Monday, 15 May 2017

APA AKU TIDAK HIDUP DI HARI INI?

Menjadi seseorang yang visioner itu mungkin betulan buat hidup jadi kurang asik. Terlalu memikirkan masa depan, tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, bagaimana ini, bagaimana itu, salahkah kalau begini, salahkah kalau begitu sampai tidak menikmati hari ini. Betulkah? Bisa jadi.

Yap. Aku adalah seseorang yang visioner, yang memandang segala sesuatu itu harus direncanakan dengan baik, karena dengan perencanaan, maka permulaan yang baik akan bisa dimulai. Tapi tidak ngogot, dalam artian punya planning B setelah planning A gagal. Punya jalan lain jika jalan yang satu tidak bisa membawa sampai ke tujuan.

Jika dikatakan berpikir visioner itu sama saja tidak menikmati hidup, lantas apa yang harus dilakukan orang-orang model kami? Membiarkan semuanya terjadi tanpa ada persiapan, sementara di satu sisi orang yang katanya menikmati hidup itu malah merencanakan sesuatu yang membuat mereka bisa menikmati hidup. Pergi berliburan, misalnya.

Apa iya ada yang ingin pergi berlibur main pergi saja? Tentulah harus merencanakan biayanya, waktunya, dan segala macam pertimbangan, bahkan sampai baju apa yang dipakai. Barulah setelah itu bisa menikmati hidupnya.

Kalau memang betul kami yang visioner ini tidak hidup di hari ini karena terlalu banyak memikirkan apa yang baik yang seharusnya dilakukan, lantas apa yang akan dan seharusnya kami lakukan? Membiarkan semua angan dan cita-cita berjalan seadanya.? Aku paham betul kalau segala sesuatu itu sudah digariskan Tuhan, tapi aku juga yakin kalau Tuhan memberikan kemampuan untuk berpikir supaya bisa menjalani hidup ini dengan segala faedahnya, perencanaan salah satunya.

Misal, ingin menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anakku kelak. Bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik? Salah satunya dengan menjadi seseorang yang selalu ada untuk mereka. Bagaimana bisa, sementara aku saja harus bekerja, menghabiskan hampir seharian waktu dengan sibuknya pekerjaan? Itulah gunanya perencanaan, itulah gunanya menjadi visioner. Mencari solusi atas apa yang akan dihadapi di depan nanti. Bukan tidak menikmati hidup, tapi berusaha menyiapkan hidup yang lebih dari sekadar nikmat, tapi bermanfaat, dan bernilai ibadah di mata Tuhan.

Mungkin calon yang ibu lain pun sepemahaman. Kami hanya butuh wadah untuk merencanakan itu semua, butuh solusi dari kepala lain yang nantinya akan menjadi satu pemikiran, tentunya dimulai dari perencanaan. Jika kelak masa itu tiba, lantas semua dihadapkan dengan pilihan yang sulit, jika kita sudah punya opsi jauh sebelum hal itu terjadi, maka mudah-mudahan Tuhan membukakan jalan. Tapi jika kita berusaha untuk menikmati hari ini, menyerahkan semuanya dengan takdir, maka aku sendiri pun tidak bisa menjamin kalau kelak batin belum siap menjalani.

Ya, tidak ada yang salah. Beruntunglah kalian yang berhasil hidup di hari ini, menikmati hidup yang begitu keras dijalani. Tidak seperti kami, kamu hawa yang tak henti berusaha menjadikan diri sebaik-baiknya pribadi, meski kadang apa yang kami pikirkan tak sejalan dengan apa yang kalian jalani.

Sulit bagi kami untuk menjalani hari ini tanpa persiapan di hari nanti, apalagi menjadi seorang istri adalah peran yang begitu menyita segalanya dalam pribadi. Semuanya hanya demi membangun kehidupan yang bermakna hakiki di mata sang Ilahi. Kami hanya butuh solusi, kami hanya butuh tempat berbagi, tidak harus dituruti saat ini, cukup beri ruang untuk kami menata hati dengan segala apa yang kami ingini terjadi nanti. Semoga Allah menguatkan hati dan meridhoi niat baik kami, para kaum hawa yang visioner, yang mungkin belum bisa hidup hari ini.






