Wednesday, 25 January 2017

APA LAGI YANG DICARI?



Yanti Handia, 23 tahun.

Apa lagi yang dicari? Kurasa sudah tidak ada lagi. Allah begitu baik padaku, meletakkan segala sesuatunya sesuai dengan apa yang aku butuhkan. Keluarga, sahabat, pekerjaan, orang tersayang, semuanya. Hanya saja kadang aku masih terlalu sombong untuk tidak taat dengan sebenar-benarnya taat pada-Nya.
Iya, aku ini manusia biasa yang tentunya punya banyak mimpi dan asa. Punya mimpi membahagiakan kedua orangtua, adik, kakak, dan keluarga besar tentunya. Juga punya impian yang sangat besar, menikah dan dinikahi dengan dasar cinta dan agama. 

Tapi, seringkali kesemua mimpi itu tidak bisa terwujud secara bersamaan. Kadang kita mesti rela mengorbankan salah satu di antara banyak mimpi dan niat baik itu. Salah satunya menikah, sejak dulu impian terbesarku bukanlah menikah dengan resepsi paling mewah, kalau soal itu kukira siapa saja mau kalau bisa. Bukan, bukan itu, tapi mimpiku adalah menikah dengan kemudian menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Mengurus suami dan anak-anakku dengan tanganku sendiri, meski mungkin tanganku tak seterampil ibu-ibu kami yang pandai memasak makanan enak, atau membuat kopi dengan rasa yang pas, juga menyetrika pakaian dengan rapi dan tertata.

Tapi Allah berkata lain, aku diberi kesempatan untuk mengabdi pada keluarga besarku dengan segenap kemampuan yang diberikan padaku. Berat, sangat berat. Tapi aku yakin Allah memberiku tugas ini karena aku mampu, meski aku sendiri kadang mempertanyakan perkara itu. Apa aku bisa?

Aku akan terikat ikatan dinas pekerjaan selama 5 tahun di kota orang, jauh dari keluarga, berjuang sendiri, meski aku tahu Allah selalu bersamaku. Jika dia berkenan, mungkin aku bisa menikah dengan dia yang selama ini menjadi bagian dari doaku lebih cepat dari yang kami duga. Wallahu’alam. Aku tidak pernah berdoa untuk pinta yang begitu banyak, cukup dimudahkan saja jalan kami menuju semuanya. Semua impian terbesar kami untuk bersama agar terhindar dari dosa yang makin hari makin menumpuk saja.

Aku tidak mau semua ini menjadi beban bagi siapapun, dia, keluargaku, juga keluarganya. Aku pun tak punya kuasa besar untuk memastikan kapan hari itu tiba, yang kutahu kami sudah berjuang bersama-sama dan tidak akan saling meninggalkan walau sejenak. Saat ini, tak ada pintaku lagi kecuali dimudahkan untuk menyegerakan, karena terlalu lama tentulah membuat semuanya menjadi tidak baik. Aku tahu Allah, Engkau maha mengetahui isi hati kami. Di mana niat baik ini hanya untuk orang-orang terkasih. 

Apa lagi yang dicari? Tidak ada. Hanya ketenangan beribadah padamu, kelak, besamama suami di sisi. Aamiin.

LULUS PLN!



Selamat malam, finally bisa nepatin janji setelah sekian lama janji mau nulis soal perjalanan kenapa bisa lulus PLN hehe. Um, mesti dijabarin dari mana, ya? Baiklah, dimulai dari perjuangan pertama kali aja ya.

Pertama kali aku ikut tes PLN itu waktu ada rekrutmen sekitar bulan Mei tahun 2015. Waktu itu aku baru 3 bulan kerja di perusahan properti rumah mewah di Palembang. Waktu itu masih banyak temen seangkatan aku yang ikutan daftar karena memang kami baru wisuda beberapa bulan sebelumnya. Waktu itu aku gagal di tahap kesehatan fisik.

Pada saat itu tes kesehatan dilaksanakan di klinik Pramita di Jalan Veteran. Entahlah, aku gak tahu kurangnya di mana karena setiap instansi beda penilaian. Semua punya grade penilaian kesehatan yang beda. Dulu, waktu tes di PT Pusri aku lulus tes kesehatannya. Um, setelah kupikir-pikir, bisa jadi aku gak lulus waktu tes mata. Waktu itu aku inget betul, pegawainya salah kasih instruksi. Dia bilang baris ketiga, tapi yang aku baca baris keempat, pokoknya beda lah yang mana yang dia mau dan aku baca. Mungkin selain memang bukan rezekiku waktu itu, mungkin di situ letak gagalnya perjuanganku waktu itu.

