Friday, 21 October 2016

KALAU SAJA BISA, AKU MAU PUTAR BALIK (EPISODE 1)



Malam ini gak tahu kenapa kangen aja buka folder-folder lama di hardisk gegara mau cari file lama. Kebukalah folder masa-masa kuliah, mulai dari zaman diksarlin yang muka gosong, ancur parah, sumpah. Inget banget waktu itu aku di pleton 7 karena waktu itu  lulus di jurusan Adm. Bisnis kelas non reguler atau kelas yang masuknya siang. Waktu itu aku ketemu sama 3 cewek yang kebetulan badannya semampai kayak aku, semeter gak sampai maksudanya hahaha. 

Berpedoman punya tinggi yang sama, kami pun sama-sama terus sampai hari terakhir diksar. Namanya Nia, dia jurusan Elektro sama kayak Dina, tapi mereka beda konsentrasi, satunya lagi Reni, anak mesin. Wow, nih cewek keren bener, tahun itu kalo gak salah cuma dia mahasiswi di jurusan Teknik Mesin. Katanya kemarin dia ikutan PMPA, ambil jurusan Teknik Sipil sama Mesin, eh lulusnya di Mesin. Kasihan campuR bahagia juga sih dengernya, karena dia satu-satunya cewek, pastilah dia dijagain sama banyak cowok-cowok kece zaman itu hahaha.

Sementara aku, ternyata aku naik ke kelas reguler karena ada beberapa peserta yang mengundurkan diri. Sumpah, aku ngerasa bahagia banget waktu tahu bisa masuk kelas pagi. Padahal sebelum kami lulus di POLSRI, aku dan teman-temanku ikutan tes SNMPTN, empat dari kami lulus di Polsri kelas siang, sementara satu  mengundurkan diri, dan  ternyata  aku sendiri yang pindah  ke kelas pagi.

Dunia anak kuliahan itu keren ya, pakai baju bebas, bebas berekspresi. Itu sih maunya aku, tapi ternyata POLSRI berbeda. Entahlah, selain karena tidak lulus SNMPTN karena memang ambil jurusan Akuntansi dan Ekonomi (padahal aku anak IPA), juga gak lulus di Depkes (jurusan farmasi dan ahli gizi), juga gak lulus beasiswa Sampoerna Bussines School, jadilah aku ikutan tes di POLSRI, masih maksa mau ambil Akuntansi atau gak yang ada bau-bau bisnisnya. Waktu lihat profil jurusan, aku lihat mahasiswinya pakai seragam, “Ih keren ya kalo bisa kerja di bank. Cantik, pinter pula”. Jadilah waktu itu aku memilih jurusan Akuntansi sebagai pilihan pertama dan Adm. Bisnis pilihan kedua. 

Sebelum tes, aku dan kawan-kawan belajar bareng hampir beberapa bulan. Kesemua dari mereka ambil jurusan IPA, cuma aku yang nyeleneh. Padahal waktu kenaikan kelas XI buat penjurusan wali kelasku sudah bilang, “Yan, kamu masuk IPS aja ya. Biar nanti jadi guru MTK yang pintar Bahasa Inggris, nanti ngajarnya pakai Bahasa Inggris,” gitu katanya. 

Tapi entahalah, dulu kalau jadi anak IPA itu berasa keren banget, meskipun dari SD udah suka jualan (jiwa bisnis banget). Inget banget waktu SD Ayah punya komputer yang masih pentium satu, aku minta cetak gambar yang belum diwarnai beberapa lembar, besoknya aku jual ke sekolah dengan harga lima ratus rupiah selembar kalo gak salah. Udah kelihatan banget kan bakat bisnisnya? Wkwk. Kemudian waktu SMA aku jualan isi binder yang aku cetak sendiri, bisa custom pula dikasih foto yang bersangkutan, bisnis itu lanjut sampai kuliah. Eh, waktu kuliah diterima di jurusan Adm. Bisnis, makin menjadilah jiwa enterpreneur aku. 

