Yaps, 24 tahun.
22 Desember 1993-22 Desember 2017. Genap sudah gadis itu berusia 24 tahun, satu tahun lagi menjelang usia krusial bagi wanita kebanyakan. Benarkah?
Bukan soal benar atau tidak, tapi soal pandangan dari mindset masing-masing kepala. Menuju angka 25 itu sebenarnya bukanlah hal yang menakutkan bagi wanita, hanya saja memang faktor biologis yang nantinya akan menentukan untuk keberlansungan keturunan mereka itu yang perlu dipikirkan.
Kaum Adam mungkin banyak yang berpendapat kalau usia 25 itu masih muda untuk takaran seorang wanita segera menyandang gelar istri, apalagi kalau si wanita punya hormon yang sehat, atau memang diberi rezeki muka awet muda. Tapi, lagi-lagi bukan soal itu, bukan juga tergesa-gesa, hanya saja menyegerakan itu lebih baik.
By the way, ngomoningin soal ulang tahun, rasanya di mana-mana semua wanita suka dikasih kejutan yang romantis, bukan? Tentu saja, tapi romantis itu tidak melulu soal ngasih kue atau kado (rasanya sudah sering bilang ini). Iya, romantis itu bisa lewat ucapan selamat ulang tahun degan cara spesial, atau diam-diam mengumumkan pada khalayak banyak (socmed) tentang keberadaan orang yang disayang, tidak perlu berlebihan, tapi hal seperti ini kadang melebih segalanya. Membuat seseorang merasa istimewa, merasa ada, dan dunia perlu tahu kalau dia termiliki.
Ya, lagi-lagi isi kepala dan hati kaum Adam dan Hawa itu berbeda, akan selalu begitu. Lalu, apa ketika si kaum Adam tidak begitu peduli dengan segala macam keromantisan itu lantas disimpulkan bahwa rasa sayang mereka tidak seberapa? Tidak, tentu tidak. Hanya saja kadang dalam hidup ini seseorang itu perlu dibuat merasa bangga dan bahagia karena sudah termiliki olehnya. Seketika ada mata lain yang memandang, tentulah dia merasa kuat dan selalu dianggap ada. Ini hanya sudut pandang saja.
Eh satu lagi lah, kadang hal biasa yang dilakukan tanpa bertanya itu lebih membahagiakan daripada spesial tapi setelah diingatkan. Sekian.
Jadi, bagaimana pertambahan usianya? Biasa saja. Seperti sebelumnya.
Monday, 25 December 2017
Sunday, 15 October 2017
Bahagia itu Sederhana
Bahagia itu sederhana saja, hanya dengan diberi kabar atau bahkan mendengar suaranya sejenak.
Kamu tahu bagaimana rasanya lelah karena berkutat dengan pekerjaan selama satu minggu penuh, kan? Jadi ketika weekend tiba rasanya ingin tiduran saja di kamar menghabiskan libur.
Tidak, tidak dengan wanita ini. Dia selalu menghitung hari di mana weekend yang dia punya sama dengan weekend orang yang dia sayang. Kenapa? Supaya bisa mendengar suaranya untuk melepas rindu walau sejenak saja.
Iya, waktu memang menjadi pembatas segalanya. Pembatas rindu yang makin hari makin menggebu. Bahkan ketika badannya sedang kurang fit pun dia rela menuntaskan pekerjaan lain di siang hari, supaya ketika malam tiba dia bisa mendengar suara orang yang disayanginya lebih lama. Syukur-syukur bisa memandangi wajahnya lewat layar handphone-nya.
Tapi kenyataan tidak selalu sama dengan yang diharapkan. Ketika dia punya banyak waktu dan perhitungannya benar. Bahwa hari yang dia tunggu ketika dia bisa mendengar suata itu tidaklah sama.
Kadang dia rela meninggalkan segala kegiatan demi menunggui bunyi dari handphone-nya, tapi tetnyata kadang orang yang dia sayang tak selamanya harus menghabiskan waktu untuknya. Dia juga punya kehidupan lain dan punya hak atas dirinya sendiri.
Jadilah kesia-siaan dalam menunggu itu tak jarang membuat matanya sembab, selain menahan kantuk, juga menahan rindu, dan mungkin orang yang dia sayang tidak tahu tentang itu.
Sebut saja itu "tulus".
Kamu tahu bagaimana rasanya lelah karena berkutat dengan pekerjaan selama satu minggu penuh, kan? Jadi ketika weekend tiba rasanya ingin tiduran saja di kamar menghabiskan libur.
Tidak, tidak dengan wanita ini. Dia selalu menghitung hari di mana weekend yang dia punya sama dengan weekend orang yang dia sayang. Kenapa? Supaya bisa mendengar suaranya untuk melepas rindu walau sejenak saja.
Iya, waktu memang menjadi pembatas segalanya. Pembatas rindu yang makin hari makin menggebu. Bahkan ketika badannya sedang kurang fit pun dia rela menuntaskan pekerjaan lain di siang hari, supaya ketika malam tiba dia bisa mendengar suara orang yang disayanginya lebih lama. Syukur-syukur bisa memandangi wajahnya lewat layar handphone-nya.
Tapi kenyataan tidak selalu sama dengan yang diharapkan. Ketika dia punya banyak waktu dan perhitungannya benar. Bahwa hari yang dia tunggu ketika dia bisa mendengar suata itu tidaklah sama.