Kemudian pada tes kedua, sekitar bulan Desember 2015 aku ikut lagi. Setiap proses tes gak pernah aku lewatin dengan kata “nyoba aja”. Aku paling pantang soal masa depan buat coba-coba. Kalo memang gak mau ya mending gak usah ikut. Jadi waktu tes kedua ini aku gagal lagi, kali itu di kesehatan lab. Padahal waktu itu, aku inget banget setiap hari Minggu aku jogging bareng adek tingkatku demi supaya bisa lulus tes kesehatan. Sampe waktu itu pas banget gerhana matahari, orang pada solat di masjid, lah kami malah jogging haha. Saking niatnya.

Dan, lagi-lagi masih belum rezekiku. Entahlah, aku bingung, aku ini sakit apa, sih? Padahal olahraga udah rajin, makan sayur, buah, dll, tapi kok masih gak lulus? Kita kesampingkan dulu lah yang namanya rezeki. Rezeki bakal ngikutin kalo kita usaha maksimal, kan? Waktu itu kami tes kesehatan di rumah sakit Siloam.
Setelah gagal, hampir di tahap terakhir berulang kali, aku makin koreksi diri. Di mana letak kurangnya? Jadi, dengan niat yang semakin diluruskan, waktu itu aku ikut tes Indonesia Power dan berniat perbaiki pola makan. Memang waktu itu aku gak peduli lah soal badan mau gendut lah, apalah, sampe berat badanku tembus 53 kg. Setelah kupikir-pikir, apa iya aku punya kolesterol? Semenjak itulah aku mulai berniat buat bener-bener jaga badan. Waktu itu aku gagal di tahap akademik.

Setelah beberapa waktu, PLN kembali membuka rekrutmen, bulan Oktober 2016. Lagi-lagi, dengan niat yang penuh dan semakin diluruskan, aku ikutan lagi. Gak ada gentar sedikitpun. Alhamdulillah sejauh itu aku berhasil melewati tahap tes yang mengandalkan otak supaya bisa lulus. Waktu itu jumlah peserta yang lulus ke tahap GAT ada 3.676 orang. Kemudian setengahnya lulus ke tahap Akading, kemudian setengahnya lagi lulus di tahap psikotes, kemudian setengahnya lagi lulus di tahap kesehatan fisik, dan yang paling bikin stres mikirin jumlah peserta dari jurusanku, Adminisitrasi Bisnis atau Niaga waktu itu 60 orang, dan tadaaaa yang lanjut ke tahap wawancara hanya 26 orang. 

Dan, alhamdulillah aku menjadi bagian dari 18 orang yang kemudian lulus sampai tahap akhir dan masuk ke angkatan 57 dan bakal berangkat tanggal 4 Februari 2017 ini untuk mengikuti kesamaptaan.
Gimana sih bisa lulus tes laboratorium?

Dari ada pengumuman rekrutmen PLN aku udah mulai nyiapin senjata, apaan senjatanya? Cek kesehatan ke dokter. Waktu itu, bahkan sebelum ada pengumuman lulus administrasi aku udah cek kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat. Waktu itu kadar gula darahku normal, aku lupa berapa. Kadar asam urat 6,5 yang seharusnya cewek itu maksimal 5. Dan kadar kolesterolku luar biasa tinggi, 210! Dari situ aku sadar, wajarlah kalo sebelumnya aku gagal. Lah wong kolesterolku di atas batas normal. 

Semenjak itu aku dibilangin dokter gak boleh makan sayur-sayuran warna hijau, wajarlah waktu itu aku gak lolos, aku malah lalapin tuh sayur hijau. Ini katanya supaya asam uratnya turun, gak boleh juga makan kacang-kacangan. Gak boleh makan gorengan, mesti diet dan olahraga. Jadi, mulailah aku cari-cari di internet apa aja yang mesti dimakan biar cepetan sehat. Waktu itu aku dapet info kalo asam urat bisa cepet turun dengan minum jus seledri, terus kolesterol turun degan minum infus water dari lemon. Jadilah waktu itu aku diet ketat, aku makan ikan kalo gak dikukus ya dipanggang. Tiap malem minum jus seledri, dicampur mangga, pepaya, biar gak muntah.