Friday, 12 May 2017

MENJADI KUAT

5 Mei kemarin, tepat 3 bulan aku meninggalkan rumah, meninggalkan orangtua, sahabat dan segala memori yang menggantung di langit-langit kota tercinta. Tinggal di Palembang bersama orangtua mungkin adalah keinginan yang sudah tidak bisa lagi dipenuhi, nasib sudah mengubah semuanya, Tuhan punya jalan yang berbeda. Panggilan “ayuk” pun sudah berubah menjadi “teteh”. Ya, saat ini aku tengah menjalani salah satu skenario terbaik Tuhan, menjadi warga Kabupaten Baleendah, Bandung, Jawa Barat.

Ketika mengeluhkan keberadaan saat ini, maka banyak pula yang mengatakan, “Bandung itu kota impian anak OJT, enak kamu dapet di sana.” Sebelumnya, tidak pernah terpikir akan hidup di sini, mungkin entah sampai kapan, bisa sampai pensiun mungkin. Entahlah, biarlah Tuhan yang mengatur segalanya, tugasku hanya cukup dengan menjadi kuat.

Saat itu, 5 Februari 2017, pukul 03:00 dini hari aku melangkah keluar dari rumah, tempat tinggal bersama kedua orangtua dan saudaraku. Sejak langkah pertama itu, satu hal yang wajib kujalani adalah “menjadi kuat” karena aku tahu, setelah langkah pertama itu aku akan menjalani segalanya dengan keadaan yang akan sangat berbeda.

10 hari mengikuti pendidikan militer di Pusikpom Cimahi mendidikku menjadi pribadi yang kuat dan tegar, di saat segalanya dilakukan tanpa keluh. Sebelum ke Cimahi, aku dan teman-teman dari Palembang turun di bandara Soekarna Hatta. Perasaan bahagia sekaligus sedih karena meninggalkan rumah begitu campur aduk, selama di pesawat yang ada dalam pikiranku adalah: “Aku sudah jauh dari Ayah, Ibu, dan saudaraku. Akan tetapi, aku dekat dengan ‘dia’.”

Tuhan terlalu baik, selalu menjawab ingin hamba-Nya meski tidak secara langsung. Ya, ini keinginanku, aku ingin meninggalkan kota di mana aku dibesarkan salah satunya karena “dia”, yang In Syaa Allah kelak diridoi menjadi teman sepanjang hidup. Teman yang akan mengambil alih segala kewajiban Ayah dan Ibu, teman yang akan selalu ada dalam kondisi apapun. Dan, Tuhan pun Maha Baik, kami menjadi begitu dekat.

Waktu itu, dia sudah berjanji untuk menjemputku di bandara, meskipun saat itu dia hanya bisa menunggu di luar. Perasaan bahagia begitu menyeruak, wajar saja, kami terakhir bertemu sekitar 3 bulan sebelumnya. Setelah berhasil menerobos kerumunan berseragam hitam putih di depanku, aku melihat dia berdiri dengan senyumnya yang rekah, waktu yang hanya singkat itu pandai sekali mempermainkan perasaan kami. Aku dan dia hanya sempat berfoto seadanya karena rombongan kami sudah harus masuk ke damri untuk diangkut ke Cimahi. Dan, kami pun kembali terpisah oleh jarak.

Hari pertama pendidikan militer tak urung membuat kami yang baru saja berpisah dengan orang-orang terkasih ingin menyerah rasanya. Sampai di markas TNI ketika azan magrib, setelahnya kegiatan lansung dimulai ala militer sampai jam 11 malam. Kemudian masuk ke barak yang diisi oleh satu kompi. Kamar mandi, tempat tidur, semuanya berbagi. Bertemu dengan teman-teman dari semua provinsi. Tidak ada lagi keluhan, yang ada hanyalah menjalani.

Di hari pertama orientasi keesokan harinya, kami diguling di lapangan luas, dihantam suara-suara peluru. Aku dan teman-teman sudah semaput. Dikasih makan siang ala tentara, belum lagi disuruh ini itu, segala macam yang ada dalam orientasi kemiliteran. Hampir setiap malam setelah latihan selesai aku diam-diam nangis di balik selimut, supaya tidak ketahuan teman satu barak. Tangan dan kaki lecet, badan lelah, muka gosong, rengekan dalam hati cuma satu: “Ayah, Ibu, mau pulang.”