Pokoknya zaman kuliah itu zaman bebas penjajahan, gimana gak coba, zaman SMA itu zaman yang masih suram buat anak Paskib macam kami. Meski terlihat keren di sekolah, tapi batin kami tersiksa haha. Bayangin, rambut kami cuma ada satu jari di bawah kuping, sampe-sampe waktu lomba gerak jalan di SMA 17 kami dibilang anggota Changcutter karena rambut kami mirip helm. Ditambah badan kurus ceking karena keseringan push up dan teman-temannya setiap Sabtu-Minggu atau gak kalau dikasih hukuman sama senior, ditambah harus latihan dan temenan sama teriknya matahari. Fiuh, alien banget dah kami.

Sampai masa kebebasan dimulai setelah berani-beraninya baru beberapa minggu jadi mahasiswi malah ikutan jadi volunteer Sea Games, alhasil IPK pun pas-pasan wkwk. Masa itu masa di mana aku harus mengajak Ayah ke pasar buat belanja keperluan kuliah, karena Ayah satu selera, mulai dari beli kemeja putih sebelum seragam dibagikan, sampai Ayah pernah bilang “Kamu mau beli kemeja ini?,” sambil nunjuk kemeja putih yang bagian depannya ada bunga-bunga dan potongannya membentuk badan. Aku manggut-manggut. Ayah aja aneh, anak gadisnya ini biasa pakai kaos gambar tengkorak (untuk gak hidup tengkoraknya) kok malah mau beli kemeja gituan. Ya mau gimana lagi, jurusanku itu jurusan buat cewek tulen. Rada nyesel juga sih, awalnya. 

Selanjutnya beli sepatu, baru satu minggu sebelumnya pergi sama Ayah beli sepatu kets warna hijau lumut, eh ternyata disuruh pakai sepatu formal ala ibu guru. Kan ngeselin. Ayah pula lah yang ikut andil, dipilihkanlah sepatu dengan heels 3 cm (biar gak jatoh karena sok kecantikan) dengan aksen pita di bagian depannya. Akunya malah milih sepatu kets lagi, “Yah, ini bagus,” sambil nunjuk kets warna merah. “Sudah kita ke sini mau beli sepatu ini,” katanya, nunjuk sepatu pilihannya. Alhasil, jadilah aku wanita setengah pria yang pakai rok ke kampus dengan sepatu berpita ditambah tas tangan yang bikin ketiak sakit karena mesti diimpit. Duh gusti, susah banget jadi cewek betulan.

Sumpah nulis ini sambil senyum-senyum sedih karena rindu.
Sampailah pada masa ikutan ngeksis di ormawa, HMJ. Waktu itu aku masih jadi anggota, jadi masih  ngalur aja sama aturan. Disuruh jagain sekret yang waktu itu ada jualan gorengan, jagain sampe sore, udah kayak penjaga kampus aja. Aku datang gak pernah telat, karena Ayah orang yang on time tapi pulang paling akhir. Sekret HMJ yang letaknya di bawah tangga jurusan itu penuh banyak cerita, mulai dari bahagia, sedih, sampai ngeselin. Lengkap pokoknya. Semua keluh kesah ada di sana. Ngerjain tugas bareng, nyiapin acara bareng, sampe nangis bareng pun pernah wkwk.

Kemudian tibalah masa cinta-cintaan, masa di mana semuanya berasa indah wkwk. Padahal masih ngos-ngosan ngejer IPK, biasalah aku ini orangnya serba dipengenin semua, pengen ikut organisasi, pengen eksis, tapi pengen IPK gede, kalo bisa dapat beasiswa pula. Muluk kan? Tapi itulah goal-nya, baru kuliah namanya.

Entahlah, aku pun kadang gak paham sejak kapan aku jadi anak nakal "dalam tanda kutip", mungkin karena kelamaan berada dalam tekanan batin ala anak paskib, ketika dilepas berasa keluar kandang. Nakalnya sih bukan nakal yang aneh-aneh, ya itu, kuliah rajin, ngerjain tugas rajin, mainnya juga rajin, sampe betah seharian di kampus cuma karena seneng dapet temen baru yang banyak.

Dandanan yang paling menggentarkan seisi jagat Adm. itu ketika hari Sabtu, hari bebas bergaya, pilihanku tetap jatuh pada kemeja cowok yang dalemnya pakai kaos, celansa jin, dan sepatu kets. Masih belum tobat. Semua orang diajakin temenan, gak peduli kakak tingkat, dosen, penjaga kampus, helper,  pedagang. Semuanya dipanggil “coy”, eh kalau dosen gak lah hahaha.