Siangnya minum lemon, atau gak paginya pas bangun tidur dikasih garam dikit biar gak sakit perut. Setelah hampir satu bulan dan waktu itu udah masuk tahap psikotes ternyata seledri beneran ampuh, asam uratku turun jadi 3,5, tapi kolesterolku susah banget turun, jadi 200. Sementara aku mesti dapet angka di bawah itu biar bisa lulus. Jadilah aku beli obat kolesterol di apotek dengan resep dokter, aku lupa apa namanya, tapi cari aja di apotek pasti ada.

Nah salahnya aku waktu itu masih gak bisa nahan, masih lah nyolong makan bakso sama steak padahal udah diet ketat banget. Sampe beneran aku turun 2 kg. Jangan ditiru lah, kalo niat mesti maksimal biar hasilnya maksimal. Jadi waktu itu asam uratku turun lagi jadi 3, tenang banget rasanya. Jadi ngurangin minum jus seledri karena gak boleh berlebihan juga. Kolseterolku malah naik jadi 207. Pasti gara-gara nyolong makan bakso tuh. Jangan ditiru!

Waktu itu aku udah lulus tes kesehatan fisik, kami tes di R. S. Siloam lagi. Sampailah H-1 tes laboratorium. Beneran gelisah, aku mutusin buat cek lagi. Ternyata kadar kolesterolku naik lagi jadi 211. Beneran lemes waktu itu, mana ada yang bilang standard PLN 150 buat kolesterol. Rasanya pasrah banget. Sampe lah pas ambil darah dokternya nanya: 
“Ada riwayat kolesterol tinggi?”
Aku nggeleng aja, muka polos gitu. Eh begonya nanya lagi: “Emang berapa batesnya, dok?” sambil masang muka datar.
“Oh, 200 normalnya. Emang udah pernah cek?” Dasaran emang geblek akunya.
“Kemaren sempet 207, dok.”
“Oh, gak apa.”
Padahal jantung rasanya mau copot kalo-kalo gak lulus lagi tes lab.
Selain jaga makan, aku juga rutin olahraga sehabis solat subuh. Minimal jalan kaki 10 menit lah depan rumah. Aku juga kadang push up dan kawan-kawan biar makin afdol. Dan alhamdulillah dikasih kesempatan buat lulus.

Dari kesemua usaha yang ada, yang paling penting adalah niat dan restu orangtua. Solat wajib tepat waktu, solat tahajjud, solat hajat, baca Al-Qur’an surat Al-Waqi’ah tiap habis subuh sama habis magrib. Bismillah kalo memang rezeki gak ke mana hehe.

Thursday, 19 January 2017

SOON TO BE “ANAK RANTAUAN”



Hari ini, 19 Januari 2017 aku resmi terhitung sebagai pengangguran setelah mengajukan surat resign tanggal 4 Januari 2017 lalu, yang meminta tanggal 18 Januari 2017 adalah hari terakhir bekerja. Kenapa resign? Alhamdulillah, doa-doaku terdahulu sudah diijabah Allah SWT. Tanggal 4 Februari nanti aku dan teman-teman satu angkatan D3 Palembang PLN angkatan 57 akan berangkat menuju Lembang, Bandung, untuk mengikuti pelatihan kesamaptaan.

Aku lulus dari kampusku tercinta, Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang jurusan Administrasi Bisnis pada 31 Agustus 2014 lalu.  Sebelumnya, waktu masih semester pertama sampai ke semester 4, obsesiku masih ingin bekerja di bank, sampai ada satu Dosen waktu itu membuat video kami sekelas buat kenang-kenangan, katanya. Waktu itu aku bilang mau jadi Customer Service bank Mandiri dan buka butik, pada diaminin temen-temen. Entahlah, waktu itu aku tertarik banget jadi CS bank. Menurutku, selain cantik dan pintar, pegawai bank dengan pakaian seragam rapi itu terlihat lebih berkelas. Kenapa malah ikutan tes BUMN? 