Baru lepas dari kurungan militer, kami pun beralih ke Depok, tepatnya di Kinasih Resort Depok untuk mengikuti pembidangan, sekolah lagi. Tanggal 16 Februari sampai 18 April kami di sana. Setiap Senin sampai Jumat belajar, dengan segala macam tata tertibnya, mulai dari mandi, makan, berjalan dan segalanya. Hari Sabtu dan Minggu pun masih ada kegiatan, HP dikumpul dan baru bisa diambil Jumat sore. Untungnya, setiap hari Minggu kami boleh dikunjungi.

Dia, dengan segala perjuangannya hampir setiap 2 minggu sekali mengunjungiku dari Tangerang ke Depok. Sungguh Tuhan Maha Baik, aku diberi dia yang sejauh ini begitu sabar dan tulus. Entahlah, aku pun belum bisa membalasnya hingga kini.  

Selama dua bulan belajar, aku bertemu banyak karakter manusia yang lagi-lagi membuatku menjadi kuat. Mulai dari yang manja, mandiri, baik, jahat, egois, dan sebagainya. Semua berkumpul menjadi satu. Saat itu aku sekamar dengan teman dari Blitar, Nganjuk, dan Selapan (daerah di kota Palembang), dan ketiganya lebih muda dariku. Jadilah selama masa pendidikan aku memiliki banyak anak.

Sampai pada saat pembagian penempatan, aku ditempatkan di kantor Distribusi Jawa Barat bersama 11 teman yang lain, yang 6 di antaranya juga orang Palembang. Tentulah aku masih biasa saja, masih belum terasa sepi, perjuangannya masih belum begitu terasa. Hampir diculik gocar pun berdua, masih ada teman. Jalan-jalan rame-rame selama 10 hari menginap di hotel Nandya di Jalan Pangarang Bandung.

Rabu, 27 April 2017 perjuangan sebenarnya dimulai. Aku ditempatkan di kantor PLN Area Majalaya. Hari itu dia pulang pagi karena harus bekerja dengan shift malam, tapi dia sudah berjanji: “Mau di manapun kamu ditempatkan, di Papua sekalipun, aku bakalan ambil cuti buat nemenin kamu.” Dan, jadilah dia berangkat jam 2 siang menuju Bandung, tiba sekitar habis isya. Lagi-lagi, aku beruntung memiliknya, benar-benar tidak ada kata tidak, meski aku tahu kalau dia begitu lelah.

Malam itu, kami naik gocar menuju Baleendah. Kami tiba sekitar pukul 09:45 WIB. Saat itu kami di drop di depan kantor PLN Area Majalaya, dengan gesitnya dia membawa koper dan tasku. Sementara aku hanya membuntut di belakang, baiknya waktu itu kami diantar satpam untuk mencari kos di daerah situ. Tibalah kami di satu kos yang katanya isinya banyak orang PLN juga. Alhamdulillah aku dapat kamar dan dia pun dapat satu kamar kosong. Jadilah malam itu kami membersihkan dua kamar itu sampai hampir larut. Lelahnya tidak bisa ditutupi, mata itu terlihat sayu.

Tiga hari dia menemaniku, meski ketika aku berangkat ke kantor dia harus menghabiskan waktu hanya di kamarnya, atau mungkin keluar hanya untuk mencari makan. Sepulang kerja dia pun menjemput ke kantor, meski hanya jalan kaki di bawah rintik hujan. Itu sudah sangat membuatku berterima kasih. Dia sungguh luar biasa bagiku. Entahlah, sudah tidak ada kata-kata lagi yang bisa menggambarkan pengorbanannya sejauh ini.

Dan, sepi pun mulai mendekat ketika dia kembali ke Tangerang. Aku mulai sendirian, meski hampir setiap mala dia menemani via telepon, tetap saja drama menangis ketika bangun dan akan tidur itu tidak hilang. Sadar kalau ketika bangun aku sendirian di kota orang, lalu menangis. Aku kuat menjalani lelah karena bekerja, tapi aku rapuh ketika mengingat aku sendirian di sini. Sering pura-pura tegar di depan orangtua dan dia, tapi ketika mereka sibuk dan tidak punya waktu hanya untuk sekadar menelepon, mulailah sedih itu kembali beranak pinak. Sama seperti rinduku pada mereka. Saat ini, aku masih terus berusaha menjadi kuat, supaya kelak aku akan lebih siap menjalani kehidupan yang mungkin lebih keras dari ini. Nanti, saat kami sudah bersama tapi tetap terpisah jarak.