Kadang dia rela meninggalkan segala kegiatan demi menunggui bunyi dari handphone-nya, tapi tetnyata kadang orang yang dia sayang tak selamanya harus menghabiskan waktu untuknya. Dia juga punya kehidupan lain dan punya hak atas dirinya sendiri.
Jadilah kesia-siaan dalam menunggu itu tak jarang membuat matanya sembab, selain menahan kantuk, juga menahan rindu, dan mungkin orang yang dia sayang tidak tahu tentang itu.
Sebut saja itu "tulus".
Saturday, 5 August 2017
Selamat Bertambah Usia
Teruntuk kamu yang bertambah usia hari
ini.
Teruntuk kamu yang bertambah usia hari
ini, aku masih ingat jelas saat pertama kali kedua pasang mata kita bertemu
tatap. Saat pertama kali kamu datang ke rumah sendirian, bertemu Ayah dan Ibu.
Kita saat itu bertukar cerita seadanya, tentang pekerjaanmu yang saat itu akan
segera kamu tinggalkan karena jerih payahmu akan segera terbalaskan. Juga
tentang ceritaku yang juga masih terus berjuang untuk pekerjaan yang lebih
baik.
Saat itu, aku sebenarnya malu, sebab
baru kamu laki-laki pertama yang berani datang ke rumah sendirian, sementara
temanku saja harus membawa teman wanita supaya bisa aman main ke rumah. Saat
itu kita ngobrol seseru itu, tidak terlalu canggung meski baru pertama kali.
Kamu dengan segala kepercayaan dirimu datang untuk menagih janji untuk makan
kue nastar di rumah.
Haha, kue nastar itu hanyalah modus
setelah novel pertamaku meluncur ke rumahmu. Walaupun niatmu membelinya hanya
untuk menjadi langkah awal kedekatan kita. Iya, aku ingat semuanya. Aku ingat
saat pertama kali deguban jantungku terasa berbeda ketika menjemputmu di depan
pagar rumah, mengajakmu masuk dan menyuguhimu makanan sederhana di rumah, juga
cokelat berbentuk hati itu.
Kamu pun dengan gagahnya masuk, tidak
terlihat kecemasan dari raut wajahmu. Saat itu aku kaget sungguhan, ternyata
aku hanya sebatas pundakmu saja. Selama waktu berjalan di hari pertama kita
bertemu itu, aku merasa ada yang berbeda dari sorot matamu, ketulusan.
Saat itu, kamu juga menunjukkan KTP
milkmu dan mengatakan dengan jelas bahwa kamu lebih muda dariku. Saat itu aku
malu sekaligus geli, bisa-bisanya brondong macam kamu berani menggodaku seperti
itu, datang ke rumah dengan sok pedenya ngajak ngobrol enteng tanpa terlihat
kecemasan sedikitpun.
Sejak itu, aku menjadi lebih tertarik
padamu, ditambah lagi informasi tentang kamu yang selalu ditransfer temanmu
untukku. Sampai pada akhirnya aku menemukan satu titik yang membuatku mencoba
untuk membuka hati kembali, untuk kamu.
Proses itu kita jalani bersama, kita
lewati dengan tidak begitu mudah. Banyak ranjau dan halang merintangi
kesemuanya. Diawali dari memantapkan hati untuk bersama dengan visi dan misi
yang sama, kemudian diterjang ombak yang cukup besar di awal perjalanan,
kemudian ombak lagi di pertengahan sampai pada saat itu mungkin kamu mulai
lelah dengan ombak-ombak yang mungkin aku ciptakan sendiri dan sampai pada
detik ini, akhirnya kita berhasil melewati banyak ombak yang menghalang karena
sama-sama masih memiliki visi dan misi yang juga sama.
Teruntuk kamu, laki-laki yang paling
bisa membuatku rindu sepanjang waktu, laki-laki yang selalu bisa membuatku
gagal untuk diam bisu saat hati entah kenapa merasa kesal padamu, laki-laki
yang tidak ingin banyak berjanji tapi selalu berusaha mencukupi, laki-laki yang
selalu berhasil membuat titik air mata tumpah karena lelahmu yang tak pernah
kau ucap, laki-laki yang tak pernah hilang barang sedetik pun dari ingatan,
kamu tentulah tahu seberapa besar perasaan ini terjaga selama dua kali
pertambahan usiamu ini.
Sayang, tetaplah seperti ini, menjadi
laki-laki yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam otakku untuk mencari
penggantimu di kemudian hari.
Sayang, tetaplah menjadi tempat
ternyaman, meski waktumu tak banyak untuk bisa kamu bagi karena banyak yang
harus kamu penuhi.
Sayang, tidak ada sesuatu yang
istimewa yang bisa kuberikan selain kesetiaan yang mungkin tidak begitu
terlihat saat ini.
Sayang, semoga kelak dengan semakin
dewasanya kamu, maka semakin bermanfaat pula bagi keluarga dan orang-orang yang
kamu sayangi.
Sayang, tidak akan ada paksaan dalam
hubungan ini. Jika aku sebagai pihak yang menunggu dan kamu pihak yang
ditunggu, tentulah tidak ada lagi pertanyaan setelah ini, cukup dengan menunggu
tibanya waktu itu.
Sayang, tidak ada hari paling bahagia
kecuali tidak ada lagi jarak bagi kita berdua.
Selamat bertambah usia, lelakiku.
Wednesday, 26 July 2017
Cari yang Sepadan
Tahukah kalian
arti kata sepadan versi KBBI online adalah:
sepadan (dengan)/se·pa·dan (dengan)/ a mempunyai nilai (ukuran, arti, efek, dan sebagainya)
yang sama; sebanding (dengan); seimbang (dengan); berpatutan (dengan).
