Wednesday, 26 July 2017

Never Underestimate People!

Pernah nggak sih kalian tuh ngalamin yang namanya perpeloncoan dalam dunia kerja, komunitas atau apapun? Perpeloncoan maksud aku itu adalah, keadaan di mana kamu dipandang sebelah mata sama siapapun mereka yang posisi atau kemampuannya mereka anggap lebih dari kamu? Misalnya nih, ada tugas yang mesti kamu kerjain yang pada kenyataannya kamu tuh belum punya basic-nya sama sekali. Ex: kamu orang non teknik yang diminta ngerjain laporan orang lapangan, soal jaringan, pembangunan dll? Tahu kan gimana rasanya, sementara kita orang baru mesti manut sama apapun perintah yang dikasih. Ada dua macam alasan di balik ini, yang pertama karena kita dipercaya mampu buat ngerjainnya, yang kedua adalah uji coba mental, apakah kita sanggup kalo dikasih tugas yang di luar main basic kita.

Kadang, dunia kerja nggak seindah ngebayangin seberapa gede gajinya doang, tapi juga nggak seburuk yang dipikirin. Lagi-lagi aku merenung, belum juga lulus ujian dan diangkat jadi pegawai tetap kok aku banyak banget dikasih tantangan a.k.a cobaan, tapi di satu sisi rasanya itu berkah dan kesempatan yang nggak semua orang bisa dapet itu. Mulai dari awal OJT aku tuh nyoba buat nerima segala sesuatu yang aku anggap sebagai tambahan ilmu.

Aku diminta untuk tampil, memperkenalkan diri di depan semua pegawai. Kemudian selang beberapa waktu aku udah diajak diklat yang bidangnya nggak seharusnya aku pegang, setelah diklat udah diajak lembur ngerjain laporan triwulan untuk pencapaian kinerja perusahaan yang berhubungan dengan pengembangan karir pegawai. Di saat itulah aku merasa Allah tuh punya rencana besar di balik semua ini. Dari semua teman seangkatan itu, di kelasku cuma aku yang dikasih lintas bidang. Merasa nggak adil? Pernah dong. Merasa kok aku cobaannya berat banget ya, tapi di satu sisi kok aku malah dikasih posisi yang aman.

Aman dalam artian, di saat teman-temanku yang lain dikasih penempatan sesuai dengan bidang itu harus rela lembur tiap malem karena ngurusin tunggakan pelanggan. Rata-rata mereka ditempatin di Rayon (layer 3), sementara aku ditempatin di Area (layer 2), satu tingkat di bawah wilayah dan di bagian SDM, yang artinya aku harus mengkoordinir semua data dan keperluan pegawai baik yang ada di Area maupun rayon yang bernaung di bawahnya. Awalnya memang kupikir nyantai aja, toh nggak berhubungan dengan data Niaga atau Keuangan yang ngejelimet, tapi ternyata pemikiran itu salah. Semua pekerjaan itu punya tingkat kesulitan masing-masing.

Rasanya aku kadang kurang setuju kalo ada yang bilang gini: “Mbak, background pendidikannya apa? Kok di SDM, sayang banget nanti nggak bisa berkarir, mending di Keuangan.”
Pendapat gitu udah banyak banget aku denger, padahal asal mereka tahu kerjaan orang SDM itu nggak segampang menurut mereka, yang cuma ngurusin data pegawai, input ini itu doang. Bagian SDM juga punya KPI (Key Performance Indicator) yang kalo menurutku cukup sulit. Bayangin coba, bagian SDM itu sesi paling sibuk ngurusin karir orang lain. Setiap pegawai mesti dimonitoring karirnya dan diupayakan untuk tindak lanjut dari posisi mereka, nah yang sulit itu dan menjadi tantangan bagian SDM adalah untuk menumbuhkan rasa kesadaran diri pegawai bahwasanya apa yang diminta bagian SDM untuk dikerjain maupun dikumpulin itu adalah semata-mata untuk kebaikan karir mereka ke depan. Itu, yang sulit itu bikin orang nyadar. Bikin orang nggak males-malesan buat maju, bukan cuma buat perusahaan doang, tapi lebih ke kebaikan si individu sendiri.
Setelah mulai memahami tugas penting SDM, aku pun mulai dikasih tanggung jawab untuk ngerjain laporan Keuangan, yang meliputi pembayaran tagihan investasi dan operasi. Nah di sini letak never underestimate people itu. Tahu kan di mana-mana yang namanya Keuangan itu ya bikin pusing kan ya. Belum juga apa-apa aku udah diajakin rapat penyerapan anggaran investasi dan operasi, dengan posisi masih siswa prajabatan (belum pegawai sah).
Di satu sisi sebenarnya aku udah nggak kaget lagi soal Keuangan karena udah pernah berurusan sama Keuangan di swasta itu hampir dua tahun, ketemu sama yang namanya angka, SPK, RAB, pembayaran upah, dll itu udah biasa. Cuma ya bedanya itu, kerja di swasta yang nggak punya banyak cabang perusahaan itu ya laporannya nggak terpusat dan aplikasi yang dipake pun cuma untuk internal, tapi sedikit apapun ilmu yang dipelajari tetaplah bermanfaat kan.
Nah, aku tuh selalu inget omongan ayahku: “Tidak apa-apa kita dibilang bodoh, tapi kita sebenarnya punya kemampuan. Mending kita terlihat lemah di awal, tapi akhirnya potensi kita yang membuktikan.”
So, aku beneran pegang teguh pesan itu. Biarin dianggep bodoh, biarin dianggep nggak tahu apa-apa, biarin dianggep ilmunya cetek, yang penting pada akhirnya yang ngerasain manfaatnya adalah diri sendiri. Ketika sebenernya kita mampu dan kemudian dianggap remeh, pada akhirnya kemampuan itu akan semakin bertambah kalo kita mau sedikit bersabar dan ikhlas nerima segala macam bentuk perlakuan orang lain.

Jadi, jangan pernah underestimate ke orang lain, karena sekecil apapun ilmu yang mereka punya itu akan jauh lebih baik ketika mereka mencoba diam lalu berusaha memperbaiki dan menambahnya, ketimbang ilmu yang banyak tapi sering meremehkan, menanggap diri paling banyak pengetahuan dan nggak pernah salah. Siapa tahu orang yang kita anggap kecil itu akan jauh lebih besar di kemudian hari. Keep your attitude and be humble person, dude!