Monday, 24 April 2017

REALISTIS


Semakin ke sini aku semakin paham, bahwa setiap apapun yang direncanakan sesuai dengan keinginan tidak akan selalu berjalan dalam satu garis lurus. Dilema ini makin menjadi ketika banyak ketidakpastian dalam hidup. Sebenarnya sah-sah saja kalau dalam hidup ini banyak tanya yang tidak ada atau belum ada jawabnya dalam waktu dekat, tapi yang menjadi masalah adalah apakah kita mampu bertahan dalam banyak terkaan dalam kepala tentang jawaban itu sendiri?

Egois, ialah salah satu sifat dasar manusia yang tentulah sudah mengakar sejak lahir, yang tidak bisa dihilangkan sampai ke angka nol. Kita tentulah akan mendahulukan kebahagiaan diri sendiri baru orang lain, juga keinginan sendiri baru keinginan orang lain. Hal yang demikian adalah lumrah adanya.

Di saat ada keinginan yang kita pun sebenarnya tidak memaksakan, yang sebetulnya kita sendiri mencari tahu apa yang harus dilakukan dalam kondisi demikian, salah satunya menikah. Entahlah, sepertinya hal itu menjadi momok besar dalam kepala banyak wanita, atau mungkin aku saja?

Aku tidak iri dengan mereka yang bisa menikah lebih dulu dengan segala macam hal, perayaan, dan sebagainya yang sesuai bahkan melebihi ekspektasi mereka. Yang menjadi momok besar dalam kepalaku saat ini adalah: salahkah aku?

Apakah aku terlalu menuntut? Aku bingung, tidak tahu harus mengambil keputusan yang seperti apa, di satu sisi aku ingin disegerakan, di satu sisi aku tidak tega. Aku tahu persisi posisi itu, posisi yang begitu berat, melibatkan banyak hal yang menjadi ujung tombak dalam kebahagiaan: keluarga dan orang terkasih.

Mengapa wanita punya target usia untuk menikah? Aku pribadi hanya ingin menghindari fitnah, karena sejatinya rasa cinta itu sulit sekali untuk dikendalkan, hanya ada dua kemungkinan: bisa menjadi kebaikan atau malah membawa dalam jurang yang menyesatkan. Tapi di satu sisi, pria  tentulah punya alasan tersendiri dengan targetnya, mereka  harus membalas budi kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, tidak mengecewakan.

Di saat orangtuanya mengatakan bahwa mereka haruslah siap secara lahir batin dan finansial, di saat itulah posisi pria menjadi begitu rumit. Di satu sisi mereka harus menyegerakan, supaya si wanita tidak terlalu lama menunggu untuk menghindari fintah, tapi di satu sisi mereka harus mengutamkan keluarga lebih dulu. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh wanita selain menunggu dan bersabar? Kurasa tidak ada.

Sulit, ini begitu sulit. Ketika ada dua kepala ingin menyatu, namun keadaan mengharuskan mereka untuk berpikir keras, di saat itulah kesabaran dan keikhlasan diuji. Di saat itulah bahagia mungkin tak selalu berupa hal yang diinginkan segera terjadi.

Allahurabbi, kuatkan hati kami.

Tuesday, 11 April 2017

MINGGU SORE DI KINASIH

26 Maret 2017

Seperti biasa, gadis itu selalu terlihat repot setiap kali jadwal kunjungan tiba. Sudah dari semalam, bahkan dua minggu yang lalu dia menunggu. Iya, jadwal itu memang akan datang dua minggu sekali. Tidak ada persiapan khusus, hanya saja dia selalu ingin menampilkan yang terbaik, meski dia tahu tidak ada yang berubah dari dirinya. Di Minggu kali ini, kekasihnya kembali datang, berjuang menembus macet dan lelah bekas bekerja seharian. Rela berlelah menggandul tangan di atas kaitan besi dalam gerbong panas berisi banyak penumpang. Iya, begitulah rute yang harus ditempuh kekasihnya dari kosan menuju tempat gadis itu menempuh pendidikan sekarang. Ditambah lagi harus naik gojek supaya bisa masuk ke kawasan Resort di sana.