Terkait dengan kata sepadan ini, tentulah banyak
hal yang perlu kita lakuin dan pilih itu sepadan. Contoh, sejak dulu aku tuh
punya kepengenan punya calon pendamping hidup a.k.a suami itu yang sepadan.
Sepadan dalam artian selaras. Mulai dari gaya hidup, sudut pandang, visi, misi
dan lain-lain. Kenapa mesti gitu? Aku pernah nggak sengaja liat video ustad apa
gitu ceramah soal mencari pasangan itu hendaklah yang sepadan. Misalnya, kita
kepengen dapet suami atau istri yang solehah ya tentulah kita harus seperti
kriteria itu terlebih dahulu. Kalo seandainya kita kepengen dapet suami atau
istri yang rajin ibadah, baik wajib maupun sunah ya kita mesti gitu juga. Kalo
nggak sepadan, risikonya berat. Misal punya suami yang rajin qiyamul lail (solat tahajjud), tapi
kitanya sendiri nggak gitu. Ketika si suami bangunin buat solat tahajjud bareng, itu pasti rasanya berat. Nah, di situ letak sepadan itu mesti diterapkan.
Dari sisi materi atau ekonomi, ketika ada
ketimpangan, nggak jarang rumah tangga itu bakal sulit dijalani. Makanya dari
dulu aku tuh kepengen banget punya suami yang dia dan keluarganya itu nggak
terlalu mengutamakan urusan dunia. Punya mertua yang gaul dan ngerti banget
dunia kekinian itu rasanya momok banget buat aku. Aku pengen punya mertua itu
yang kayak ibuku sendiri, yang sederhana dan nggak neko-neko, biar nyaman meski
nanti tinggal bareng. Nggak melulu ngeliat dari kacamata dunia doang.
Terus, aku juga kepengan punya suami itu yang
ilmunya sepadan, sama-sama mau belajar kalo sekarang ilmunya masih cetek,
syukur-syukur dapet suami yang bisa ngasih ilmu lebih banyak, tambahan bekal
buat anak-anak kami kelak. Selain itu, aku juga seneng banget kalo dalam
hubungan itu si pasangan mau menghargai dan melihat sisi positif lebih banyak
(meski kadang aku juga suka negatif sih, maklum lah kalo cewek kan perasa).
Contoh, dalam kondisi aku drop karena urusan
kerjaan dan lain-lain, dia tu selalu ngasih semacam suplemen yang bikin aku
tadinya minder, males, nggak pede dan lain-lain itu jadi lebih semangat. Ketika
dunia rasanya nggak nganggep aku ada, dia ada buat ngasih tahu kalo aku itu berharga,
misalnya ketika aku lagi ngerasa drop karena dituntut ini itu dalam kerjaan.
Dia bakal nenangin gini:
“Kamu tuh hebat, makanya kamu disuruh ini itu.”
Atau ketika aku gagal menjalani sesuatu, dia
bakal bilang:
“Tenang, aku yakin kamu tuh mampu. Kamu pasti
bisa.”
Atau aku yang juga selalu ngaggep dia itu yang
paling hebat, misalnya dia bilang:
“Ah, apalah aku ini cuma kerja di sini.”
Aku pasti jawab: “Kamu tuh hebat, nggak semua
orang bisa kerja di tempatmu.”
Atau “Kamu tuh memang yang terbaik, nggak pernah
berubah meski udah dikasih kelebihan kayak gini.”
Menurutku, kesepadanan perlakuan itu adalah
penting. Ketika kita memilih calon pasangan hidup yang sepadan, mulai dari
pemikiran, tabiat, perlakuan, dan segala yang mencakup aspek kehidupan itu
harus dipertimbangkan. Ketika kita sudah menemukan yang sepadan dan selaras
dengan segala tujuan hidup dan kebiasaan, mudah-mudahan nggak akan ada yang
namanya kekurangan, baik dari segi dunia maupun akhirat.
Sejauh ini aku bersyukur, Allah sudah dengan
sangat baiknya ngasih kondisi gini dilengkapi dengan dia yang kuanggap sepadan.
Mudah-mudahan di kehidupan di kemudian hari kesepadanan itu membuahkan hasil
yang baik untuk semua pihak.
Never Underestimate People!
Pernah nggak sih kalian tuh
ngalamin yang namanya perpeloncoan dalam dunia kerja, komunitas atau apapun?
Perpeloncoan maksud aku itu adalah, keadaan di mana kamu dipandang sebelah mata
sama siapapun mereka yang posisi atau kemampuannya mereka anggap lebih dari
kamu? Misalnya nih, ada tugas yang mesti kamu kerjain yang pada kenyataannya kamu
tuh belum punya basic-nya sama
sekali. Ex: kamu orang non teknik yang diminta ngerjain laporan orang lapangan,
soal jaringan, pembangunan dll? Tahu kan gimana rasanya, sementara kita orang
baru mesti manut sama apapun perintah yang dikasih. Ada dua macam alasan di
balik ini, yang pertama karena kita dipercaya mampu buat ngerjainnya, yang
kedua adalah uji coba mental, apakah kita sanggup kalo dikasih tugas yang di
luar main basic kita.
Kadang, dunia kerja nggak seindah
ngebayangin seberapa gede gajinya doang, tapi juga nggak seburuk yang dipikirin.