Masa paling pesat itu masa di mana mulai naik ke semester 3, mulailah bisa dandan karena ada Beauty Class. Mulai bisa pakai eyeliner dan gincu alakadarnya. Waktu favorit kami ya waktu istirahat sama pulang kuliah karena di waktu itulah kami bisa tebar pesona. Berjalan dari kelas menuju kantin dengan seragam khas ala pegawai bank, biasanya sih saingan sama anak Akuntansi karena sebelas dua belas dalam urusan penampilan. Yang jadi sasaran utama adalah kantin Mesin, tempat di mana cowok-cowok kece masa itu berseliweran. Menyusuri koridor Teknik Sipil, mentas lewat BEM, nembus ke masjid, sampai ke bengkel mesin dan tadaaaa tibalah di kantin Pakde Gaul, pusat di mana muda-mudi segala jurusan POLSRI berkumpul menunjukkan taring masing-masing.

Di sanalah eksistensi seorang mahasiswa POLSRI dipertaruhkan. Modalnya cuma 2, supel (jogol) dan lewat sana minimal 2 kali sehari, kalau gak terkenal karena banyak yang naksir, kamu bakal terkenal karena banyak yang gak suka wkwkwk

Lucunya kadang temenku suka minta dijodohin, “Yan, kenal sama cowok itu ya? Kenalin sama temennya dong.” Dia pikir aku biro jodoh apa? Atau sebaliknya, ada anak mesin yang suka gitu, “Yan, kenalin sama anak Adm, dong.” Geli sendiri kalau ingat masa-masa itu, tapi sedih juga kalau sekarang harus nerima kenyataan kalau dunia itu gak selucu itu. Selepas dapet gelar A. Md. Kami pun mesti bertarung untuk masa depan, harus bertarung demi diri sendiri dan orang-orang yang disayang.

To be continue ....

Saturday, 26 March 2016

DOA BARU YANG TAK LUPUT KULANGITKAN




Setiap kita pasti punya banyak ingin dan harap yang tak semuanya kita bagi untuk didengar orang lain, tak terkecuali sahabat. Pun aku, ada banyak harap dalam hati dan kepala. Harap tentang perkerjaan yang baik, keluarga yang bahagia, juga tentang pendamping hidup yang membawa kedamaian. Punya mimpi bekerja di perusahaan yang dapat dijadikan tempat menggantungkan masa depan, namun hanya untuk beberapa waktu saja karena pada hakikatnya diri lebih ingin berniaga saja. Ingin mencari rezeki halal dan berkah dengan tujuan yang tak lain hanyalah ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang banyak. Sebab aku tahu persis kalau ibadah pribadi saja tak cukup untuk mencari keridhoan-Nya. 

Umumnya, wanita masa kini yang gemar pergi ke sana sini tentulah mencari sosok laki-laki mapan yang mampu memenuhi segala kebutuhannya tanpa perlu banyak menguras keringat hanya untuk sekadar membeli bedak atau lipstick mahal supaya dibilang “kekinian”. Siapa yang tak mau punya suami seperti itu? Tentulah itu hal realistis karena modal cinta saja tidak cukup untuk membangun masa depan, apalagi yang bercita-cita punya anak banyak sampai-sampai bisa diajak main sepak bola di rumah.

Umumnya, laki-laki masa kini yang gemar tebar pesona sana-sini tentulah mencari sosok perempuan cantik yang bisa dibanggakan tatkala bertemu sanak saudara, tapi mau diajak hidup susah. Lah, ini mau ngajak nikah atau mau ngajak susah? Realistis saja, siapa coba yang mau hidup susah? Laki-laki kadang salah kaprah, kukira kalimat yang paling pas adalah seperti ini, “Mau cari pasangan yang mau diajak berjuang bersama menuju kebaikan.” Kenapa begitu? Sebab hidup mewah tak lantas membuat seseorang itu menjadi baik. Malah kadang terlena akan segala kemewahan, tapi kemiskinan juga sering membawa kekufuran. Maka dari itu, kukira alangkah bahagianya jika mendapat pasangan hidup yang memiliki visi dan misi yang sama, yaitu menuju kebaikan. 