Tuesday, 25 July 2017

Menemukan Tujuan Hidup (Kembali)


Beberapa bulan ini, selepas menempuh pendidikan yang panjang dan cukup rumit, aku merasa seperti kehilangan tujuan hidup gitu. Entahlah, semacam bingung dengan keinginan sendiri. Misalnya, sebelum diterima kerja di PLN ini, rasanya menggebu-gebu sekali supaya bisa lulus dengan dua kali kegagalan sebelumnya. Dulu itu, sebelum tes aku nyiapin diri semaksimal mungkin, mulai dari belajar ulang tentang psikotes (walaupun sebenarnya aku udah hatam soal-soalnya, orang udah dua kali tes dari tahap GAT sampai ke Psikotes soalnya itu-itu aja). Pelajaran buat kalian yang mungkin perlu, selama tiga kali aku ikut tesnya, soal Bahasa Inggris dan Akademik yang dikeluarin selalu sama. Soal Bahasa Inggris itu tentang pembangkit, tentang pipa-pipa, proses penyaluran energi listrik dari pembangkit gitu. Cuma ya itu kosakatanya memang yang jarang dipake di soal-soal biasa. Terus kalo soal akademik bagian niaga atau manajemen itu banyak masuk soal Manajemen Produksi.

Selain itu, aku juga nyiapin kesehatan jiwa dan raga karena dua kali gagal, itu di tahap kesehatan fisik dan laboratorium. Semenjak itu, aku lebih menguatkan lagi niat dan usaha untuk mencapai target yang aku mau. Aku harus lulus kerja di BUMN sebelum usia 25 tahun (batas akhir bisa apply ke BUMN). Dari dulu aku selalu pasang target dengan misi-misi rinci yang harus dikerjain, selain itu juga aku kasih progres dari setiap pencapaian target yang sudah kubuat. Mulailah dinding-dinding kamar dipenuhi dengan kertas-kertas berisi tabel-tabel target.

Kebiasaan itu berjalan sampe sekarang. Menjadi anak rantauan yang diharuskan lulus segala macam ujian supaya bisa jadi pegawai tetap itu gampang-gampang susah. Susahnya itu ya kalo semangat udah mulai pudar, udah mulai ngerasa capek dan bosen. Rasanya kok prosesnya susah banget, mau jadi pegawai gini amat, padahal tesnya aja udah susah, mau jadi pegawai malah lebih susah.

Jadi, angkatan aku ini bisa dibilang angkatan percobaan. Gimana maksudnya percobaan? Ya kita dijadiin sebagai bahan evaluasi untuk angkatan sebelumnya. Gini, sebelum kita diangkat jadi pegawai tetap, kita harus memnuhi beberapa syarat:

Pertama, lulus pendidikan militer.
Aku dan teman-teman seangkatan harus, kudu, wajib melewati yang namanya masa Kesamaptaan, yaitu Program Pembelajaran Bela Negara/Fisik dan Karakter. Waktu itu kami pendidikan di Pusat Pendidikan Polisi Militer (Pusdikpom) di Cimahi selama 10 hari. Rasanya aku udah pernah cerita soal ini, bisa scroll aja ke tulisan-tulisan sebelumnya hehe.

Kedua, lulus pembidangan.
Jadi, setelah selesai pendidikan militer di Cimahi, kami diangkut ke Depok, tepatnya di Kinasih Resort and Outbond. Kami yang berstatus siswa prajabatan ini harusnya belajar atau melewati masa pembidangan itu di Udiklat, waktu itu yang menaungi kami adalah Udiklat Bogor. Berhubung angkatan kami jumlahnya banyak, kurang lebih 800 siswa D3 dan S1, maka kami yang datangnya lebih akhir dari anak S1 harus belajar di Kinasih. Di tahap pembidangan ini, kami dibagi menjadi beberapa kelas sesuai dengan bidang yang kami apply di awal kemarin. Aku waktu itu milih Niaga karena aku lulusan Administrasi Bisnis.

Nah, selama pembidangan dua bulan itu, aku dan teman-teman belajar dari jam 7 pagi sampe jam 5 sore. Itu pun udah mulai sarapan jam 6 pagi. Pokoknya kegiatan padet deh, belajar seharian banget. Untungnya, selama pembidangan, anak Niaga tuh cuma beberapa kali dikasih tugas yang mengharuskan kami belajar sempe jam 10 malem (batas aktifitas siswa, selanjutnya ya tidur), barang siapa yang ketahuan masih melakukan aktifitas di kamar ya siap-siap aja disidak panitia, pokonya no handphone, no more nonton drakor, apalagi menggalau. Pokoknya ketat banget.

Materi yang aku dapet itu ya soal tarif tenaga listrik, penertiban pemakaian tenaga listrik (P2TL), AP2T, P2APST, pokokny segala yang berhubungan dengan pelanggan PLN deh. Kalo dibilang menguasai teori ya nggak mungkin semuanya aku bisa, tapi seenggaknya itu bakalan didapet banget kalo langsung praktek kan ya dan aku memang tipe yang suka ngomong, jadi seneng banget kalo bisa ketemu pelanggan, melayani kebutuhan listrik mereka kan, sekalian ibadah.

Ketiga, lulus OJT.
Nah, ini tahap yang paling berat. Di sini lah letak angkatanku kubilang jadi angkatan percobaan. Jadi, semenjak angkatan 54 kalo nggak salah (aku angkatan 57), itu OJT udah nggak berkelompok lagi, sekarang semua sendiri-sendiri. Nah, kalo dulu OJT berkelompok dan laporan yang harus dibuat adalah PA (Project Assignment) dan STO (Science Technology). Mereka juga OJT bukan berbasis penempatan, temenku satu kelompok berisi 5 orang, awalnya OJT di Bengkulu tapi penempatan kerja mereka beda-beda.