Lagi-lagi aku merenung, belum juga lulus ujian dan diangkat jadi pegawai tetap
kok aku banyak banget dikasih tantangan a.k.a cobaan, tapi di satu sisi rasanya
itu berkah dan kesempatan yang nggak semua orang bisa dapet itu. Mulai dari
awal OJT aku tuh nyoba buat nerima segala sesuatu yang aku anggap sebagai
tambahan ilmu.
Aku diminta untuk tampil,
memperkenalkan diri di depan semua pegawai. Kemudian selang beberapa waktu aku
udah diajak diklat yang bidangnya nggak seharusnya aku pegang, setelah diklat
udah diajak lembur ngerjain laporan triwulan untuk pencapaian kinerja
perusahaan yang berhubungan dengan pengembangan karir pegawai. Di saat itulah
aku merasa Allah tuh punya rencana besar di balik semua ini. Dari semua teman
seangkatan itu, di kelasku cuma aku yang dikasih lintas bidang. Merasa nggak
adil? Pernah dong. Merasa kok aku cobaannya berat banget ya, tapi di satu sisi
kok aku malah dikasih posisi yang aman.
Aman dalam artian, di saat
teman-temanku yang lain dikasih penempatan sesuai dengan bidang itu harus rela
lembur tiap malem karena ngurusin tunggakan pelanggan. Rata-rata mereka
ditempatin di Rayon (layer 3),
sementara aku ditempatin di Area (layer 2),
satu tingkat di bawah wilayah dan di bagian SDM, yang artinya aku harus
mengkoordinir semua data dan keperluan pegawai baik yang ada di Area maupun
rayon yang bernaung di bawahnya. Awalnya memang kupikir nyantai aja, toh nggak
berhubungan dengan data Niaga atau Keuangan yang ngejelimet, tapi ternyata
pemikiran itu salah. Semua pekerjaan itu punya tingkat kesulitan masing-masing.
Rasanya aku kadang kurang setuju
kalo ada yang bilang gini: “Mbak, background
pendidikannya apa? Kok di SDM, sayang banget nanti nggak bisa berkarir, mending
di Keuangan.”
Pendapat gitu
udah banyak banget aku denger, padahal asal mereka tahu kerjaan orang SDM itu
nggak segampang menurut mereka, yang cuma ngurusin data pegawai, input ini itu
doang. Bagian SDM juga punya KPI (Key
Performance Indicator) yang kalo menurutku cukup sulit. Bayangin coba,
bagian SDM itu sesi paling sibuk ngurusin karir orang lain. Setiap pegawai
mesti dimonitoring karirnya dan diupayakan untuk tindak lanjut dari posisi
mereka, nah yang sulit itu dan menjadi tantangan bagian SDM adalah untuk
menumbuhkan rasa kesadaran diri pegawai bahwasanya apa yang diminta bagian SDM
untuk dikerjain maupun dikumpulin itu adalah semata-mata untuk kebaikan karir
mereka ke depan. Itu, yang sulit itu bikin orang nyadar. Bikin orang nggak
males-malesan buat maju, bukan cuma buat perusahaan doang, tapi lebih ke
kebaikan si individu sendiri.
Setelah mulai
memahami tugas penting SDM, aku pun mulai dikasih tanggung jawab untuk ngerjain
laporan Keuangan, yang meliputi pembayaran tagihan investasi dan operasi. Nah
di sini letak never underestimate people
itu. Tahu kan di mana-mana yang namanya Keuangan itu ya bikin pusing kan ya.
Belum juga apa-apa aku udah diajakin rapat penyerapan anggaran investasi dan
operasi, dengan posisi masih siswa prajabatan (belum pegawai sah).
Di satu sisi
sebenarnya aku udah nggak kaget lagi soal Keuangan karena udah pernah berurusan
sama Keuangan di swasta itu hampir dua tahun, ketemu sama yang namanya angka,
SPK, RAB, pembayaran upah, dll itu udah biasa. Cuma ya bedanya itu, kerja di
swasta yang nggak punya banyak cabang perusahaan itu ya laporannya nggak
terpusat dan aplikasi yang dipake pun cuma untuk internal, tapi sedikit apapun
ilmu yang dipelajari tetaplah bermanfaat kan.
Nah, aku tuh
selalu inget omongan ayahku: “Tidak apa-apa kita dibilang bodoh, tapi kita
sebenarnya punya kemampuan. Mending kita terlihat lemah di awal, tapi akhirnya
potensi kita yang membuktikan.”
So, aku beneran pegang teguh pesan itu.
Biarin dianggep bodoh, biarin dianggep nggak tahu apa-apa, biarin dianggep
ilmunya cetek, yang penting pada akhirnya yang ngerasain manfaatnya adalah diri
sendiri. Ketika sebenernya kita mampu dan kemudian dianggap remeh, pada
akhirnya kemampuan itu akan semakin bertambah kalo kita mau sedikit bersabar
dan ikhlas nerima segala macam bentuk perlakuan orang lain.
Jadi, jangan
pernah underestimate ke orang lain,
karena sekecil apapun ilmu yang mereka punya itu akan jauh lebih baik ketika
mereka mencoba diam lalu berusaha memperbaiki dan menambahnya, ketimbang ilmu
yang banyak tapi sering meremehkan, menanggap diri paling banyak pengetahuan
dan nggak pernah salah. Siapa tahu orang yang kita anggap kecil itu akan jauh
lebih besar di kemudian hari. Keep your attitude
and be humble person, dude!
