berbagai suku bercampur menjadi satu dalam satu wadah yang dinamakan perusahaan. Ketika di dalam otakmu tertanam keras untuk merantau demi kehidupan yang lebih baik, maka tanamkanlah pula sedalam-dalamnya bahwa kamu harus siap menempatkan diri dalam keadaan apapun.

Sedikit sharing aja, sih. 27 April 2017 lalu, berarti menuju setahun lah aku bekerja di salah satu perusahaan milik negara yang mungkin hingga kini digandrungi banyak fresh graduate atau bahkan yang sudah bekerja di tempat yang sudah baik. Kalau dikatakan senang, ya bersyukur alhamdulillah setelah dua kali gagal tes akhirnya aku dikasih rezeki buat kerja di sana, di kota Bandung pula, kota yang jadi idaman perantau, katanya.

Ya sebenarnya tidak sebegitu enak seperti yang dilihat orang, tetap saja di kota ini aku berjuang dengan segala hal, dengan ambisi orang lain khususnya. Kenapa berjuang dengan ambisi orang lain? Ya itu, bekerja di perusahaan yang punya tujuan utama untuk kebaikan negara itu tidaklah segampang yang dilihat, semua pekerjaan berdasarkan target. Tidak jarang aku harus pulang larut, jalan kaki sendirian di bawah hujan sambil memeluk berkas sambil menangis ingat orangtua di rumah.

Belum lagi bertemu dengan orang-orang yang punya ambisi lebih, karir yang lebih baik. Wajar sebenarnya, hanya saja kadang ada beberapa kepala yang punya tujuan besar untuk hidupnya malah membuat orang lain tidak nyaman. Contoh, ada partner kerja yang mati-matian bekerja untuk mencapai target kinerja perusahaan, sampai rela tidur di kantor segala, tapi tidak punya jam kerja yang baik. Disebabkan dia sering pulang larut, di pagi hari dia tidak datang tepat waktu, atau sering menghilang entah  ke mana di saat jam kerja, tapi ketika yang lain sudah beranjak akan pulang barulah dia sibuk memulai pekerjaannya.

Lalu bandingkan dengan yang lain, misalnya kamu sejak malam sudah merencanakan apa yang akan kamu kerjakan selama jam kerja di kantor keesokan harinya. Kamu datang tepat waktu, lalu setelah duduk di bangku panasmu kamu mulai mengambil secarik kertas kemudian menuliskan apa-apa yang akan kamu kerjakan dalam satu hari itu, berikut juga batas waktu dari setiap pekerjaan. Sehingga, ketika sudah waktunya jam pulang, kamu pun bisa lega untuk pulang tepat waktu. Akan tetapi ketika memang diperlukan untuk lembur, kamu pun tahu diri kalau tidak seharusnya kamu pulang lebih dulu.

Nah, menurut kalian sikap manakah yang tepat bagi kita para pegawai? Apakah kualitas seorang pegawai dilihat dari seringnya dia pulang malam atau dari seberapa tepatnya dia mengatur waktu kerjanya.

Ya, kalau menurutku pribadi itu kembali lagi ke visi dan misi hidup masing-masing. Ketika seseorang berambisi kuat untuk karir, maka dia seperti tidak punya kehidupan lain, bahkan dalam satu minggu penuh dia dikuasai oleh pekerjaan. Hm, atau yang demikian dianggap lebih bisa diandalkan?

Aku pribadi termasuk spesies yang tidak begitu tertarik akan hal itu, mungkin salah, seharusnya siapapun yang berani nyemplung dalam kubangan ini harus berani basah-basahan,bukan? Tapi kembali lagi, aku punya kehidupan lain, aku punya keluarga, orang yang disayang, bahkan aku butuh waktu untuk diriku sendiri.

Nah kadang apa yang menjadi prinsip hidup kita tidak sepenuhnya bisa diterima orang lain, akan ada cibiran-cibiran yang mungkin terdengar kurang enak ketika kamu berada di jalan yang menurutmu sudah benar. Herannya lagi kadang aku berpikir, apapun yang kita lakukan maka yang menuai hasil adalah kita. Lantas kenapa masih ada jenis makhluk hidup yang merasa jengkel ketika kelelahan yang dia tanam tidak disentuh sedikitpun oleh orang lain.

Maksudnya gini, ketika ada yang bekerja jor-joran lalu mendapat nilai yang baik dan hasil financial yang memuaskan merasa kamu itu terlalu santai. Tidak sama seperti dia. Padahal apapun yang didapatnya tidak sedikitpun kamu makan.