Apa yang bikin beda? Selain angkatan kami OJT nya sendiri-sendiri, kami juga OJT berbasis penempatan. Jadi, kayak aku ini OJT di Distribusi Jawa Barat, udah pasti aku bakalan penempatan di Jawa Barat. Terus, yang bikin perjuangan berasa agak lebih berat adalah, di awal pembekalan OJT kami dikasih arahan kalo yang dikerjain adalah PA dan STO dengan waktu OJT 45 hari kerja efektif. Bisa kebayang kan stresnya kami, ditambah kabar kalo angkatan selanjutnya nggak bakal ada PA sama STO lagi. Nah yang bikin mumet lagi adalah aku dapet penempatan bidang SDM. Bayangiiiiiiiiin dua bulan aku dapet pembidangan Niaga dengan segala materi yang udah didapet eh ternyata malah ditempatin di SDM yang seharusnya ditempatin sama anak bidang PAS (Pelaksana Administrasi). Satu lagi, temenku cowok yang bidang PAS malah ditempatin di Niaga. Cobaan banget.

Jadilah di minggu awal aku nyiapin buat PA tentang daftar tunggu pelanggan pasang baru. Aku nggak mau salah dong bikin laporan, aku nanya ke panitia Udiklat apa mesti bikin laporan sesuai bidang atau sesuai proyeksi jabatan di OJT. Setelah dua minggu berjalan ternyata ada ketidaksesuaian antara panitia Udiklat dengan SDM Disjabar. Udiklat minta aku buat laporan sesuai pembidangan, sementara SDM minta aku buat sesuai proyeksi jabatan. Jadilah aku galau, padahal udah mulai ngerjain laporan niaga.

Dan akhirnya ada evaluasi ulang setelah setengah perjalanan OJT yang menetapkan kalo kami mesti buat laporan sesuai proyeksi jabatan pertama, jadilah aku buat tentang SDM yang basic teorinya aku nggak punya sama sekali dan mesti dibuat laporan.

Nah bedanya lagi, laporan kami nggak jadi dong PA dan STO jadinya diganti Telaah Staf (TS). Kalo Telaah Staf sebelumnya itu buat anak rekrutan SMK, tapi ternyata TS kami adalah kombinasi TS anak SMK dan PA anak D3/S1. Pokoknya sepanjang perjalanan OJT ini banyak banget perubahan sistem yang buat kami mesti kuat supaya nggak stres.


Nah untuk lulus OJT pun ada syaratnya, nggak asal lulus-lulus aja.
Pertama, kita mesti lulus Ujian Online (Ujo). Ujian ini adalah ujian online yang berisi 50 soal sesuai bidang yang dipilih. Awalnya dibilang kalo Ujo itu soalnya sesuai proyeksi jabatan (mampuslah aku yang nggak punya basic teori bidang PAS sebelumnya kan).  Seiring berjalannya kegiatan OJT, ternyata beberapa hari sebelum itu kita dikasih form untuk diisi mengenai bidang apa yang harus dipilih, bagi kami yang lintas bidang ternyata boleh milih bidang apa yang kami kuasai, boleh sesuai pembidangan atau sesuai proyeksi jabatan. Di situ galauku level atas. Konsultasi sama mentor juga dia nyerahin ke aku sepenuhnya. Aku bingung, kalo mau pilih bidang Niaga aku memang punya basic teori tapi nggak turun langsung ke lapangan kayak teman-teman lain yang suka pulang malem ngurusin tunggakan pelanggan, tapi kalo aku milih SDM/PAS aku nggak punya basic-nya tapi udah turun langsung walau nggak semaksimal anak niaga. Ya susah sih, staf SDM di tempatku ini udah pada memasuki usia menjelang pensiun dan aku pun jarang megang langsung kerjaan karena di awal mindset-nya itu harus fokus ke laporan TS.

Selanjutnya, sistem dari penentuan kelulusan OJT adalah siswa harus lulus Ujian Online terlebih dulu baru bisa mengikuti ujian akhir. Tibalah waktu buat Ujo, kami cuma diperbolehkan membuka satu browser di laptop masing-masing dengan pengawasan ketat oleh panitia. Nah, waktu itu aku bismillah aja milih bidang SDM dengan pemikiran kalo aku udah turun langsung mudah-mudahan teori bisa ngikut. Pas waktu itu ternyata soal untuk SDM nggak ada dan aku disuruh ngerjain soal Administrasi. Tadaaa ternyata soalnya tentang adminstrasi umum yang aku nggak punya bekalnya, memang ada soal-soal SDM dan aku yakin jawabanku bener. Terus, temen di sebelahku yang tadinya ketuker sama aku itu terus-terusan minta dikasih tau jawaban niaga dan aku ya enteng aja ngasih tau karena mikir saling bantu kan ya, sampe berapa kali ditegur panitia. Tapi, pas aku minta kasih tau dia ternyata dia udah banyak lupa teorinya. Hm.

Gimana hasilnya? Ya bener aja aku nggak lulus karena kurang 5 jawaban lagi yang benar, sementara temenku itu lulus. Nggak bisa dan nggak boleh marah dong, emang udah rezeki orang ya mau gimana lagi. Walaupun sebenernya kecewa sama diri sendiri sih, kenapa nggak belajar semua teori SDM (ya sebenernya mustahil, lah wong 2 bulan pembidangan aja belum tentu bisa). Tapi memang hampir 50% angkatan kami tu nggak lulus dan yang lintas bidang paling mendominasi, tapi tetep aja kepikiran dan bikin drop, terus udah males aja sampe sekarang. Semacam udah muak ngurusin OJT ginian, kayak susah baget jadi pegawai padahal udah lewatin banyak tahap yang nggak mudah.

Tahu konsekuensinya apa? Kita mesti nambah hari OJT selama 20 hari efektif kerja, begitu seterusnya kalo nggak lulus lagi, dikasih kesempatan 3 kali Ujo dengan penambahan hari OJT 20 hari setiap kegagalan. Bagi yang 3 kali nggak lulus, bakalan dikasih tugas khusus dari Pusdiklat. Bagi teman-teman yang lulus Ujo kemarin dibolehin ikut Ujian Akhir dan mereka udah pada lulus beberapa hari yang lalu diumumin.

Bukan ngiri sama rezeki orang sih, toh juga SK nya bakal keluar bareng-bareng satu angkatan. Cuma kadang aku merenung dan memang suka merenungi segala sesuatu yang terjadi, kenapa sih aku mesti dapet lintas bidang sampe buat aku nggak lulus? Dan sekarang aku bakalan ditempatin di bagian Keuangan karena udah banyak yang rotasi jadi aku kebagian diminta di Keuangan dan mesti bisa back up SDM. Kadang aku mikir, ini tuh cobaan atau berkah, sih?