Terlepas dari itu semua, beberapa waktu ke belakang aku dipertemukan pada satu sosok yang tak pernah kukira akan menjadi bagian dari cerita hidupku. Dia, seorang laki-laki yang tak pernah kukenal sebelumnya, padahal ternyata kami berada dalam satu almamater saat menempuh pendidikan D3. Dia laki-laki yang tak pernah kudengar namanya sama sekali saat itu. 

Kala itu, aku ingat betul saat pertama kali dia menambahkan akun pribadiku di akun pribadinya. Awalnya aku hanya melihat sekilas karena sudah tak aneh jika anak jurusannya menambahkan beberapa akun pribadiku karena banyak temannya yang juga temanku sewaktu sekolah dulu. Jurus selanjutnya adalah membeli novelku, saat kutanyakan komentarnya, ternyata dia hanya membaca sekilas, katanya (padahal ternyata cuma dibaca di bagian depan saja).

Lambat laun kami pun semakin sering berkomunikasi, padahal aku adalah karakter yang paling risih kalau ada laki-laki yang suka iseng, apalagi suka nanya-nanya “lagi ngapain? atau “sudah makan belum?”. Kan ngeselin. Aku bukan tipe yang mau buang-buang waktu untuk urusan yang tidak ada kepentingannya untuk segala mimpi dan masa depanku.

Setelah beberapa waktu, tepatnya di hari raya Idul Fitri dia datang ke rumah sendirian dengan berani menyapa Ayahku yang hanya berekspresi datar saat itu. Komunikasi pun semakin intens, pelan-pelan aku menyelami karakternya, sampai pada saat itu kami mengutarakan apa yang kami rasakan. Tentu tidak seperti anak SMA yang mengutarkan isi hati dengan segala macam tingkah konyol. Kami hanya mengutarkan beberapa hal tentang keinginan di masa depan dan kami pun menuju satu titik persetujuan.

Dia, laki-laki itu berhasil mendobrak pintu pertahananku setelah lebih dari tiga tahun kekeuh untuk berfokus pada mimpi dan cita-citaku saja dulu. Dia dengan segala yang dia miliki berhasil membuatku memberanikan diri untuk melangkah maju dengan sama-sama berkomitmen untuk saling menguatkan, saling berusaha, dan mencari keridhoan-Nya. 

Laki-laki itu, kesederhanannya membuatku jatuh hati. Kelembutan dan kesabarannya membuatku menyadari bahwa tak ada lagi yang aku cari. Aku hanya butuh “kententraman” batin, dan pada dia kutemukan itu. Laki-laki itu pandai membuat hati yang gusar menjadi hilang cemasnya, membuat rindu yang memuncak menjadi tenang hanya dengan mendengar suaranya. Dia, dia bagai kakak yang menyayangi adik, bagai Ayah yang melindungi anaknya, juga sahabat yang mengerti sahabatnya. 

Laki-laki itu mengajarkanku tentang indahnya berbagi meski dalam kekurangan, hingga rasa syukur tak henti dipanjatkan. Saat kutelisik dalam-dalam manik matanya, ada damai yang juga menusuk hingga ke dada. Entahlah, setiap aku mencoba menemukan sesuatu di dalamnya, aku seperti berhenti pada satu ruang yang tak pernah mau kutinggalkan. 

Saat ini, tak ada doa lain yang kupanjatkan setelah doa untuk kedua orangtua dan saudaraku, yaitu doa baru untuknya, aku, dan kami. Doa yang senantiasa kuuntai dalam setiap sujudku itu mudah-mudahan terjamah oleh tangan-Nya yang Maha Kuasa Itu.
Aku ingin hidup bersamanya, memperbaiki diri satu sama lain, saling mengingatkan satu sama lain. Kukira aku telah jatuh hati padanya, laki-laki sederhana nan menentramkan hati dan jiwa. Laki-laki yang tak pernah mau banyak mengumbar janji, namun berusaha untuk menepati. Laki-laki yang tak begitu romantis, namun tak pernah mau melihatku menangis. Laki-laki yang belum mapan, namun berkerja keras untuk menghalakanku di masa depan. 

Ingatlah, tak ada hal lain yang selalu kupinta atas segala mimpi dan cita-cita kita, ialah kau yang selalu disehatkan dan dilancarkan dalam segala urusanmu, Sayang.