Kira-kira begitulah gambaran ketika banyak kepala yang beragam isi di dalamnya menjadi satu. Mudah-mudahan kalian yang nanti juga akan masuk ke dalam kubangan ini jauh lebih siap dibanding aku yang masih suka baperan kalau dizolimi orang lain. Perasa mungkin.

Friday, 16 February 2018

Kenapa Nggak Pernah Nulis lagi?


Sebuah kalimat pertanyaan itu sudah beberapa kali dalam beberapa tahun ke belakang bermunculan. Ya, tepatnya, sih, setelah aku memang nggak nulis lagi. Sekitar tahun 2015 kemarin, ketika aku udah nyemplung di dunia kerja, aku memang mengurangi rutinitas yang bersentuhan langsung dengan dunia tulis-menulis. Dulu banget, waktu masih kuliah sampe pas selesai kuliah, masa transisi sebelum kerja a.k.a pengangguran, aku tuh paling suka ikut event-event nulis. Biasanya setiap malam apa gitu, aku udah lupa sih jadwalnya sekarang, aku suka ikutan puisi malam di akun twitter-nya nulis buku.

Kalo nggak salah itu mulainya pukul 23:00-00:00, biasanya admin nulisbuku bakal ngasih satu kata kunci buat dijadiin puisi dengan hastag #puisimalam. Saking niatnya, aku tuh biasanya tidur dulu mulai dari habis salat isya, terus paket data sengaja aku matiin dan alarm udah aku setel sesuai jadwalnya. Soalnya, aku pernah kesel banget gegara ketiduran pas nyetel alarm lebih cepet 15 menit dari acaranya dimulai. Padahal niatnya supaya ada persiapan dulu, supaya otak bisa mikir buat ngeluarin kata-kata pamungkas malem itu, tapi nyatanya aku ketiduran, pas bangun udah subuh aja.

Entah kenapa aku dulu bisa sebegitu menyesalnya kalo ketinggalan tuh puisi malam, berasa kayak kehilangan satu kesempatan emas buat mengasah kemampuanku. Apalagi pas pagi-pagi itu liat di timeline twitter kalo banyak puisi yang bagus-bagus itu di-retweet sama admin nulisbuku, rasanya gondok pisan euy. Nah, dari puisi malam inilah aku banyak kenal penulis-penulis berbakat Indoesia, penulis pemula kayak aku. Biasanya dimulai dari mereka me-retweet puisi-puisiku yang di­-retweet sama nulisbuku, lalu saling balas dan akhirnya saling kasih link blog sampe sharing soal kepenulisan.

Aku inget banget waktu itu sampe bikin grup gitu, kalo nggak salah isinya kami bertiga itu satunya namanya Siska, dia lebih muda dari aku, dia kuliah jurnalis kalo nggak salah. Satunya lagi Umay, dia orang Medan dan suka nulis juga, aku lupa dia jurusan apa kemarin, kami seumuran. Nah karena waktu itu ada lomba menulis yang hadiahnya tiket liburan ke Bali, jadilah kami pada ikut, akhirnya yang menang itu kalo nggak salah penulis dari Sulawesi atau Kalimantan. Setelah saling kontak-kontakan, mention-mention-an, dia juga kami masukin di grup dan sekarang entah ke mana dia.

Selain itu, aku juga suka ikutan lomba FF2in1, Flash Fiction Two in One. FF2in1 itu adalah satu acara yang juga dibuat sama nulisbuku, di mana admin bakal melempar dua lagu yang dibagi dua sesi, masing-masing 30 menit. Misalnya, di sesi pertama si admin ngasih lagunya Sheila on Seven yang judulnya Anugerah Terindah atau lagu-lagu Barat, nah bagi siapapun yang mau ikutan harus nulis di blog masing-masing, tulisan dengan maksimal karakter sebanyak 500 kata kalo nggak salah, itu setiap Rabu malam jam 19:00.

Bagi siapa yang menang, berhak buat milih satu buku yang ada di web nulisbuku, gratis. Sumpah itu bikin penasaran banget, setiap ikut FF2in1 itu rasanya deg-degan. Beneran. Baru sepuluh menit aja udah banyak banget yang ikutan dan pemenang yang diambil cuma satu, sampai pada akhirnya waktu itu aku pernah ikutan dan menang, dapet buku deh. Itu juga rasanya yang ikutan sepi, keliatan banget kalo saingan beratnya lagi pada nggak ada jadinya aku menang haha.