Tuesday, 25 July 2017
Menemukan Tujuan Hidup (Kembali)
Beberapa bulan ini, selepas
menempuh pendidikan yang panjang dan cukup rumit, aku merasa seperti kehilangan
tujuan hidup gitu. Entahlah, semacam bingung dengan keinginan sendiri.
Misalnya, sebelum diterima kerja di PLN ini, rasanya menggebu-gebu sekali supaya
bisa lulus dengan dua kali kegagalan sebelumnya. Dulu itu, sebelum tes aku nyiapin
diri semaksimal mungkin, mulai dari belajar ulang tentang psikotes (walaupun
sebenarnya aku udah hatam soal-soalnya, orang udah dua kali tes dari tahap GAT
sampai ke Psikotes soalnya itu-itu aja). Pelajaran buat kalian yang mungkin
perlu, selama tiga kali aku ikut tesnya, soal Bahasa Inggris dan Akademik yang
dikeluarin selalu sama. Soal Bahasa Inggris itu tentang pembangkit, tentang
pipa-pipa, proses penyaluran energi listrik dari pembangkit gitu. Cuma ya itu kosakatanya memang yang jarang dipake di soal-soal biasa. Terus kalo
soal akademik bagian niaga atau manajemen itu banyak masuk soal Manajemen Produksi.
Selain itu, aku juga nyiapin
kesehatan jiwa dan raga karena dua kali gagal, itu di tahap kesehatan fisik dan
laboratorium. Semenjak itu, aku lebih menguatkan lagi niat dan usaha untuk
mencapai target yang aku mau. Aku harus lulus kerja di BUMN sebelum usia 25
tahun (batas akhir bisa apply ke
BUMN). Dari dulu aku selalu pasang target dengan misi-misi rinci yang harus
dikerjain, selain itu juga aku kasih progres dari setiap pencapaian target yang
sudah kubuat. Mulailah dinding-dinding kamar dipenuhi dengan kertas-kertas
berisi tabel-tabel target.
Kebiasaan itu berjalan sampe sekarang. Menjadi anak rantauan yang diharuskan lulus segala macam ujian supaya
bisa jadi pegawai tetap itu gampang-gampang susah. Susahnya itu ya kalo
semangat udah mulai pudar, udah mulai ngerasa capek dan bosen. Rasanya kok
prosesnya susah banget, mau jadi pegawai gini amat, padahal tesnya aja udah
susah, mau jadi pegawai malah lebih susah.
Jadi, angkatan aku ini bisa
dibilang angkatan percobaan. Gimana maksudnya percobaan? Ya kita dijadiin sebagai bahan evaluasi untuk angkatan sebelumnya. Gini, sebelum kita diangkat
jadi pegawai tetap, kita harus memnuhi beberapa syarat:
Pertama, lulus pendidikan militer.
Aku dan teman-teman seangkatan harus, kudu, wajib melewati yang
namanya masa Kesamaptaan, yaitu Program Pembelajaran Bela Negara/Fisik dan
Karakter. Waktu itu kami pendidikan di Pusat Pendidikan Polisi Militer
(Pusdikpom) di Cimahi selama 10 hari. Rasanya aku udah pernah cerita soal ini,
bisa scroll aja ke tulisan-tulisan
sebelumnya hehe.
Kedua, lulus pembidangan.
Jadi, setelah selesai pendidikan militer di Cimahi, kami diangkut ke
Depok, tepatnya di Kinasih Resort and Outbond. Kami yang berstatus siswa
prajabatan ini harusnya belajar atau melewati masa pembidangan itu di Udiklat,
waktu itu yang menaungi kami adalah Udiklat Bogor. Berhubung angkatan kami
jumlahnya banyak, kurang lebih 800 siswa D3 dan S1, maka kami yang datangnya
lebih akhir dari anak S1 harus belajar di Kinasih. Di tahap pembidangan ini,
kami dibagi menjadi beberapa kelas sesuai dengan bidang yang kami apply di awal kemarin. Aku waktu itu
milih Niaga karena aku lulusan Administrasi Bisnis.
Nah, selama pembidangan dua bulan itu, aku dan teman-teman belajar
dari jam 7 pagi sampe jam 5 sore. Itu pun udah mulai sarapan jam 6 pagi. Pokoknya
kegiatan padet deh, belajar seharian banget. Untungnya, selama pembidangan,
anak Niaga tuh cuma beberapa kali dikasih tugas yang mengharuskan kami belajar sempe
jam 10 malem (batas aktifitas siswa, selanjutnya ya tidur), barang siapa yang
ketahuan masih melakukan aktifitas di kamar ya siap-siap aja disidak panitia,
pokonya no handphone, no more nonton
drakor, apalagi menggalau. Pokoknya ketat banget.
Materi yang aku dapet itu ya soal tarif tenaga listrik, penertiban
pemakaian tenaga listrik (P2TL), AP2T, P2APST, pokokny segala yang berhubungan
dengan pelanggan PLN deh. Kalo dibilang menguasai teori ya nggak mungkin
semuanya aku bisa, tapi seenggaknya itu bakalan didapet banget kalo langsung
praktek kan ya dan aku memang tipe yang suka ngomong, jadi seneng banget kalo
bisa ketemu pelanggan, melayani kebutuhan listrik mereka kan, sekalian ibadah.
Ketiga, lulus OJT.