Di satu sisi rasanya berat, otakku nggak secerdas Einstein. Belumlah juga lulus ujian udah disuruh ngerjain laporan pembayaran keuangan dan masih nge-back up bagian SDM. Ngeluh si sering, sampe si doi (sebut saja doi ya) bilang kalo aku tuh nggak boleh gini setiap kali aku curhat kalo aku berasa udah capek, berasa udah nggak sesemangat yang dulu, berasa udah males, berasa nggak tahu persis tujuan hidup. Padahal sebelumnya aku tuh tipe manusia yang punya banyak planning dengan semangat menggebu. Tapi ya itu, kadang kondisi mendadak ngerubah kita jadi manusia yang bukan kita sesungguhnya.

Jadi semenjak nggak lulus itu aku jadi makin males, males buat belajar teori-teori yang sebarek-abrek. Udah jenuh aja ngurusin laporan udah berbulan-bulan gitu. Ditambah lagi di kantor udah disuap buat ngerjain laporan keuangan. Bayangin aja coba, aku pembidangan Niaga, OJT di SDM, Ujo Administrasi dan sekarang mesti di Keuangan. Cobaan kan? Orang Keuangan itu sering pulang malem karena tuntutan deadline.

Di awal aku mikir kok aku ditempatin di SDM, yang kata orang kalo mau berkarir tuh agak susah karena di PLN ini yang sukses itu yang paham proses bisnis, sementara orang SDM itu cuma ngurusin pegawai, nggak bakal tahu soal tarif dan lain-lain. Awalnya sih ngambil hikmahnya ya mikirnya kerjaan SDM itu nyantai, nggak perlu pulang malem ngejerin laporan dan dampaknya nanti kalo udah nikah seenggaknya pas suami lagi di rumah aku bisa pulang cepet buat masakin dia makanan enak dari tanganku sendiri.

Eh, akhirnya itu semua kayaknya bakal sulit karena aku udah ditempa buat di bagian Keuangan. Beratnya itu bukan soal kerjaan, toh aku udah hampir 2 tahun kerja di swasta di bagian keuangan di posisi yang bisa dibilang lumayan, Asisten Manajer Keuangan, yang kalo di PLN mah udah posisi orang-orang hebat. Yang aku keluhin itu adalah ketika harus pulang malem terus, walaupun sebenernya pulang ke kos atau kontrakan juga nggak ada kerjaan. Itu yang buat aku males-malesan, jadi berasa kayak ngejerin dunia aja kalo sampe dapet di Keuangan, tapi ya mau gimana lagi.

Aku merenung lagi, mungkin di balik semua ini Allah punya rencana lain. Mungkin Allah pengen aku manfaatin semua potensi yang aku punya selama belum menikah ini dengan cara nempatin aku dalam kondisi yang aku sendiri kadang mikir bisa nggak ya aku jalaninnya? Makin ke sini aku makin mikir lagi, kayak yang doi bilang, mesti ikhlas biar ibadahnya berkah. Jadilah aku mencoba merenungi lagi tujuan dari semua ini dan akhirnya memutuskan untuk menjalani saja. Toh Allah tahu posisi terbaik buat kita kan, siapa tahu aku bisa bantu-bantu calon suamiku nanti buat buka usaha sendiri setelah nikah dengan berkarir dulu selama kerja ini.

Mudah-mudahan bisa bantu buat tambah-tambahan biaya nikah atau buat beli rumah, siapa tahu kan ya. Doain ajalah aku kuat biar nggak stres di sini. Karena membagi unek-unek yang banyak dalem hati itu nggak gampang, apalagi soal perasaan dan masa depan. Kadang mending dipendem dan direnungi sendiri, apalagi soal cita-cita dan keinginan yang mungkin berasa hampir nggak bisa diwujudin. Berbagi dengan pasangan pun kadang sulit, sulit ngejelasin gimana maunya kita tapi nggak ngebikin mereka ngerasa ikut terbebani dengan segala unek-unek yang ada. Jalan keluarnya ya merenung dan mencari solusi sendiri, mencoba ikhlas dengan tujuan hidup yang ada tanpa memaksa apa yang ada harus berjalanan sesuai yang dimau saja.


Dan dari hasil merenung ini, kayaknya topik soal nikah, hidup sama pasangan dan punya anak mesti dikubur dulu aja biar nggak stres sendiri ujungnya. Biarin ajalah, apa yang bakal didapet juga sesuai dengan apa yang diperjuangkan. Allah maha tahu isi hati umat-Nya kan. Nggak perlu maksa, semua orang punya pilihan hidup yang kita sendiri nggak berhak ngatur-ngatur kehidupan mereka. Hmm, intinya ya udah jalani ajalah toh yang bikin kamu maju dan bangkit itu ya dirimu sendiri meski banyak support  sana-sini. Ntar lagi lah nyambung ke opini selanjutnya soal pilihan. See ya!

Thursday, 8 June 2017

Bersyukur


Detik ini tetiba pengen banget nulis, walupun sebenernya lagi sibuk banget ngejer deadline Laporan Telaah Staf yang harus diupload tanggal 15 nanti dan mudah-mudahan lulus sidang habis lebaran nanti. Hmm, capek, sih. Pernah ngeluh juga sih, kok ribet banget ya mau jadi pegawai? Tesnya susah, sampe tiga kali baru lulus, udah masuknya makin susah lagi. Mesti ngerjain laporan, sidang, OJT, ujian online, tinggal sendirian di rantauan. Uh, penuh pokoknya.

Minggu pertama pun dilewatin dengan nangis-nangis sendirian di kos, ngadu sama Randy, nangis-nangis juga sampe dia bingung sendiri. Pergi kerja sendirian, aksesnya gak jauh cuma angkot gak lewat sana, ya alhasil jalan kaki bolak-balik kantor. Nyampe kantor mesti ketemu orang-orang baru yang banyak karakternya, mulai dari yang perlakuin kayak anak, ada yang perlakuin beneran kayak anak buah, ada juga yang jutek dan sebagainya. Semua dipikul sendirian. Dan itu .... gak mudah.

Masuk minggu kedua makin stres sama laporan yang makin dikejer-kejer dan banyak perubahan sana-sini, diajak pergi sana-sini, ikut diklat ini itu yang gak tahu sama sekali basic-nya. Dan, pada akhirnya semua kuserahkan pada yang memiliki kuasa besar atas hidup.