Ya gitulah pokoknya, sampe sekarang pun aku berterima kasih sama nulisbuku yang udah mau menjadi wadah bagi penulis-penulis pemula seperti kami untuk belajar terus, untuk lebih mencintai bahasa, untuk lebih banyak berkomunikasi dengan seluruh penulis berbakat di Indonesia yang mungkin belum berkesempatan untuk bisa memajang karya mereka di toko buku ternama.
Nah, balik lagi ke pertanyaan di atas, kenapa nggak pernah nulis lagi?

Gimana ya jawabnya, aku juga sebenernya bingung mau jawab pertanyaan itu. Kalo dibilang nggak pernah lagi sih enggak, aku masih nulis sampe 2015 akhir kalo nggak salah. Jadi sebenernya itu lebih karena keadaan sih, di mana aku harus fokus dengan karirku, maksudnya dengan pekerjaanku. Dulu banget, waktu masih menggebu-gebu soal nulis sampe aku nerbitin novel di saat aku juga lagi sibuk-sibuknya kuliah, rasanya aku tuh hidup banget dengan duniaku, menulis. Sampe pada waktu itu aku udah mulai kerja di awal 2015, udah mulai susah bagi waktu.

Waktu masih nganggur di rumah, aku bisa bebas ngerjain tulisanku sampe jam berapapun. Nah ini juga yang udah hilang dari aku, mungkin bakal aku bahas di tulisan khusus lainnya. Tentang semangat yang dulu ada, sampe aku punya kepinginan bukuku ada di Gramedia dan jadi best seller, kemudian difilmkan dan filmnya juga laku keras.

Tapi makin ke sini, tiba-tiba dan memang aku orangnya overthingking gitu kan. Semua hal kecil pun dipikirin, makanya suka sakit kepala gegara kayak gituan. Aku tuh mikir aja, aku tuh pengin punya buku yang menginspirasi, buku yang bermanfaat, nggak cuma sekedar nulis dan laku di pasaran terus dompetku tebel dan bisa beli ini itu.

Ini tuh lebih dari beban moral, bagi aku nulis itu dampaknya luar biasa. Ketika tulisanku disukai banyak orang, kemudian mereka mempedomani isinya, di sanalah amal jariyahku dicatat. Ketika isinya benar-benar bisa menjadi manfaat dan berisi kebaikan, tentulah itu berbalik positif juga kan buat aku. Nah, sementara selama ini tulisanku itu biasanya sesuai dengan tema-tema yang udah ditentuin sama panitia lomba-lomba menulis, yang notabene-nya itu nggak jauh-jauh dari soal “percintaan”.

Entahlah, yang ada di kepalaku itu adalah, aku nggak mau menebar pemikiran yang salah sama pembaca-pembaca tulisanku. Maka dari itu, ada sih beberap lagi draft naskah tulisanku yang pernah aku ikutsertakan dalam lomba nulis itu sampe sekarang aku simpen aja file-nya. Kok gitu? Ya itu tadi aku nggak mau tulisanku malah membawa banyak hal negatif. Misal nih, bukan maksud buat men-judge penulis-penulis lain ya. Misalnya aku nulis novel soal cinta-cintaan yang isinya tentang cara-cara mempertahankan hubungan LDR, katakanlah memang sesuai, bisa diterapkan. Tapi apakah dibenarkan aku ngasih saran-saran yang begituan, ngajarin anak muda Indonesia buat pacaran dan lain-lain.


Ya gitulah pokoknya, aku tuh pengin kalo tulisanku itu benar-benar ada manfaatnya. Kemarin sempet nulis soal perjuangan seorang guru buat ngajar di sekolah terpencil gitu, itu udah dari tahun 2014 kalo nggak salah sih nulisnya, tapi sampe sekarang belum juga terbit karena belum punya waktu merevisi. Ya, mudah-mudahan nanti bisa balik lagi semangat nulisnya seperti dulu, juga isinya bener-bener bisa dijadiin pedoman buat siapapun yang ngebaca. 



Monday, 25 December 2017

Turns to 24!

Yaps, 24 tahun.