Siang itu panas terik, dia seperti enggan keluar kamar kalau bukan karena kekasihnya akan datang. Minggu ini tempat makan siswa prajabatan mereka dipindahkan ke Saung Besi, tempat makan yang letaknya lebih jauh dari kamar tinggalnya. Makan siang kali itu dilewati dengan harap-harap cemas, sebab beberapa kali dia mengecek ponsel, bahkan menelpon, kekasihnya belum juga ada kabar. Sampai pada penutupan doa makan, sebuah pesan masuk ke Whatsapp-nya yang isinya dari kekasihnya. Laki-laki yang selalu terlihat gagah di matanya itu ternyata sudah tiba, dia menunggu di tempat makan biasnya, di hall Leonie.

Hari itu, kebetulan ada tamu lain di Resort itu yang mengharuskan mereka mencari tempat lain untuk bertemu. Gadis itu segera saja mendahului temannya yang masih duduk santai di meja makan supaya bisa segera bertatap muka dengan kekasihnya. Dari kejauhan, tampaklah gagahnya bergerak mendekat dari arah berlawanan. Dia sudah bisa memastikan kalau itu adalah kekasihnya. Dia memakai kaos berwarna abu-abu tua, celana jin, dan memakai tas punggung berwarna hitam. Wajahnya nampak lelah. Segera saja gadis itu menghampirinya, di belakangnya sudah banyak suara-suara sumbang yang bilang “ciyee” ketika dua pasang mata itu beradu dan melempar senyum masing-masing.

“Tadi aku nunggu di tempat biasa.”
“Oh, iya. Di sana ada acara, jadi kita gak bisa duduk di sana. Kamu mau solat dulu? Di belakang ada mushola, tapi jauh.”
Mereka berjalan beriringan.
“Iya, kami solat di sana aja.” Laki-laki itu bergerak menuju rumah kayu yang berada di sisi kiri.
“Yakin, kayaknya gak bisa dipake lagi deh,” gadis itu menyela.
“waktu itu kami solat di sana.”
Gadis itu mengangguk, “Ya udah kalo gitu, kami solat di kamar dulu ya. Sekalian mau ambil laptop.”

***

Sepanjang perjalanan menuju kamar, senyum gadis itu begitu rekah, meski dia sadar penuh kalau penampilannya sungguh di luar harapan, siang itu begitu terik, wajahnya tentulah gosong ditimpa sinar matahari. Urunglah sudah memberi tampilan terbaik yang hanya bisa dia lakukan dua minggu sekali itu. Setibanya di kamar, dia segera menarik tas, memasukkan laptop, menyemprotkan minyak wangi di baju, juga merapikan sedikit tampilannya.
Riwehnya bertambah lagi ketika satu pesan masuk dari kekasihnya, dia bilang kalau rumah kayu itu tidak bisa dipakai solat. Gadis itu mengembuskan napas, bergegas memasukkan mukenah ke dalam tas, saking repotnya dia, jam tangannya pun sampai lepas. Masa bodohlah, yang penting kekasihnya tidak merasa kesal karena lama menunggu.

Dia bergegas menapaki anak tangga resort, kamarnya berada di lantai kedua di sisi kiri dan paling ujung. Mereka bertemu di depan hall, dengan masing-masing tas menggantug di pundak. Saling melempar senyuman. Tidakkah kalian tahu, senyuman itu yang selalu dia nantikan. Seolah melihat masa depan di sana, masa depan yang sederhana namun membahagiakan. Senyuman yang selalu berusaha mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Kan, udah aku bilang tadi. Ya udah, kita solat di belakang aja, tapi jauh banget. Musholanya dekat gerbang keluar, dekat kelasku.” Gadis itu bersungut, mencoba mensejajari kekasihnya.
“Ya udah, gak apa-apa jauh, bisa jalan-jalan,” laki-laki itu kembali menyulut senyum.

Kaki-kaki itu menapaki aspal yang ditutupi rindangnya pepohonan di kanan-kiri, melewati rumah kayu, lapangan basket, rumah tinggal bagi siswa dan tamu lain, melewati banyak kelokan. Sesekali gadis itu mengeluh panas lalu menyeka keringat.

“Uh, panas. Jauh lagi, setiap hari kami kayak gini. Kelasku jauh, mana bawaan berat lagi.”
Laki-laki itu menarik lembut tangan gadis itu, membawanya ke tepi. “Minggir sini, ada mobil.”
Gadis itu kini berada sedikit lebih di depan, kembali menyeka wajah, dengan tisu menempeli sisi-sisi jilbabnya dengan harapan wajahnya tidak begitu gosong.