Nah, ini tahap yang paling berat. Di sini lah letak angkatanku
kubilang jadi angkatan percobaan. Jadi, semenjak angkatan 54 kalo nggak salah
(aku angkatan 57), itu OJT udah nggak berkelompok lagi, sekarang semua
sendiri-sendiri. Nah, kalo dulu OJT berkelompok dan laporan yang harus dibuat
adalah PA (Project Assignment) dan
STO (Science Technology). Mereka juga
OJT bukan berbasis penempatan, temenku satu kelompok berisi 5 orang, awalnya
OJT di Bengkulu tapi penempatan kerja mereka beda-beda.
Apa yang bikin beda? Selain angkatan kami OJT nya sendiri-sendiri,
kami juga OJT berbasis penempatan. Jadi, kayak aku ini OJT di Distribusi Jawa
Barat, udah pasti aku bakalan penempatan di Jawa Barat. Terus, yang bikin
perjuangan berasa agak lebih berat adalah, di awal pembekalan OJT kami dikasih
arahan kalo yang dikerjain adalah PA dan STO dengan waktu OJT 45 hari kerja
efektif. Bisa kebayang kan stresnya kami, ditambah kabar kalo angkatan
selanjutnya nggak bakal ada PA sama STO lagi. Nah yang bikin mumet lagi adalah
aku dapet penempatan bidang SDM. Bayangiiiiiiiiin dua bulan aku dapet
pembidangan Niaga dengan segala materi yang udah didapet eh ternyata malah
ditempatin di SDM yang seharusnya ditempatin sama anak bidang PAS (Pelaksana Administrasi). Satu lagi, temenku cowok yang bidang PAS malah ditempatin di
Niaga. Cobaan banget.
Jadilah di minggu awal aku nyiapin buat PA tentang daftar tunggu
pelanggan pasang baru. Aku nggak mau salah dong bikin laporan, aku nanya ke
panitia Udiklat apa mesti bikin laporan sesuai bidang atau sesuai proyeksi
jabatan di OJT. Setelah dua minggu berjalan ternyata ada ketidaksesuaian antara
panitia Udiklat dengan SDM Disjabar. Udiklat minta aku buat laporan sesuai
pembidangan, sementara SDM minta aku buat sesuai proyeksi jabatan. Jadilah aku
galau, padahal udah mulai ngerjain laporan niaga.
Dan akhirnya ada evaluasi ulang setelah setengah perjalanan OJT yang
menetapkan kalo kami mesti buat laporan sesuai proyeksi jabatan pertama,
jadilah aku buat tentang SDM yang basic
teorinya aku nggak punya sama sekali dan mesti dibuat laporan.
Nah bedanya lagi, laporan kami nggak jadi dong PA dan STO jadinya
diganti Telaah Staf (TS). Kalo Telaah Staf sebelumnya itu buat anak rekrutan
SMK, tapi ternyata TS kami adalah kombinasi TS anak SMK dan PA anak D3/S1.
Pokoknya sepanjang perjalanan OJT ini banyak banget perubahan sistem yang buat
kami mesti kuat supaya nggak stres.
Nah untuk lulus OJT pun ada syaratnya, nggak asal lulus-lulus aja.
Pertama, kita mesti lulus Ujian Online (Ujo). Ujian ini adalah ujian online yang berisi 50 soal sesuai bidang
yang dipilih. Awalnya dibilang kalo Ujo itu soalnya sesuai proyeksi jabatan
(mampuslah aku yang nggak punya basic
teori bidang PAS sebelumnya kan).
Seiring berjalannya kegiatan OJT, ternyata beberapa hari sebelum itu
kita dikasih form untuk diisi mengenai bidang apa yang harus dipilih, bagi kami
yang lintas bidang ternyata boleh milih bidang apa yang kami kuasai, boleh
sesuai pembidangan atau sesuai proyeksi jabatan. Di situ galauku level atas.
Konsultasi sama mentor juga dia nyerahin ke aku sepenuhnya. Aku bingung, kalo
mau pilih bidang Niaga aku memang punya basic
teori tapi nggak turun langsung ke lapangan kayak teman-teman lain yang suka
pulang malem ngurusin tunggakan pelanggan, tapi kalo aku milih SDM/PAS aku
nggak punya basic-nya tapi udah turun
langsung walau nggak semaksimal anak niaga. Ya susah sih, staf SDM di tempatku
ini udah pada memasuki usia menjelang pensiun dan aku pun jarang megang
langsung kerjaan karena di awal mindset-nya
itu harus fokus ke laporan TS.
Selanjutnya, sistem dari penentuan kelulusan OJT adalah siswa harus
lulus Ujian Online terlebih dulu baru bisa mengikuti ujian akhir. Tibalah waktu
buat Ujo, kami cuma diperbolehkan membuka satu browser di laptop masing-masing dengan pengawasan ketat oleh
panitia. Nah, waktu itu aku bismillah aja milih bidang SDM dengan pemikiran
kalo aku udah turun langsung mudah-mudahan teori bisa ngikut. Pas waktu itu
ternyata soal untuk SDM nggak ada dan aku disuruh ngerjain soal Administrasi.
Tadaaa ternyata soalnya tentang adminstrasi umum yang aku nggak punya bekalnya,
memang ada soal-soal SDM dan aku yakin jawabanku bener. Terus, temen di
sebelahku yang tadinya ketuker sama aku itu terus-terusan minta dikasih tau
jawaban niaga dan aku ya enteng aja ngasih tau karena mikir saling bantu kan
ya, sampe berapa kali ditegur panitia. Tapi, pas aku minta kasih tau dia
ternyata dia udah banyak lupa teorinya. Hm.