22 Desember 1993-22 Desember 2017. Genap sudah gadis itu berusia 24 tahun, satu tahun lagi menjelang usia krusial bagi wanita kebanyakan. Benarkah?
Bukan soal benar atau tidak, tapi soal pandangan dari mindset masing-masing kepala. Menuju angka 25 itu sebenarnya bukanlah hal yang menakutkan bagi wanita, hanya saja memang faktor biologis yang nantinya akan menentukan untuk keberlansungan keturunan mereka itu yang perlu dipikirkan.

Kaum Adam mungkin banyak yang berpendapat kalau usia 25 itu masih muda untuk takaran seorang wanita segera menyandang gelar istri, apalagi kalau si wanita punya hormon yang sehat, atau memang diberi rezeki muka awet muda. Tapi, lagi-lagi bukan soal itu, bukan juga tergesa-gesa, hanya saja menyegerakan itu lebih baik.

By the way, ngomoningin soal ulang tahun, rasanya di mana-mana semua wanita suka dikasih kejutan yang romantis, bukan? Tentu saja, tapi romantis itu tidak melulu soal ngasih kue atau kado (rasanya sudah sering bilang ini). Iya, romantis itu bisa lewat ucapan selamat ulang tahun degan cara spesial, atau diam-diam mengumumkan pada khalayak banyak (socmed) tentang keberadaan orang yang disayang, tidak perlu berlebihan, tapi hal seperti ini kadang melebih segalanya. Membuat seseorang merasa istimewa, merasa ada, dan dunia perlu tahu kalau dia termiliki.

Ya, lagi-lagi isi kepala dan hati kaum Adam dan Hawa itu berbeda, akan selalu begitu. Lalu, apa ketika si kaum Adam tidak begitu peduli dengan segala macam keromantisan itu lantas disimpulkan bahwa rasa sayang mereka tidak seberapa? Tidak, tentu tidak. Hanya saja kadang dalam hidup ini seseorang itu perlu dibuat merasa bangga dan bahagia karena sudah termiliki olehnya. Seketika ada mata lain yang memandang, tentulah dia merasa kuat dan selalu dianggap ada. Ini hanya sudut pandang saja.

Eh satu lagi lah, kadang hal biasa yang dilakukan tanpa bertanya itu lebih membahagiakan daripada spesial tapi setelah diingatkan. Sekian.

Jadi, bagaimana pertambahan usianya? Biasa saja. Seperti sebelumnya.

Sunday, 15 October 2017

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana saja, hanya dengan diberi kabar atau bahkan mendengar suaranya sejenak.

Kamu tahu bagaimana rasanya lelah karena berkutat dengan pekerjaan selama satu minggu penuh, kan? Jadi ketika weekend tiba rasanya ingin tiduran saja di kamar menghabiskan libur.

Tidak, tidak dengan wanita ini. Dia selalu menghitung hari di mana weekend yang dia punya sama dengan weekend orang yang dia sayang. Kenapa? Supaya bisa mendengar suaranya untuk melepas rindu walau sejenak saja.

Iya, waktu memang menjadi pembatas segalanya. Pembatas rindu yang makin hari makin menggebu. Bahkan ketika badannya sedang kurang fit pun dia rela menuntaskan pekerjaan lain di siang hari, supaya ketika malam tiba dia bisa mendengar suara orang yang disayanginya lebih lama. Syukur-syukur bisa memandangi wajahnya lewat layar handphone-nya.

Tapi kenyataan tidak selalu sama dengan yang diharapkan. Ketika dia punya banyak waktu dan perhitungannya benar. Bahwa hari yang dia tunggu ketika dia bisa mendengar suata itu tidaklah sama.

Kadang dia rela meninggalkan segala kegiatan demi menunggui bunyi dari handphone-nya, tapi tetnyata kadang orang yang dia sayang tak selamanya harus menghabiskan waktu untuknya. Dia juga punya kehidupan lain dan punya hak atas dirinya sendiri.

Jadilah kesia-siaan dalam menunggu itu tak jarang membuat matanya sembab, selain menahan kantuk, juga menahan rindu, dan mungkin orang yang dia sayang tidak tahu tentang itu.

Sebut saja itu "tulus".

Saturday, 5 August 2017

Selamat Bertambah Usia

Teruntuk kamu yang bertambah usia hari ini.