Jadi, waktu itu aku dan teman-temenku semakin naik semester semakin mikirin masa depan. Banyaklah cerita tentang berbagai macam pekerjaan, termasuklah pekerja bank yang kerjanya suka lemburan, terus segala macamnya. Sampai waktu itu, kalo gak salah sehabis kakak tingkat dua tahun di atas kami wisuda, Dosenku cerita kalau salah satu dari mereka lulus di PJKA dan bank Sumsel Babel, kemudian tahun selanjutnya pada banyak yang lulus PLN, waktu itu masih sekitar angkatan ke 41-42 dan banyak kakak tingkatku yang satu organisasi di HMJ Adm. Bisnis yang lulus di sana.

Ditambah lagi teman dekatku, Windy, dia tiba-tiba ngabarin lulus di PJKA waktu semester 5, waktu kami lagi sibuk-sibuknya nyusun laporan magang. Terjadilah tukar pikiran dengan temanku yang lain, yang pada akhirnya terbitlah satu pemikiran baru dalam kepalaku. Aku mau kerja di BUMN beberapa tahun buat ngumpulin modal biar bisa buka butik, kemudian resign dan jadi ibu rumah tangga yang full ngurusin suami dan anak-anakku. Aku sudah se-visioner itu. Memang sejak kecil otakku didesain untuk berpikiran jauh ke depan kayaknya. Sejak SMA aku malah udah bikin list prestasi dan tujuan hidup, salah satunya nikah di umur 25, dan ayahku tahu soal itu. Aku satu-satunya anak mereka yang kalau udah punya keinginan, gak bakal gentar walau diterjang ombang sekalipun. Huehehe

Sampailah waktu itu sebelum kami wisuda, ternyata PT PUSRI membuka rekrutmen, aku ingat banget waktu itu hampir semua anak dari seluruh jurusan seangkatanku mau daftar. Waktu itu kami cuma pegang surat keterangan lulus dan khs dari semester awal dan ternyata boleh digunakan sebagai pengganti ijazah dan transkrip nilai. Aku dan temen-temen berjuang seharian nungguin legalisasi khs karena besoknya hari terakhir pendaftaran. 

Aku ingat betul waktu itu, di tahap Administrasi yang lulus untuk masuk ke tahap Aptitude itu cuma 31 orang dari jurusanku. Di tahap kedua yang lulus cuma sekitar 19 orang, yaitu (TOEFL). Tahap selanjutnya, psikotes dan wawancara psikotes tinggal 16 orang. Masuk ke tahap kesehatan sisa 12 orang sampai ke wawancara. Dan dari 12 orang itu cuma lulus 3 orang.

Itu perjuangan pertamaku, perjuangan yang sekaligus pembelajaran besar, bahwa sabar dan ikhlas itu sungguh sangat sulit. Bayangin, waktu itu baru selesai wisuda udah nyampe tahap akhir tes BUMN yang tentulah banyak orang mau masuk ke sana dan aku gagal di tahap terakhir, mana waktu itu beneran belum masukin lamaran ke mana pun. Sampai pada akhirnya aku masukin lamaran ke perusahaan Developer, properti rumah mewah di Palembang dan diterima sebagai Sekretaris Direktur selama 6 bulan dan dapat promosi jadi Asisten Manajer Keuangan, yang Manajer Keuangannya itu adik kandung owner. Tepat 1 tahun, 11 bulan, 7 hari terhitung sejak 11 Februari 2015 lalu aku menjadi karyawan di sana. Banyak sekali pembelajaran selama kurang lebih 2 tahun itu sampai pada akhirnya aku lulus di PLN setelah 2 kali gagal. Untuk kisah lulus di PLN ini bakal aku tulis di sesi berikutnya, khusus hehe.

Jadi, sebenarnya kalau mau bilang jujur, siapa sih yang mau jauh dari orangtua. Iya, kan? Tapi kalau semua demi kebaikan orangtua dan saudara itu gak masalah. Kita yang tadinya merasa gak kuat akan dikuatkan Allah, aku yakin itu. Seperti kata ayahku, “kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak?” 

Kalau temen-temenku yang udah duluan merantau bisa baik-baik saja, tentulah aku akan bisa seperti mereka. Aku bisa dikategorikan anak manja, sejak kecil apa-apa diurus ayah. Antar jemput dan sebagainya. Dan sekarang, tibalah waktunya semua itu berkahir. Aku harus jadi anak yang mandiri.