Gimana hasilnya? Ya bener aja aku nggak lulus karena kurang 5 jawaban
lagi yang benar, sementara temenku itu lulus. Nggak bisa dan nggak boleh marah
dong, emang udah rezeki orang ya mau gimana lagi. Walaupun sebenernya kecewa
sama diri sendiri sih, kenapa nggak belajar semua teori SDM (ya sebenernya
mustahil, lah wong 2 bulan pembidangan aja belum tentu bisa). Tapi memang hampir
50% angkatan kami tu nggak lulus dan yang lintas bidang paling mendominasi, tapi
tetep aja kepikiran dan bikin drop, terus udah males aja sampe sekarang. Semacam
udah muak ngurusin OJT ginian, kayak susah baget jadi pegawai padahal udah
lewatin banyak tahap yang nggak mudah.
Tahu konsekuensinya apa? Kita mesti nambah hari OJT selama 20 hari
efektif kerja, begitu seterusnya kalo nggak lulus lagi, dikasih kesempatan 3
kali Ujo dengan penambahan hari OJT 20 hari setiap kegagalan. Bagi yang 3 kali
nggak lulus, bakalan dikasih tugas khusus dari Pusdiklat. Bagi teman-teman yang
lulus Ujo kemarin dibolehin ikut Ujian Akhir dan mereka udah pada lulus
beberapa hari yang lalu diumumin.
Bukan ngiri sama rezeki orang sih, toh juga SK nya bakal keluar
bareng-bareng satu angkatan. Cuma kadang aku merenung dan memang suka merenungi
segala sesuatu yang terjadi, kenapa sih aku mesti dapet lintas bidang sampe
buat aku nggak lulus? Dan sekarang aku bakalan ditempatin di bagian Keuangan
karena udah banyak yang rotasi jadi aku kebagian diminta di Keuangan dan mesti
bisa back up SDM. Kadang aku mikir, ini
tuh cobaan atau berkah, sih?
Di satu sisi rasanya berat, otakku nggak secerdas Einstein. Belumlah
juga lulus ujian udah disuruh ngerjain laporan pembayaran keuangan dan masih
nge-back up bagian SDM. Ngeluh si
sering, sampe si doi (sebut saja doi ya) bilang kalo aku tuh nggak boleh gini
setiap kali aku curhat kalo aku berasa udah capek, berasa udah nggak sesemangat
yang dulu, berasa udah males, berasa nggak tahu persis tujuan hidup. Padahal
sebelumnya aku tuh tipe manusia yang punya banyak planning dengan semangat menggebu. Tapi ya itu, kadang kondisi
mendadak ngerubah kita jadi manusia yang bukan kita sesungguhnya.
Jadi semenjak nggak lulus itu aku jadi makin males, males buat belajar
teori-teori yang sebarek-abrek. Udah jenuh aja ngurusin laporan udah
berbulan-bulan gitu. Ditambah lagi di kantor udah disuap buat ngerjain laporan
keuangan. Bayangin aja coba, aku pembidangan Niaga, OJT di SDM, Ujo
Administrasi dan sekarang mesti di Keuangan. Cobaan kan? Orang Keuangan itu
sering pulang malem karena tuntutan deadline.
Di awal aku mikir kok aku ditempatin di SDM, yang kata orang kalo mau
berkarir tuh agak susah karena di PLN ini yang sukses itu yang paham proses
bisnis, sementara orang SDM itu cuma ngurusin pegawai, nggak bakal tahu soal tarif
dan lain-lain. Awalnya sih ngambil hikmahnya ya mikirnya kerjaan SDM itu
nyantai, nggak perlu pulang malem ngejerin laporan dan dampaknya nanti kalo
udah nikah seenggaknya pas suami lagi di rumah aku bisa pulang cepet buat
masakin dia makanan enak dari tanganku sendiri.
Eh, akhirnya itu semua kayaknya bakal sulit karena aku udah ditempa
buat di bagian Keuangan. Beratnya itu bukan soal kerjaan, toh aku udah hampir 2
tahun kerja di swasta di bagian keuangan di posisi yang bisa dibilang lumayan,
Asisten Manajer Keuangan, yang kalo di PLN mah udah posisi orang-orang hebat.
Yang aku keluhin itu adalah ketika harus pulang malem terus, walaupun sebenernya
pulang ke kos atau kontrakan juga nggak ada kerjaan. Itu yang buat aku
males-malesan, jadi berasa kayak ngejerin dunia aja kalo sampe dapet di
Keuangan, tapi ya mau gimana lagi.
Aku merenung lagi, mungkin di balik semua ini Allah punya rencana
lain. Mungkin Allah pengen aku manfaatin semua potensi yang aku punya selama
belum menikah ini dengan cara nempatin aku dalam kondisi yang aku sendiri
kadang mikir bisa nggak ya aku jalaninnya? Makin ke sini aku makin mikir lagi,
kayak yang doi bilang, mesti ikhlas biar ibadahnya berkah. Jadilah aku mencoba
merenungi lagi tujuan dari semua ini dan akhirnya memutuskan untuk menjalani
saja. Toh Allah tahu posisi terbaik buat kita kan, siapa tahu aku bisa
bantu-bantu calon suamiku nanti buat buka usaha sendiri setelah nikah dengan
berkarir dulu selama kerja ini.
Mudah-mudahan bisa bantu buat tambah-tambahan biaya nikah atau buat
beli rumah, siapa tahu kan ya. Doain ajalah aku kuat biar nggak stres di sini. Karena
membagi unek-unek yang banyak dalem hati itu nggak gampang, apalagi soal
perasaan dan masa depan. Kadang mending dipendem dan direnungi sendiri, apalagi
soal cita-cita dan keinginan yang mungkin berasa hampir nggak bisa diwujudin.