Teruntuk kamu yang bertambah usia hari ini, aku masih ingat jelas saat pertama kali kedua pasang mata kita bertemu tatap. Saat pertama kali kamu datang ke rumah sendirian, bertemu Ayah dan Ibu. Kita saat itu bertukar cerita seadanya, tentang pekerjaanmu yang saat itu akan segera kamu tinggalkan karena jerih payahmu akan segera terbalaskan. Juga tentang ceritaku yang juga masih terus berjuang untuk pekerjaan yang lebih baik.

Saat itu, aku sebenarnya malu, sebab baru kamu laki-laki pertama yang berani datang ke rumah sendirian, sementara temanku saja harus membawa teman wanita supaya bisa aman main ke rumah. Saat itu kita ngobrol seseru itu, tidak terlalu canggung meski baru pertama kali. Kamu dengan segala kepercayaan dirimu datang untuk menagih janji untuk makan kue nastar di rumah.

Haha, kue nastar itu hanyalah modus setelah novel pertamaku meluncur ke rumahmu. Walaupun niatmu membelinya hanya untuk menjadi langkah awal kedekatan kita. Iya, aku ingat semuanya. Aku ingat saat pertama kali deguban jantungku terasa berbeda ketika menjemputmu di depan pagar rumah, mengajakmu masuk dan menyuguhimu makanan sederhana di rumah, juga cokelat berbentuk hati itu.

Kamu pun dengan gagahnya masuk, tidak terlihat kecemasan dari raut wajahmu. Saat itu aku kaget sungguhan, ternyata aku hanya sebatas pundakmu saja. Selama waktu berjalan di hari pertama kita bertemu itu, aku merasa ada yang berbeda dari sorot matamu, ketulusan.

Saat itu, kamu juga menunjukkan KTP milkmu dan mengatakan dengan jelas bahwa kamu lebih muda dariku. Saat itu aku malu sekaligus geli, bisa-bisanya brondong macam kamu berani menggodaku seperti itu, datang ke rumah dengan sok pedenya ngajak ngobrol enteng tanpa terlihat kecemasan sedikitpun.

Sejak itu, aku menjadi lebih tertarik padamu, ditambah lagi informasi tentang kamu yang selalu ditransfer temanmu untukku. Sampai pada akhirnya aku menemukan satu titik yang membuatku mencoba untuk membuka hati kembali, untuk kamu.

Proses itu kita jalani bersama, kita lewati dengan tidak begitu mudah. Banyak ranjau dan halang merintangi kesemuanya. Diawali dari memantapkan hati untuk bersama dengan visi dan misi yang sama, kemudian diterjang ombak yang cukup besar di awal perjalanan, kemudian ombak lagi di pertengahan sampai pada saat itu mungkin kamu mulai lelah dengan ombak-ombak yang mungkin aku ciptakan sendiri dan sampai pada detik ini, akhirnya kita berhasil melewati banyak ombak yang menghalang karena sama-sama masih memiliki visi dan misi yang juga sama.

Teruntuk kamu, laki-laki yang paling bisa membuatku rindu sepanjang waktu, laki-laki yang selalu bisa membuatku gagal untuk diam bisu saat hati entah kenapa merasa kesal padamu, laki-laki yang tidak ingin banyak berjanji tapi selalu berusaha mencukupi, laki-laki yang selalu berhasil membuat titik air mata tumpah karena lelahmu yang tak pernah kau ucap, laki-laki yang tak pernah hilang barang sedetik pun dari ingatan, kamu tentulah tahu seberapa besar perasaan ini terjaga selama dua kali pertambahan usiamu ini.

Sayang, tetaplah seperti ini, menjadi laki-laki yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam otakku untuk mencari penggantimu di kemudian hari.

Sayang, tetaplah menjadi tempat ternyaman, meski waktumu tak banyak untuk bisa kamu bagi karena banyak yang harus kamu penuhi.

Sayang, tidak ada sesuatu yang istimewa yang bisa kuberikan selain kesetiaan yang mungkin tidak begitu terlihat saat ini.

Sayang, semoga kelak dengan semakin dewasanya kamu, maka semakin bermanfaat pula bagi keluarga dan orang-orang yang kamu sayangi.

Sayang, tidak akan ada paksaan dalam hubungan ini. Jika aku sebagai pihak yang menunggu dan kamu pihak yang ditunggu, tentulah tidak ada lagi pertanyaan setelah ini, cukup dengan menunggu tibanya waktu itu.

Sayang, tidak ada hari paling bahagia kecuali tidak ada lagi jarak bagi kita berdua.

Selamat bertambah usia, lelakiku.