“Udah, gak apa-apa panas, jauh, sekalian ngurusin badan. Biar sehat juga,” celetuk kekasihnya. Dia selalu mengucap ringan, tidak pernah mau ambil pusing soal hal yang seperti itu.
Dia selalu bilang: “Udah, nanti juga putih lagi.” Atau “Udah, nanti juga jerawatnya ilang.”

Kekasihnya selalu membuatnya nampak sempurna tanpa harus bersusah payah tampil luar biasa untuknya. Hal itulah yang membuat gadis itu merasa diterima apa adanya, sebab dia tahu, dirinya pun biasa saja. Tapi tidak dengan kekasihnya, dia selalu mengatakan bahwa kekasihnya tampan. Tidak peduli banyak laki-laki lain yang mungkin lebih trendy dibanding kekasihnya. Yang dia tahu, ketampanan kekasihnya berasal dari hatinya yang tulus dan kesederhanaannya yang begitu menenangkan. Wajar saja kalau gadis itu betah menatapinya tanpa harus banyak kata yang mewakilinya.

Bersambung....


Wednesday, 1 March 2017

MENAHAN DIRI



Topik seputar pernikahan agaknya membuat gadis itu kesulitan tidur beberapa waktu belakangan. Di tengah pendidikan yang mengharuskan dia jauh dari orangtua dan kekasihnya, dia juga harus memikirkan bagaimana masa depannya kelak. Bagaimana jika dia dan kekasihnya berada di kota yang berbeda? Bagaimana dengan rencana mereka untuk menikah? Dan bagaimana nasib anak-anak mereka kelak?

Salahkah jika dia  memikirkan hal yang demikian saat ini? Atau terlalu dini untuk memikirkan hal itu? Dia selalu mencoba untuk menahan diri, untuk tidak membebankan kekasihnya dengan topik seputar pernikahan jika mereka bertemu atau sekadar mengobrol via telepon. Dia takut jikalau segala kelu dan keinginannya untuk membangun biduk rumah tangga itu membuat kekasihnya resah.

Dia tahu persis apa yang tengah mereka jalani saat ini, tentang apakah mereka akan menikah dalam waktu dekat, tentang apakah mereka akan bisa segera mewujudkan segala mimpi bersama. Baginya, hal tersulit dalam hubungan mereka bukanlah tentang bagaimana cara mengumpulkan uang sebanyaknya supaya bisa menyegerakan, tapi tentang menahan segala rindu yang selalu berhasil menyesakkan dada hingga pedih terasa.

Dia juga tahu persis kalau mereka belum punya tabungan yang cukup untuk menikah dalam waktu dekat, dia juga tahu persis dia tidak mungkin membebankan kekasihnya untuk segala hal itu, dia juga tahu kalau mereka belum bisa menikah dalam waktu dekat karena banyak hal itu.

Tapi, dia selalu yakin dan percaya kalau segala niat baik itu akan dimudahkan jalannya. Entah dengan mereka didekatkan atau hal lainnya. Dia yakin, selama dia tidak memberatkan kekasihnya dengan banyak pinta, tentulah impian indah itu akan segera terlaksana.

Kau tahu, dia kerap menahan rindu ketika ingat kekasihnya tengah lelah dalam tugasnya. Menyeka air mata tatkala melihat teman sebaya sudah menikah dan bahkan hampir punya anak lebih dulu dari mereka. Bukan iri, tidak. Dia tidak iri sama sekali, hanya saja dia merasa kalau temannya lebih beruntung karena sudah diizinkan untuk menghalalkan segala tingkah laku yang tadinya haram untuk dilakukan. Hanya itu.

Saat ini, tak ada yang bisa dia lakukan selain menyemangati kekasihnya dengan kalimat: “Udah jangan dipikirin, niat baik pasti ada jalannya” yang sebenarnya adalah penyemangat untuk dirinya sendiri. Sebab, dia tahu, dia tidak mungkin memaksa kekasihnya untuk menikahinya besok sementara keadaan tidak memungkinkan. 