Aku punya sedikit cerita tentang mencoba mandiri beberapa hari yang lalu. Sudah sejak lama aku berniat buat main ke rumah Demang, rumahnya calon mertua hehehe. Biasanya kalau mau main ke sana aku nunggu anaknya pulang dulu, makmlumlah dia udah jadi anak rantauan duluan. Tapi minggu lalu aku berani ke sana sendirian. Aku gak pernah pergi sendirian sejauh itu, selain dulu pulang dari kampus kalau gak dijemput ayah.
Malemnya aku udah bilang sama si dia (ceile si dia wkwk) mau ke rumahnya besoknya, karena katanya ibunya udah nanya kapan aku mau main ke sana lagi. Jadilah aklu download aplikasi gojek. Awalnya udah ragu duluan, beneran gak berani naik gojek karena temenku pernah dibawa minggat mamang gojek waktu kuliah dulu. Waktu nanya dia kalau naik angkot ke sana kayak gimana, dia juga kayaknya rada gak ngeh, sebentar bilang naik bus aja, sebentar bilang naik angkot. Hih.

Besoknya, niatku udah bulat. Setelah selesai beli sepatu sama mukenah buat keperluan kesamaptaan, aku nelpon dia dan bilang fix mau main ke Demang naik gojek. Jadilah aku pesen gojek dengan spot jantung yang gak karuan, selama di jalan aku banyak baca doa semoga gak diculik. Padahal gak bakalan tuh gojek mau nyulik kalau tahu porsi makanku sebanyak apa wkwk. Dan finally aku tiba di sana dengan selamat.
Gak kerasa hampir tiga jam ngobrol sama ayah ibu soal mau berangkat, soal anak mereka yang suka nelepon buat nanyain bumbu masakan. Semua diobrolin, sampailah pada topik ayah nanya: “kan dia belum penempatan juga, gimana kalau nanti dia dapat di Papua, kamu di Jakarta. Bisa gak PLN ini mutasi?”
Kujawablah seadanya: “Kabarnya sih bisa, yah, setelah sekitar 5 tahun. Kalau memang mau nikah mending ngurusin mutasi dulu, kalau udah acc baru nikah. Biar enak.”

Lah, udah bahas yang gituan aja. Si ibu juga nambahin: “semogalah kamu dapet di Jakarta ya, biar bisa deket sama dia.”
Aamiiiiiiiiiiiiin. Semogalah doa-doa dari ayah dan ibu kami bisa menjadi penguat jalan kami anak rantauan ini demi masa depan rumah tangga dan keluarga huehehe.

Thursday, 22 December 2016

TENTANG PENERIMAAN



Lampu kamarnya sudah lama dipadamkan, sengaja. Ia menatap layar ponselnya sejak sore, beberapa kali memeriksa chat di BBM, juga Whatsapp. Entahlah, perasaannya mulai terganggu sejak semalam. Sejak dia tiba-tiba melihat display picture Whatsapp kekasihnya sudah tidak ada lagi wajahnya. Sepele memang, tapi entahlah, dia mendadak kalut. Tidak mood seharian. Sudah sejak lama dia mencoba menepis perasaannya yang demikian, tapi selalu gagal. Padahal cuma foto. 

Badannya sudah merebah sejak tadi, dia ngantuk berat, tapi enggan menutup mata. Dia masih menunggu kekasihnya yang belum juga tiba di rumah sejak tadi pagi, bekerja seharian sampai malam. Dia memang begitu, sulit berdamai dengan perasaan kalau orang yang dia sayang belum memberi kabar. Badannya sudah bolak-balik diempas ke kanan-kiri, tapi tetap saja hatinya gamang. Tidak lama, kekasihnya memberi kabar. Dia sudah tiba di rumah. Tidak mau kekasihnya kelelahan, dia pun mengajak untuk menyudahi obrolan, meski pertambahan umurnya tinggal berjarak dua setengah jam lagi. Biarlah, kekasihnya pasti lelah. Dia mencintainya.