Aku gak mau stres sendiri, di sini aku sendirian. Mesti kuat, mesti bisa ngelakuin apapun sendirian, karena kalo gak mau, ya aku gak bisa hidup. Ngangkat galon dari bawah ke dalam kamar, misalnya. Berobat ke klinik yg jauh dari kos, pergi sendirian, dikasih ujian dengan sakit berminggu-minggu sampe jalan aja susah, solat pun masih duduk sampe sekarang. Allahuakbar.

Kadang, rasanya gak kuat. Rasanya mau nyerah, tapi ketika rasa capek itu dateng, hati pun ngerasa ada yang salah. Rasa syukur itu harus kembali ditanamkan dalam hati, bersyukur kalo sejauh ini apapun yang diminta sudah dikabulin sama Allah. Dulu pengen kerja di BUMN, alhamdulillah dikasih. Sekarang udah dikasih, kok malah ngeluh?

Sebenernya ada rasa risau dalam hati tentang apa yang sebenernya dicari selama ini, yang sejak dulu menjadi poin utama tujuan hidup: “ketenangan hati”. Semakin banyak bersyukur, maka ketenangan hati pun bisa dirasakan lebih. Hanya saja kadang ketika lelah dateng, rasanya gak sanggup jalani ini untuk waktu yang cukup lama.

Ngelihat antusiasme orang bekerja di perusahaan ini kadang-kadang nge-push  juga untuk bisa kayak mereka dengan tujuan supaya bisa banyak manfaat untuk banyak orang (cita-cita yang sejak dulu ingin dicapai), tapi di satu sisi ngerasa kok ibu-ibu ini kuat banget yan jalaninnya, udah nikah LDR sama suami, kerjaan di kantor banyak, pulang malem terus. Lah terus di mana letak ketenangannya?

Wanita mana yang gak mau jadi ibu rumah tangga seutuhnya yang bisa mengabdi utuh pada suami dan keluarga? Tentulah tidak ada, tapi bagi kami yang sudah terlanjur dan alhamdulillah diberi rezeki dengan bisa bekerja di tempat yang lebih baik ini, semogalah bisa ngasih manfaat lebih untuk orang lain, terutama keluarga.


Saat ini, semoga Allah selalu menguatkan, supaya bisa berjuang di sini sendirian demi mereka yang disayangi. Kuat sampai pada waktunya segala yang dicita-citakan bisa terwujudkan, menjadi sepenuhnya anak yang berbakti bagi kedua orangtua dan suami, juga ibu yang bisa jadi madrasah pertama bagi anak-anakku nanti.

Monday, 15 May 2017

APA AKU TIDAK HIDUP DI HARI INI?

Menjadi seseorang yang visioner itu mungkin betulan buat hidup jadi kurang asik. Terlalu memikirkan masa depan, tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, bagaimana ini, bagaimana itu, salahkah kalau begini, salahkah kalau begitu sampai tidak menikmati hari ini. Betulkah? Bisa jadi.

Yap. Aku adalah seseorang yang visioner, yang memandang segala sesuatu itu harus direncanakan dengan baik, karena dengan perencanaan, maka permulaan yang baik akan bisa dimulai. Tapi tidak ngogot, dalam artian punya planning B setelah planning A gagal. Punya jalan lain jika jalan yang satu tidak bisa membawa sampai ke tujuan.

Jika dikatakan berpikir visioner itu sama saja tidak menikmati hidup, lantas apa yang harus dilakukan orang-orang model kami? Membiarkan semuanya terjadi tanpa ada persiapan, sementara di satu sisi orang yang katanya menikmati hidup itu malah merencanakan sesuatu yang membuat mereka bisa menikmati hidup. Pergi berliburan, misalnya.

Apa iya ada yang ingin pergi berlibur main pergi saja? Tentulah harus merencanakan biayanya, waktunya, dan segala macam pertimbangan, bahkan sampai baju apa yang dipakai. Barulah setelah itu bisa menikmati hidupnya.

Kalau memang betul kami yang visioner ini tidak hidup di hari ini karena terlalu banyak memikirkan apa yang baik yang seharusnya dilakukan, lantas apa yang akan dan seharusnya kami lakukan? Membiarkan semua angan dan cita-cita berjalan seadanya.? Aku paham betul kalau segala sesuatu itu sudah digariskan Tuhan, tapi aku juga yakin kalau Tuhan memberikan kemampuan untuk berpikir supaya bisa menjalani hidup ini dengan segala faedahnya, perencanaan salah satunya.

Misal, ingin menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anakku kelak. Bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik? Salah satunya dengan menjadi seseorang yang selalu ada untuk mereka. Bagaimana bisa, sementara aku saja harus bekerja, menghabiskan hampir seharian waktu dengan sibuknya pekerjaan? Itulah gunanya perencanaan, itulah gunanya menjadi visioner. Mencari solusi atas apa yang akan dihadapi di depan nanti. Bukan tidak menikmati hidup, tapi berusaha menyiapkan hidup yang lebih dari sekadar nikmat, tapi bermanfaat, dan bernilai ibadah di mata Tuhan.

Mungkin calon yang ibu lain pun sepemahaman. Kami hanya butuh wadah untuk merencanakan itu semua, butuh solusi dari kepala lain yang nantinya akan menjadi satu pemikiran, tentunya dimulai dari perencanaan. Jika kelak masa itu tiba, lantas semua dihadapkan dengan pilihan yang sulit, jika kita sudah punya opsi jauh sebelum hal itu terjadi, maka mudah-mudahan Tuhan membukakan jalan. Tapi jika kita berusaha untuk menikmati hari ini, menyerahkan semuanya dengan takdir, maka aku sendiri pun tidak bisa menjamin kalau kelak batin belum siap menjalani.

Ya, tidak ada yang salah. Beruntunglah kalian yang berhasil hidup di hari ini, menikmati hidup yang begitu keras dijalani. Tidak seperti kami, kamu hawa yang tak henti berusaha menjadikan diri sebaik-baiknya pribadi, meski kadang apa yang kami pikirkan tak sejalan dengan apa yang kalian jalani.