Berbagi dengan pasangan pun kadang sulit, sulit ngejelasin gimana maunya kita
tapi nggak ngebikin mereka ngerasa ikut terbebani dengan segala unek-unek yang
ada. Jalan keluarnya ya merenung dan mencari solusi sendiri, mencoba ikhlas
dengan tujuan hidup yang ada tanpa memaksa apa yang ada harus berjalanan sesuai
yang dimau saja.
Dan dari hasil merenung ini, kayaknya topik soal
nikah, hidup sama pasangan dan punya anak mesti dikubur dulu aja biar nggak stres
sendiri ujungnya. Biarin ajalah, apa yang bakal didapet juga sesuai dengan apa
yang diperjuangkan. Allah maha tahu isi hati umat-Nya kan. Nggak perlu maksa,
semua orang punya pilihan hidup yang kita sendiri nggak berhak ngatur-ngatur
kehidupan mereka. Hmm, intinya ya udah jalani ajalah toh yang bikin kamu maju
dan bangkit itu ya dirimu sendiri meski banyak support sana-sini. Ntar lagi
lah nyambung ke opini selanjutnya soal pilihan. See ya!
Thursday, 8 June 2017
Bersyukur
Detik ini tetiba pengen banget
nulis, walupun sebenernya lagi sibuk banget ngejer deadline Laporan Telaah Staf yang harus diupload tanggal 15 nanti
dan mudah-mudahan lulus sidang habis lebaran nanti. Hmm, capek, sih. Pernah
ngeluh juga sih, kok ribet banget ya mau jadi pegawai? Tesnya susah, sampe
tiga kali baru lulus, udah masuknya makin susah lagi. Mesti ngerjain laporan,
sidang, OJT, ujian online, tinggal sendirian di rantauan. Uh, penuh pokoknya.
Minggu pertama pun dilewatin
dengan nangis-nangis sendirian di kos, ngadu sama Randy, nangis-nangis juga
sampe dia bingung sendiri. Pergi kerja sendirian, aksesnya gak jauh cuma angkot
gak lewat sana, ya alhasil jalan kaki bolak-balik kantor. Nyampe kantor mesti
ketemu orang-orang baru yang banyak karakternya, mulai dari yang perlakuin
kayak anak, ada yang perlakuin beneran kayak anak buah, ada juga yang jutek dan
sebagainya. Semua dipikul sendirian. Dan itu .... gak mudah.
Masuk minggu kedua makin stres
sama laporan yang makin dikejer-kejer dan banyak perubahan sana-sini, diajak
pergi sana-sini, ikut diklat ini itu yang gak tahu sama sekali basic-nya. Dan, pada akhirnya semua
kuserahkan pada yang memiliki kuasa besar atas hidup.
Aku gak mau stres sendiri, di
sini aku sendirian. Mesti kuat, mesti bisa ngelakuin apapun sendirian, karena
kalo gak mau, ya aku gak bisa hidup. Ngangkat galon dari bawah ke dalam kamar,
misalnya. Berobat ke klinik yg jauh dari kos, pergi sendirian, dikasih ujian
dengan sakit berminggu-minggu sampe jalan aja susah, solat pun masih duduk
sampe sekarang. Allahuakbar.
Kadang, rasanya gak kuat. Rasanya
mau nyerah, tapi ketika rasa capek itu dateng, hati pun ngerasa ada
yang salah. Rasa syukur itu harus kembali ditanamkan dalam hati, bersyukur kalo
sejauh ini apapun yang diminta sudah dikabulin sama Allah. Dulu pengen kerja di
BUMN, alhamdulillah dikasih. Sekarang udah dikasih, kok malah ngeluh?
Sebenernya ada rasa risau dalam
hati tentang apa yang sebenernya dicari selama ini, yang sejak dulu menjadi
poin utama tujuan hidup: “ketenangan hati”. Semakin banyak bersyukur, maka
ketenangan hati pun bisa dirasakan lebih. Hanya saja kadang ketika lelah
dateng, rasanya gak sanggup jalani ini untuk waktu yang cukup lama.
Ngelihat antusiasme orang bekerja
di perusahaan ini kadang-kadang nge-push juga untuk bisa kayak mereka dengan tujuan
supaya bisa banyak manfaat untuk banyak orang (cita-cita yang sejak dulu ingin
dicapai), tapi di satu sisi ngerasa kok ibu-ibu ini kuat banget yan jalaninnya,
udah nikah LDR sama suami, kerjaan di kantor banyak, pulang malem terus. Lah
terus di mana letak ketenangannya?
Wanita mana yang gak mau jadi ibu
rumah tangga seutuhnya yang bisa mengabdi utuh pada suami dan keluarga?
Tentulah tidak ada, tapi bagi kami yang sudah terlanjur dan alhamdulillah
diberi rezeki dengan bisa bekerja di tempat yang lebih baik ini, semogalah bisa
ngasih manfaat lebih untuk orang lain, terutama keluarga.
Saat ini, semoga Allah selalu
menguatkan, supaya bisa berjuang di sini sendirian demi mereka yang disayangi.
Kuat sampai pada waktunya segala yang dicita-citakan bisa terwujudkan, menjadi
sepenuhnya anak yang berbakti bagi kedua orangtua dan suami, juga ibu yang
bisa jadi madrasah pertama bagi anak-anakku nanti.
Subscribe to:
Posts (Atom)