Entah karena efek minum kopi tadi siang atau karena memang menunggu pergantian tanggal malam ini, dia terbangun beberapa kali. Sudah dipastikan kantung matanya bertambah besar. Beberapa kali ponsel yang diletakkan di sebelah bantal disentuh, layarnya diusap beberapa kali. Biasanya dia menonaktifkan paket data supaya tidak ada yang mengganggunya tidur, tapi malam ini dia membiarkannya.

Dadanya bergemuruh seketika menatap toolbar atas pada ponselnya, pukul 23:47. Matanya begitu berat, ingin ditutup tapi tidak mau. Alih-alih supaya tidak mengantuk, dia membuka sosmed, di twitter sudah ada temannya yang mengucapkan selamat, tepat pukul 23:53. Dia menghela napas, yang dinantikan malam ini adalah deringan telepon dari kekasihnya, meski dia tahu kemungkinan itu sangat kecil. Kekasihnya baru saja pulang kerja, memastikan mesin pesawat dalam keadaan baik dan layak terbang untuk penumpang.

Kekasihnya adalah teknisi pesawat di luar kota, dia harus bisa menyesuaikan keadaan, apalagi dengan shift-nya yang berubah-ubah. Satu hari masuk pagi, satu hari masuk malam. Tentulah jadwal mereka tidak akan sama, dia bekerja dengan jam kerja biasa, seperti layaknya pekerja lain. Keadaan ini harus membuatnya membiasakan diri, menahan rindu yang entahlah mengapa semakin hari semakin beranak pinak. 

Tepat pukul 00:00, dadanya semakin bergemuruh. Berharap ponselnya berbunyi. Tapi, setelah dua menit menunggu hanya ada dentingan notifikasi BBM yang masuk. Dia tersenyum lebar, tentulah kekasihnya akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat untuknya. Benda canggih itu bergeser ke icon berwarna hitam dengan tujuh titik berwarna putih. Mendadak senyum itu memudar, ucapan selamat pertama kali malah datang dari orang lain, yang baginya tidak begitu penting.

Dia masih berharap, mungkin saja sinyal di kota kekasihnya sedang buruk, sehingga pesan yang dikirim tepat pukul 00:00 bisa jadi masuk ke ponselnya tiga puluh detik lebih lama. Dia menunggu dengan membuka sosmed yang lain, siapa tahu tiba-tiba foto di Whatsapp kekasihnya diganti dengan fotonya, tapi tidak. Atau di instagram? Bisa jadi kekasihnya mendadak romantis dengan tidak mengucapkan selamat, tapi langsung meng-upload fotonya di sana. Buru-buru dia mengecek, tapi tidak ada juga. Dia menghela napas panjang, sudah tidak ada lagi sosmed yang harus dipastikan.

Selang beberapa menit, tepat pada pukul 00:19, ucapan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya masuk. Satu pesan singkat di BBM masuk. Kali ini benar dari kekasihnya.

“Happy birthday sayangku.”

Cuma itu. Tidak ada yang lain. Dadanya mendadak ngilu, entahlah, yang ada di kepalanya saat ini hanyalah tentang kekasihnya. Mengapa kekasihnya tidak antusias, atau memang dia sendiri yang berlebihan? Ini hanya soal pertambahan umur, bukan hal spesial yang harus dipersiapkan secara matang bukan? Tentulah kalau kekasihnya hanya mengucapkan itu. Napasnya kembali menghela panjang. Dia tahu jarak sudah memastikan kalau sebuah perayaan kecil yang spesial tidak akan terjadi, atau satu buket bunga dan kue kecil, atau kumpulan teman-temannya yang diajak untuk memberi kejutan. Tidak semuanya. 

Kekasihnya bukan seperti kekasih-kekasih orang lain. Kekasihnya sudah tidak bisa romantis lagi seperti dulu. Dia memang kurang beruntung, tidak menemukan kekasihnya saat dulu, saat masih bisa berlaku romantis pada orang lain. Kekasihnya yang sekarang tidak begitu. Dia terlalu sibuk untuk hanya sekadar memikirkan tentang hal spesial apa yang harus dilakukan untuk hanya merayakan pertambahan usianya. Sudah bukan waktunya lagi, tapi bukan itu, bukan kado, kue, atau bunga yang dia tunggu. Hanya telepon. Itu saja. Mendadak pipinya menghangat, setitik air sudah mengalir. Kepalanya ditekan kuat-kuat di atas bantal, supaya tidak ada yang mendengar isakannya.