Sulit bagi kami untuk menjalani hari ini tanpa persiapan di hari nanti, apalagi menjadi seorang istri adalah peran yang begitu menyita segalanya dalam pribadi. Semuanya hanya demi membangun kehidupan yang bermakna hakiki di mata sang Ilahi. Kami hanya butuh solusi, kami hanya butuh tempat berbagi, tidak harus dituruti saat ini, cukup beri ruang untuk kami menata hati dengan segala apa yang kami ingini terjadi nanti. Semoga Allah menguatkan hati dan meridhoi niat baik kami, para kaum hawa yang visioner, yang mungkin belum bisa hidup hari ini.






Friday, 12 May 2017

MENJADI KUAT

5 Mei kemarin, tepat 3 bulan aku meninggalkan rumah, meninggalkan orangtua, sahabat dan segala memori yang menggantung di langit-langit kota tercinta. Tinggal di Palembang bersama orangtua mungkin adalah keinginan yang sudah tidak bisa lagi dipenuhi, nasib sudah mengubah semuanya, Tuhan punya jalan yang berbeda. Panggilan “ayuk” pun sudah berubah menjadi “teteh”. Ya, saat ini aku tengah menjalani salah satu skenario terbaik Tuhan, menjadi warga Kabupaten Baleendah, Bandung, Jawa Barat.

Ketika mengeluhkan keberadaan saat ini, maka banyak pula yang mengatakan, “Bandung itu kota impian anak OJT, enak kamu dapet di sana.” Sebelumnya, tidak pernah terpikir akan hidup di sini, mungkin entah sampai kapan, bisa sampai pensiun mungkin. Entahlah, biarlah Tuhan yang mengatur segalanya, tugasku hanya cukup dengan menjadi kuat.

Saat itu, 5 Februari 2017, pukul 03:00 dini hari aku melangkah keluar dari rumah, tempat tinggal bersama kedua orangtua dan saudaraku. Sejak langkah pertama itu, satu hal yang wajib kujalani adalah “menjadi kuat” karena aku tahu, setelah langkah pertama itu aku akan menjalani segalanya dengan keadaan yang akan sangat berbeda.

10 hari mengikuti pendidikan militer di Pusikpom Cimahi mendidikku menjadi pribadi yang kuat dan tegar, di saat segalanya dilakukan tanpa keluh. Sebelum ke Cimahi, aku dan teman-teman dari Palembang turun di bandara Soekarna Hatta. Perasaan bahagia sekaligus sedih karena meninggalkan rumah begitu campur aduk, selama di pesawat yang ada dalam pikiranku adalah: “Aku sudah jauh dari Ayah, Ibu, dan saudaraku. Akan tetapi, aku dekat dengan ‘dia’.”

Tuhan terlalu baik, selalu menjawab ingin hamba-Nya meski tidak secara langsung. Ya, ini keinginanku, aku ingin meninggalkan kota di mana aku dibesarkan salah satunya karena “dia”, yang In Syaa Allah kelak diridoi menjadi teman sepanjang hidup. Teman yang akan mengambil alih segala kewajiban Ayah dan Ibu, teman yang akan selalu ada dalam kondisi apapun. Dan, Tuhan pun Maha Baik, kami menjadi begitu dekat.

Waktu itu, dia sudah berjanji untuk menjemputku di bandara, meskipun saat itu dia hanya bisa menunggu di luar. Perasaan bahagia begitu menyeruak, wajar saja, kami terakhir bertemu sekitar 3 bulan sebelumnya. Setelah berhasil menerobos kerumunan berseragam hitam putih di depanku, aku melihat dia berdiri dengan senyumnya yang rekah, waktu yang hanya singkat itu pandai sekali mempermainkan perasaan kami. Aku dan dia hanya sempat berfoto seadanya karena rombongan kami sudah harus masuk ke damri untuk diangkut ke Cimahi. Dan, kami pun kembali terpisah oleh jarak.

Hari pertama pendidikan militer tak urung membuat kami yang baru saja berpisah dengan orang-orang terkasih ingin menyerah rasanya. Sampai di markas TNI ketika azan magrib, setelahnya kegiatan lansung dimulai ala militer sampai jam 11 malam. Kemudian masuk ke barak yang diisi oleh satu kompi. Kamar mandi, tempat tidur, semuanya berbagi. Bertemu dengan teman-teman dari semua provinsi. Tidak ada lagi keluhan, yang ada hanyalah menjalani.

Di hari pertama orientasi keesokan harinya, kami diguling di lapangan luas, dihantam suara-suara peluru. Aku dan teman-teman sudah semaput. Dikasih makan siang ala tentara, belum lagi disuruh ini itu, segala macam yang ada dalam orientasi kemiliteran. Hampir setiap malam setelah latihan selesai aku diam-diam nangis di balik selimut, supaya tidak ketahuan teman satu barak. Tangan dan kaki lecet, badan lelah, muka gosong, rengekan dalam hati cuma satu: “Ayah, Ibu, mau pulang.”

Baru lepas dari kurungan militer, kami pun beralih ke Depok, tepatnya di Kinasih Resort Depok untuk mengikuti pembidangan, sekolah lagi. Tanggal 16 Februari sampai 18 April kami di sana. Setiap Senin sampai Jumat belajar, dengan segala macam tata tertibnya, mulai dari mandi, makan, berjalan dan segalanya. Hari Sabtu dan Minggu pun masih ada kegiatan, HP dikumpul dan baru bisa diambil Jumat sore. Untungnya, setiap hari Minggu kami boleh dikunjungi.

Dia, dengan segala perjuangannya hampir setiap 2 minggu sekali mengunjungiku dari Tangerang ke Depok. Sungguh Tuhan Maha Baik, aku diberi dia yang sejauh ini begitu sabar dan tulus. Entahlah, aku pun belum bisa membalasnya hingga kini.  

Selama dua bulan belajar, aku bertemu banyak karakter manusia yang lagi-lagi membuatku menjadi kuat. Mulai dari yang manja, mandiri, baik, jahat, egois, dan sebagainya. Semua berkumpul menjadi satu. Saat itu aku sekamar dengan teman dari Blitar, Nganjuk, dan Selapan (daerah di kota Palembang), dan ketiganya lebih muda dariku. Jadilah selama masa pendidikan aku memiliki banyak anak.

Sampai pada saat pembagian penempatan, aku ditempatkan di kantor Distribusi Jawa Barat bersama 11 teman yang lain, yang 6 di antaranya juga orang Palembang. Tentulah aku masih biasa saja, masih belum terasa sepi, perjuangannya masih belum begitu terasa. Hampir diculik gocar pun berdua, masih ada teman. Jalan-jalan rame-rame selama 10 hari menginap di hotel Nandya di Jalan Pangarang Bandung.