Wednesday, 26 July 2017

Cari yang Sepadan


Tahukah kalian arti kata sepadan versi KBBI online adalah:
sepadan (dengan)/se·pa·dan (dengan)/ a mempunyai nilai (ukuran, arti, efek, dan sebagainya) yang sama; sebanding (dengan); seimbang (dengan); berpatutan (dengan).
Terkait dengan kata sepadan ini, tentulah banyak hal yang perlu kita lakuin dan pilih itu sepadan. Contoh, sejak dulu aku tuh punya kepengenan punya calon pendamping hidup a.k.a suami itu yang sepadan. Sepadan dalam artian selaras. Mulai dari gaya hidup, sudut pandang, visi, misi dan lain-lain. Kenapa mesti gitu? Aku pernah nggak sengaja liat video ustad apa gitu ceramah soal mencari pasangan itu hendaklah yang sepadan. Misalnya, kita kepengen dapet suami atau istri yang solehah ya tentulah kita harus seperti kriteria itu terlebih dahulu. Kalo seandainya kita kepengen dapet suami atau istri yang rajin ibadah, baik wajib maupun sunah ya kita mesti gitu juga. Kalo nggak sepadan, risikonya berat. Misal punya suami yang rajin qiyamul lail (solat tahajjud), tapi kitanya sendiri nggak gitu. Ketika si suami bangunin buat solat tahajjud bareng, itu pasti rasanya berat. Nah, di situ letak sepadan itu mesti diterapkan.
Dari sisi materi atau ekonomi, ketika ada ketimpangan, nggak jarang rumah tangga itu bakal sulit dijalani. Makanya dari dulu aku tuh kepengen banget punya suami yang dia dan keluarganya itu nggak terlalu mengutamakan urusan dunia. Punya mertua yang gaul dan ngerti banget dunia kekinian itu rasanya momok banget buat aku. Aku pengen punya mertua itu yang kayak ibuku sendiri, yang sederhana dan nggak neko-neko, biar nyaman meski nanti tinggal bareng. Nggak melulu ngeliat dari kacamata dunia doang.
Terus, aku juga kepengan punya suami itu yang ilmunya sepadan, sama-sama mau belajar kalo sekarang ilmunya masih cetek, syukur-syukur dapet suami yang bisa ngasih ilmu lebih banyak, tambahan bekal buat anak-anak kami kelak. Selain itu, aku juga seneng banget kalo dalam hubungan itu si pasangan mau menghargai dan melihat sisi positif lebih banyak (meski kadang aku juga suka negatif sih, maklum lah kalo cewek kan perasa).
Contoh, dalam kondisi aku drop karena urusan kerjaan dan lain-lain, dia tu selalu ngasih semacam suplemen yang bikin aku tadinya minder, males, nggak pede dan lain-lain itu jadi lebih semangat. Ketika dunia rasanya nggak nganggep aku ada, dia ada buat ngasih tahu kalo aku itu berharga, misalnya ketika aku lagi ngerasa drop karena dituntut ini itu dalam kerjaan. Dia bakal nenangin gini:
“Kamu tuh hebat, makanya kamu disuruh ini itu.”
Atau ketika aku gagal menjalani sesuatu, dia bakal bilang:
“Tenang, aku yakin kamu tuh mampu. Kamu pasti bisa.”
Atau aku yang juga selalu ngaggep dia itu yang paling hebat, misalnya dia bilang:
“Ah, apalah aku ini cuma kerja di sini.”
Aku pasti jawab: “Kamu tuh hebat, nggak semua orang bisa kerja di tempatmu.”
Atau “Kamu tuh memang yang terbaik, nggak pernah berubah meski udah dikasih kelebihan kayak gini.”
Menurutku, kesepadanan perlakuan itu adalah penting. Ketika kita memilih calon pasangan hidup yang sepadan, mulai dari pemikiran, tabiat, perlakuan, dan segala yang mencakup aspek kehidupan itu harus dipertimbangkan. Ketika kita sudah menemukan yang sepadan dan selaras dengan segala tujuan hidup dan kebiasaan, mudah-mudahan nggak akan ada yang namanya kekurangan, baik dari segi dunia maupun akhirat.

Sejauh ini aku bersyukur, Allah sudah dengan sangat baiknya ngasih kondisi gini dilengkapi dengan dia yang kuanggap sepadan. Mudah-mudahan di kehidupan di kemudian hari kesepadanan itu membuahkan hasil yang baik untuk semua pihak.