****

Pagi itu, dia kembali mendapati satu pesan dari kekasihnya, yang isinya adalah doa yang terlambat diucapkan semalam, ketiduran katanya.
"Ciye yang hari ini ulang tahun, kamu mau apa?"
"Mau apa ya? Diucapin aja udah, tapi kalau dipasang foto juga boleh."
"Oh, tenang, tunggu dipasang dulu, ya."
Dan tidak lama dari itu, fotonya pun terpasang pada kontak kekasihnya, hanya saja foto itu sudah diedit seperti meme lucu-lucuan dan statusnya diganti menjadi "habede nyonya kecil". Kekasihnya tidak bisa romantis, katanya.

Sudahlah, dia sudah tidak begitu mempermasalahkan, hari ini masih panjang. Masih banyak kemungkinan, bisa jadi kekasihnya diam-diam pulang, seperti waktu itu.
“Yang, kirim alamat kantor kamu, ya.”
“Buat apa?” Dia bertanya dengan dahi mengkerut. Kekasihnya ada perlu apa?
“Ya mau tahu aja, emang nggak boleh?”
“Ah, kamu mau ngirim apaan? Suka nggak ngomong, ih.”
“Mau ngirim ini ke kamu ...”
Dan saat itu kekasihnya mengirimkan lokasinya saat itu via BBM. Ternyata dia pulang, sebelumnya dia bilang kalau dia tidak bisa pulang sampai waktu yang belum diketahui.
“Sebenarnya mau ngasih tahu kamu pas udah depan kantor kamu aja, kejutan, tapi sayangnya nggak bisa bohongi kamu lama-lama.” 

Dan benar saja, besoknya kekasihnya menjemputnya di kantor. Itu terjadi bulan lalu, maka bisa dipastikan bulan ini kekasihnya tidak akan pulang. Bisa saja, tapi mereka harus rela tidak menabung kalau sampai kekasihnya beneran pulang bulan ini.

Setibanya di kantor, sudah banyak ucapan selamat yang dia terima, pesan dari teman-teman, telepon, bahkan satu buket bunga dia terima. Saat itu, dia mendapat kue dari rekan sekantornya selepas makan siang. Makan-makan, foto-foto, seru-seruan, dan satu buket bunga yang dikirim via gojek juga ikut memeriahkan pertambahan usianya. 

Wajahnya tersenyum, tapi tidak demikian dengan hatinya, semeriah apapun perayaan hari itu tetaplah biasa saja tanpa satu hal spesial dari kekasihnya, telepon. Tapi, seharian kekasihnya malah sibuk mengurus temannya yang tiba-tiba harus diopname di rumah sakit, sebagai teman satu kosan yang baik, kekasihnya harus rela menghabiskan seharian waktunya untuk itu. Dia kembali menghela napas panjang, ingin marah, kecewa, tapi tidak bisa. Dia bukan lagi anak kecil. Dia tetap tidak bisa marah pada kekasihnya itu, paling cuma ngambek sebentar.

Malam itu kekasihnya pun harus kembali menunaikan tugas dan dia harus rela menghabiskan waktu sendirian lagi. Begitulah pertambahan usia yang dia lewatkan tahun ini, tidak beda jauh dengan tahun kemarin, hanya saja tahun kemarin kekasihnya pulang sehari setelah pertambahan usianya. Sama, tidak ada hal spesial, bahkan di hari dia memutuskan untuk merayakannya bersama temannya, kekasihnya pergi dengan temannya juga. Dia hanya menyempatkan sedikit waktu untuk menghampiri, menyalaminya untuk mengucapkan selamat. Itu saja.

Dia sudah berusia dua puluh tiga tahun dan sudah selayaknya untuk bisa menjalani yang namanya penerimaan dalam hidup. Menerima bahwa kekasihnya sudah tidak bisa lagi romantis, menerima bahwa kekasihnya sibuk, menerima bahwa egoisme tidak akan membuat semuanya lebih baik, menerima bahwa rindunya harus kembali ditahan, menerima bahwa di sana kekasihnya sedang berjuang, dan tidak ada hal yang lebih penting dari sebuah perjuangan demi masa depan. Dia mencintai kekasihnya. Sangat.