Rabu, 27 April 2017 perjuangan sebenarnya dimulai. Aku ditempatkan di kantor PLN Area Majalaya. Hari itu dia pulang pagi karena harus bekerja dengan shift malam, tapi dia sudah berjanji: “Mau di manapun kamu ditempatkan, di Papua sekalipun, aku bakalan ambil cuti buat nemenin kamu.” Dan, jadilah dia berangkat jam 2 siang menuju Bandung, tiba sekitar habis isya. Lagi-lagi, aku beruntung memiliknya, benar-benar tidak ada kata tidak, meski aku tahu kalau dia begitu lelah.

Malam itu, kami naik gocar menuju Baleendah. Kami tiba sekitar pukul 09:45 WIB. Saat itu kami di drop di depan kantor PLN Area Majalaya, dengan gesitnya dia membawa koper dan tasku. Sementara aku hanya membuntut di belakang, baiknya waktu itu kami diantar satpam untuk mencari kos di daerah situ. Tibalah kami di satu kos yang katanya isinya banyak orang PLN juga. Alhamdulillah aku dapat kamar dan dia pun dapat satu kamar kosong. Jadilah malam itu kami membersihkan dua kamar itu sampai hampir larut. Lelahnya tidak bisa ditutupi, mata itu terlihat sayu.

Tiga hari dia menemaniku, meski ketika aku berangkat ke kantor dia harus menghabiskan waktu hanya di kamarnya, atau mungkin keluar hanya untuk mencari makan. Sepulang kerja dia pun menjemput ke kantor, meski hanya jalan kaki di bawah rintik hujan. Itu sudah sangat membuatku berterima kasih. Dia sungguh luar biasa bagiku. Entahlah, sudah tidak ada kata-kata lagi yang bisa menggambarkan pengorbanannya sejauh ini.

Dan, sepi pun mulai mendekat ketika dia kembali ke Tangerang. Aku mulai sendirian, meski hampir setiap mala dia menemani via telepon, tetap saja drama menangis ketika bangun dan akan tidur itu tidak hilang. Sadar kalau ketika bangun aku sendirian di kota orang, lalu menangis. Aku kuat menjalani lelah karena bekerja, tapi aku rapuh ketika mengingat aku sendirian di sini. Sering pura-pura tegar di depan orangtua dan dia, tapi ketika mereka sibuk dan tidak punya waktu hanya untuk sekadar menelepon, mulailah sedih itu kembali beranak pinak. Sama seperti rinduku pada mereka. Saat ini, aku masih terus berusaha menjadi kuat, supaya kelak aku akan lebih siap menjalani kehidupan yang mungkin lebih keras dari ini. Nanti, saat kami sudah bersama tapi tetap terpisah jarak.





Monday, 24 April 2017

REALISTIS


Semakin ke sini aku semakin paham, bahwa setiap apapun yang direncanakan sesuai dengan keinginan tidak akan selalu berjalan dalam satu garis lurus. Dilema ini makin menjadi ketika banyak ketidakpastian dalam hidup. Sebenarnya sah-sah saja kalau dalam hidup ini banyak tanya yang tidak ada atau belum ada jawabnya dalam waktu dekat, tapi yang menjadi masalah adalah apakah kita mampu bertahan dalam banyak terkaan dalam kepala tentang jawaban itu sendiri?

Egois, ialah salah satu sifat dasar manusia yang tentulah sudah mengakar sejak lahir, yang tidak bisa dihilangkan sampai ke angka nol. Kita tentulah akan mendahulukan kebahagiaan diri sendiri baru orang lain, juga keinginan sendiri baru keinginan orang lain. Hal yang demikian adalah lumrah adanya.

Di saat ada keinginan yang kita pun sebenarnya tidak memaksakan, yang sebetulnya kita sendiri mencari tahu apa yang harus dilakukan dalam kondisi demikian, salah satunya menikah. Entahlah, sepertinya hal itu menjadi momok besar dalam kepala banyak wanita, atau mungkin aku saja?

Aku tidak iri dengan mereka yang bisa menikah lebih dulu dengan segala macam hal, perayaan, dan sebagainya yang sesuai bahkan melebihi ekspektasi mereka. Yang menjadi momok besar dalam kepalaku saat ini adalah: salahkah aku?

Apakah aku terlalu menuntut? Aku bingung, tidak tahu harus mengambil keputusan yang seperti apa, di satu sisi aku ingin disegerakan, di satu sisi aku tidak tega. Aku tahu persisi posisi itu, posisi yang begitu berat, melibatkan banyak hal yang menjadi ujung tombak dalam kebahagiaan: keluarga dan orang terkasih.

Mengapa wanita punya target usia untuk menikah? Aku pribadi hanya ingin menghindari fitnah, karena sejatinya rasa cinta itu sulit sekali untuk dikendalkan, hanya ada dua kemungkinan: bisa menjadi kebaikan atau malah membawa dalam jurang yang menyesatkan. Tapi di satu sisi, pria  tentulah punya alasan tersendiri dengan targetnya, mereka  harus membalas budi kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, tidak mengecewakan.

Di saat orangtuanya mengatakan bahwa mereka haruslah siap secara lahir batin dan finansial, di saat itulah posisi pria menjadi begitu rumit. Di satu sisi mereka harus menyegerakan, supaya si wanita tidak terlalu lama menunggu untuk menghindari fintah, tapi di satu sisi mereka harus mengutamkan keluarga lebih dulu. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh wanita selain menunggu dan bersabar? Kurasa tidak ada.

Sulit, ini begitu sulit. Ketika ada dua kepala ingin menyatu, namun keadaan mengharuskan mereka untuk berpikir keras, di saat itulah kesabaran dan keikhlasan diuji. Di saat itulah bahagia mungkin tak selalu berupa hal yang diinginkan segera terjadi.

Allahurabbi, kuatkan hati kami.