Tak ada yang bisa dia lakukan selain menahan diri untuk tidak memaksa kekasihnya, dia mencintai kekasihnya. Tidak ada hal yang bisa memberinya opsi untuk meninggalkan kekasihnya. Laki-laki lain yang lebih mapan? Tentulah bukan menjadi takaran, jika dia mau bisa saja, sejak lama dia pergi bersama laki-laki lain yang kaya materi tapi miskin hati. Atau laki-laki yang lebih taat? Bagaimana bisa, jika dirinya saja masih jauh dari taat. Terkecuali, jika kelak suatu saat kekasihnya berubah pikiran di tengah perjalanan. Kekasihnya memutuskan untuk tidak bersamanya lagi untuk kedua kalinya, dia sudah berjanji untuk dirinya sendiri dan kebahagiaan kekasihnya, dia tidak akan menahnnya lagi, meski rasa cinta dan kasih sayangnya tak berubah seujung kuku pun. Karena hakikat mencintai sesungguhnya adalah melepaskan.
Dia hanya bisa berharap dan berdoa semoga Tuhan segera mengabulkan.

Saturday, 28 January 2017

MENTOK DI DIA



Gadis itu mulai merasa aneh, belakangan kekasihnya mulai berubah. Berubah menjadi lebih baper dari biasanya, lebih sering bilang: “Jangan tinggalin aku, aku takut kamu berubah.” Entahlah, padahal sebelumnya, kekasihnya itu bukan cowok baperan yang dikit-dikit mewek ke dia, meski kangen berat, paling dia cuma bilang kangen sambil bercanda. 

Semakin ke sini, dia merasa kalau kekasihnya semakin takut kehilangan, sama seperti dirinya sejak awal mereka bersama sampai sekarang. Sejak dulu dia selalu bilang: “Jangan tinggalin aku, aku sayang banget sama kamu,” ke kekasihnya. Dan benar saja, sampai detik ini dia masih tetap sama. Dia masih seperti dulu, masih gadis sederhana yang sabar dan setia. Tidak ada yang berubah.

Hanya saja, sekarang keadaan akan mulai berbeda. Sebentar lagi gadis itu akan memulai kehidupan baru sebagai anak rantauan, menyusul kekasihnya yang lebih senior soal itu. Harusnya kekasihnya bahagia karena ini adalah salah satu keinginan yang dikabulkan Tuhan untuk mereka. Tempo hari, kekasihnya pernah bilang: “Aku pengin kamu merantau, biar kamu kuat. Biar kamu tahu kalau dalam hidup ini gak bisa ngandelin orang lain, kecuali diri kita sendiri.”

Gadis itu ingat betul kalimat itu. Terekam jelas di otak dan dadanya. Dulu, dia sering menangis ketika mendengar kalimat itu, setiap kali kekasihnya meminta dia untuk lebih mandiri. Dia merasa jauh sekali dari kata sempurna, sementara kekasihnya adalah pejuang tangguh yang hampir tidak pernah mengeluh dengan kerasnya hidup. Dia ingin seperti kekasihnya. Ingin sekali. Seringkali dia menyeka airmata tatkala ingat perjuangan kekasihnya di kota orang, sementara dia masih bermanja ria tinggal bersama kedua orangtuanya.

Lagi-lagi, semakin ke sini gadis itu semakin paham kalau perlakuan kekasihnya yang selalu menempanya untuk menjadi lebih kuat itu adalah benar. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau kekasihnya selalu memanjakannya meski dari kejauhan, hampir semua pintanya dikabulkan. Minta ditelpon lama-lama, atau minta dipasang foto berdua di sosmed. Semenjak banyak hal yang mereka lewati, mulai dari pihak-pihak luar yang sempat membuat hubungan mereka sedikit renggang, bahkan kekasihnya hampir menyerah, sampai ke masalah rumit lainnya, mereka berhasil melewatinya. 

Tidak disangka, gadis itu semakin hari semakin menyadari kalau dia tidak boleh mengenggam terlalu erat. Seperti filosofi pasir, semakin digenggam erat, maka semakin hilang tak bersisa. Saat ini, dia tengah mencoba memberi ruang pada kekasihnya untuk kemajuan karirnya, persahabatan, dan keluarga hingga kelak tak ada lagi celah bagi mereka untuk menyerah, meninggalkan satu sama lainnya.

Dia sungguh bahagia,  meski tidak bisa selalu menghabiskan malam minggu bersama meski lewat telepon seperti orang lain, dia tahu kalau kekasihnya menyayanginya. Setiap kali ada obrolan lewat telepon, kekasihnya tak pernah sungkan untuk memanjakannya, sudah seperti anak bayi saja. Tak ada lagi yang diingini gadis itu, saat ini dia hanya berharap semoga Tuhan mempercepat waktu di mana mereka akan bisa menghabiskan waktu seharian bersama, tanpa jeda.