Tuesday, 11 April 2017

MINGGU SORE DI KINASIH

26 Maret 2017

Seperti biasa, gadis itu selalu terlihat repot setiap kali jadwal kunjungan tiba. Sudah dari semalam, bahkan dua minggu yang lalu dia menunggu. Iya, jadwal itu memang akan datang dua minggu sekali. Tidak ada persiapan khusus, hanya saja dia selalu ingin menampilkan yang terbaik, meski dia tahu tidak ada yang berubah dari dirinya. Di Minggu kali ini, kekasihnya kembali datang, berjuang menembus macet dan lelah bekas bekerja seharian. Rela berlelah menggandul tangan di atas kaitan besi dalam gerbong panas berisi banyak penumpang. Iya, begitulah rute yang harus ditempuh kekasihnya dari kosan menuju tempat gadis itu menempuh pendidikan sekarang. Ditambah lagi harus naik gojek supaya bisa masuk ke kawasan Resort di sana.

Siang itu panas terik, dia seperti enggan keluar kamar kalau bukan karena kekasihnya akan datang. Minggu ini tempat makan siswa prajabatan mereka dipindahkan ke Saung Besi, tempat makan yang letaknya lebih jauh dari kamar tinggalnya. Makan siang kali itu dilewati dengan harap-harap cemas, sebab beberapa kali dia mengecek ponsel, bahkan menelpon, kekasihnya belum juga ada kabar. Sampai pada penutupan doa makan, sebuah pesan masuk ke Whatsapp-nya yang isinya dari kekasihnya. Laki-laki yang selalu terlihat gagah di matanya itu ternyata sudah tiba, dia menunggu di tempat makan biasnya, di hall Leonie.

Hari itu, kebetulan ada tamu lain di Resort itu yang mengharuskan mereka mencari tempat lain untuk bertemu. Gadis itu segera saja mendahului temannya yang masih duduk santai di meja makan supaya bisa segera bertatap muka dengan kekasihnya. Dari kejauhan, tampaklah gagahnya bergerak mendekat dari arah berlawanan. Dia sudah bisa memastikan kalau itu adalah kekasihnya. Dia memakai kaos berwarna abu-abu tua, celana jin, dan memakai tas punggung berwarna hitam. Wajahnya nampak lelah. Segera saja gadis itu menghampirinya, di belakangnya sudah banyak suara-suara sumbang yang bilang “ciyee” ketika dua pasang mata itu beradu dan melempar senyum masing-masing.

“Tadi aku nunggu di tempat biasa.”
“Oh, iya. Di sana ada acara, jadi kita gak bisa duduk di sana. Kamu mau solat dulu? Di belakang ada mushola, tapi jauh.”
Mereka berjalan beriringan.
“Iya, kami solat di sana aja.” Laki-laki itu bergerak menuju rumah kayu yang berada di sisi kiri.
“Yakin, kayaknya gak bisa dipake lagi deh,” gadis itu menyela.
“waktu itu kami solat di sana.”
Gadis itu mengangguk, “Ya udah kalo gitu, kami solat di kamar dulu ya. Sekalian mau ambil laptop.”

***

Sepanjang perjalanan menuju kamar, senyum gadis itu begitu rekah, meski dia sadar penuh kalau penampilannya sungguh di luar harapan, siang itu begitu terik, wajahnya tentulah gosong ditimpa sinar matahari. Urunglah sudah memberi tampilan terbaik yang hanya bisa dia lakukan dua minggu sekali itu. Setibanya di kamar, dia segera menarik tas, memasukkan laptop, menyemprotkan minyak wangi di baju, juga merapikan sedikit tampilannya.
Riwehnya bertambah lagi ketika satu pesan masuk dari kekasihnya, dia bilang kalau rumah kayu itu tidak bisa dipakai solat. Gadis itu mengembuskan napas, bergegas memasukkan mukenah ke dalam tas, saking repotnya dia, jam tangannya pun sampai lepas. Masa bodohlah, yang penting kekasihnya tidak merasa kesal karena lama menunggu.

Dia bergegas menapaki anak tangga resort, kamarnya berada di lantai kedua di sisi kiri dan paling ujung. Mereka bertemu di depan hall, dengan masing-masing tas menggantug di pundak. Saling melempar senyuman. Tidakkah kalian tahu, senyuman itu yang selalu dia nantikan. Seolah melihat masa depan di sana, masa depan yang sederhana namun membahagiakan. Senyuman yang selalu berusaha mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Kan, udah aku bilang tadi. Ya udah, kita solat di belakang aja, tapi jauh banget. Musholanya dekat gerbang keluar, dekat kelasku.” Gadis itu bersungut, mencoba mensejajari kekasihnya.
“Ya udah, gak apa-apa jauh, bisa jalan-jalan,” laki-laki itu kembali menyulut senyum.

Kaki-kaki itu menapaki aspal yang ditutupi rindangnya pepohonan di kanan-kiri, melewati rumah kayu, lapangan basket, rumah tinggal bagi siswa dan tamu lain, melewati banyak kelokan. Sesekali gadis itu mengeluh panas lalu menyeka keringat.

“Uh, panas. Jauh lagi, setiap hari kami kayak gini. Kelasku jauh, mana bawaan berat lagi.”
Laki-laki itu menarik lembut tangan gadis itu, membawanya ke tepi. “Minggir sini, ada mobil.”
Gadis itu kini berada sedikit lebih di depan, kembali menyeka wajah, dengan tisu menempeli sisi-sisi jilbabnya dengan harapan wajahnya tidak begitu gosong.

“Udah, gak apa-apa panas, jauh, sekalian ngurusin badan. Biar sehat juga,” celetuk kekasihnya. Dia selalu mengucap ringan, tidak pernah mau ambil pusing soal hal yang seperti itu.
Dia selalu bilang: “Udah, nanti juga putih lagi.” Atau “Udah, nanti juga jerawatnya ilang.”

Kekasihnya selalu membuatnya nampak sempurna tanpa harus bersusah payah tampil luar biasa untuknya. Hal itulah yang membuat gadis itu merasa diterima apa adanya, sebab dia tahu, dirinya pun biasa saja. Tapi tidak dengan kekasihnya, dia selalu mengatakan bahwa kekasihnya tampan. Tidak peduli banyak laki-laki lain yang mungkin lebih trendy dibanding kekasihnya. Yang dia tahu, ketampanan kekasihnya berasal dari hatinya yang tulus dan kesederhanaannya yang begitu menenangkan. Wajar saja kalau gadis itu betah menatapinya tanpa harus banyak kata yang mewakilinya.

Bersambung....