KAPAN NIKAH?



Kapan nikah? Pertanyaan super mainstream untuk gadis usia 22 tahun ke atas macam kami, aku maksudnya. Kalau di desaku, umur segini tuh udah pada gendong anak, temenku aja udah ada yang anak dua. Aku mah selow, bukan berarti gak mikirin soal nikah. Cuma ya itu, aku punya banyak planning sejak aku masih SD bahkan.

Waktu SMA aku nulis banyak banget keinginan aku sampe umur 30 tahunan, termasuklah mau nikah umur 25 tahun. Dulu, aku sering banget nulis semua list pencapaian dalam hidup. Aku orangnya emang gitu, mesti tertata segala sesuatunya walaupun kadang masih suka teledor. Ayahku yang membuat kami disiplin sejak kecil, tepat waktu, jujur, tepat janji, dan banyak hal positif lainnya. Kenapa sih rajin banget nulisin segala mimpi di kertas terus ditempel di dinding kamar? Ya menurut aku, kita itu adalah supporter terbaik untuk diri kita karena sekuat apapun orang lain menyemangati, tidak akan ada efek kalau kita sendiri loyo.

Aku sudah terbiasa membuat daftar mimpi itu, mulai dari target nilai ulangan Fisika yang mesti dapet nilai 100 sejak SMP, sampai urusan nikah. Ayah tahu soal itu, soal semua daftar mimpiku. Waktu itu Ayah masuk kamar dan senyum ketika lihat kertas putih itu terpampang nyata di kamarku. Dia selalu bilang: “Kalo Yanti banyak planning-nya,” sambil ketawa. Ayahku overprotektif, tapi memang bener, berkat cara didiknya yang disiplin satu per satu daftar mimpi itu sudah aku kasih tanda centang, yang berarti berhasil.

Balik lagi ke soal nikah. Ayahku, bahkan keluargaku bukan tipe keluarga yang terbuka soal pacaran. Lah wong Ayah Ibuku gak pacaran dulunya, tapi kami juga bukan dari keluarga fanatik agama. Kami hanya keluarga biasa yang kalau bisa sopan santun diutamakan, apalagi sama Ayah. Sampai detik ini pun teman-temanku minta izin dulu kalau mau ke rumah, kecuali temen SD ku yang udah paham dan dikenal sama Ayah. Syaratnya, kalau main ke rumah mesti ajak temen cewek meski cuma satu walaupun itu hari lebaran. Dulu sih aku sempet ngedumel soal itu, suka marah-marahnya sama Ibu, kok Ayah gitu banget? Tapi, semakin ke sini aku semakin paham, kalau Ayah harus menjalankan tugas dan tanggungjawbanya dengan baik sebagai seorang ayah.
Terus, kenapa mau nikah umur 25 tahun? Jadilah aku membuat daftar mimpi terbaru waktu kuliah dulu. Kertasnya sekarang masih tersusun rapi di kumpulan buku-buku mimpiku. Daftarnya mulai dari lulus dari Polsri dengan IPK di atas 3,5 dan alhamdulillah tembus angka 3,73. Kemudian punya target kerja di BUMN, waktu itu aku buat list-nya: Pusri, PLN, Pertamina dengan pemikiran lulus kuliah umur 21 tahun, kerja 3-4 tahun buat ngumpulin modal supaya bisa buka butik sendiri, habis itu resign deh buat nikah dan jadi ibu rumah tangga seutuhnya. 

Dan ternyata Allah Maha Baik, meski gak berhasil kerja di BUMN di umur 21 tahun, ngaret 2 tahun nih, tapi alhamdulillah. Semoga kemudian ke depannya segala niat baik ini dimudahkan, entah bakal jadi ibu rumah tangga seutuhnya atau tetap jadi karyawan BUMN, biar Allah saja yang atur. 

Jadi, beneran mau nikah umur 25? Ya bismillah, semoga Allah memudahkan segala jalannya supaya dikasih jalan buat nikah di umur segitu, ya kalau lebih cepat malah lebih baik.



Emang udah ada calonnya? In syaa Allah, doakan saja. Kalau pilihan sudah ada, tinggal mencari ridho-Nya aja. Maunya sama dia, doain aja dikabulin Allah. Siapa tahu besok-besok udah nulis soal lamaran aja kan, siapa tahu.