Thursday, 4 February 2016

UNTUK LAKI-LAKI YANG SEDANG DALAM PERJALANAN

UNTUK LAKI-LAKI YANG SEDANG DALAM PERJALANAN



Untuk laki-laki yang sedang dalam perjalanan
Perjalanan menuntut ilmu bagi masa depan
Perjalanan mencari rezeki untuk menghalalkan
Kutitip berjtua rindu yang mengangan
Ialah pada Dia pemberi segala napas dalam helaan

Untuk laki-laki yang sedang dalam perjalanan
Perjalanan menyempurna agama untuk bekal kehidupan
Perjalanan mengelokkan pribadi untuk memimpin barisan
Kuuntai berjuta doa yang kulafazkan
Ialah dalam setiap sujud yang tak pernah kulewatkan

Aku tahu jika perjalananmu tak semulus yang kau inginginkan
Aku tahu jika ragamu tak sekuat yang kau katakan
Pun hatimu, tak semudah itu mengucap “Tak ada yang perlu dikhawatirkan”

Aku tahu. Aku tahu itu, Sayang
Parau suaramu yang menjalari telingaku itu seringkali membuat genangan di manik mataku
Tawa palsumu yang mengiang dalam kepalaku juga membuat dadaku sesak tanpa kau tahu

Aku tahu. Aku tahu itu, Sayang
Jutaan aksara yang kuucap padamu tak mampu mengikis semua gundukan dalam dadamu itu
Ribuan kata sayang juga rindu tak mampu menendang risaumu yang jauh di rantau itu

Aku menyayangimu dalam sederhanamu
Mencintaimu dalam baiknya pribadimu
Mengharapkanmu satu salam doaku
Mengunci rapat namamu dalam kotak impianku

Untuk laki-laki yang kusebutkan itu, semoga Allah senantiasa menjagamu

                                PEREMPUAN YANG SELALU MENDOAKANMU

Thursday, 1 October 2015

SEDANG DALAM PERJALANAN



Titik. Kurasa tidak ada yang bisa mendikte secara tegas kapan titik itu bisa ia temui, pun aku. Hari ke hari bertatap muka secara langsung dengan perjalanan panjang yang kutahu titiknya tak akan pernah kutemu, sebab aku tahu secara jelas bahwa kita semua sedang dalam perjalanan. 

Kurun waktu satu tahun ini banyak jalan yang kutemu sebagai simbol dari Allah bahwa titik yang kutuju hanyalah sebuah amunisi pendorong bagi kuatnya pengharapanku terhadap angan yang kubangun sendiri dalam ruang kepalaku. Tentang sebuah kursi dalam ruangan, tempat menumpahkan isi kepala demi cita-cita di masa depan, tentang pasangan hidup yang siap berkongsi menuju rumah tangga yang samawa, tentang hidup di bawah atap sederhana namun berlimpah berkah, juga tentang mencipta lengkung bahagia di bibir banyak manusia lainnya. 

Pernahkah kau merasa bahwa Allah selalu meletakkanmu di tempat yang bahkan kau sendiri selalu menghindarinya? Tentang tempat yang seolah membuatmu jatuh ke lubang paling juram dalam hidupmu. Saat ini, aku tengah berada di dalamnya. Allah begitu baik padaku, semua yang di luar kemampuan kepala dan hatiku untuk kuterka kini malah menjadi rutinitas dalam hidupku.

Sedikit menoleh ke belakang, aku pernah berada dalam puncak pengharapan paling tinggi. Diberi kesempatan oleh-Nya untuk mengasah segala kemampuanku hingga ke titik terakhir rekrutmen sebuah instansi dan Dia dengan baiknya memberiku pembelajaran paling sulit dalam hidup, yaitu ikhlas. Perjuangan panjang itu berakhir dengan kegagalan. Semua mata yang tadinya berisi harap dan doa untukku kini berubah menjadi iba, bahkan cemooh. Sungguh, Allah begitu baik padaku.

Siapa yang sanggup memakai topeng sekeras baja jika pada nyatanya di dalamnya lebih lembut daripada lumpur? Kukira tidak ada, tapi percayalah, aku berhasil melakukannya. Menyuguhkan senyum paling rekah bagi mereka yang memandang, menyimpan rapat segala yang menderu dalam kepala dan dada tentang semua mimpi dan cita-cita. Lagi-lagi, ilmu ikhlas mulai menjamah dadaku pelan-pelan.

Enam bulan berada dalam lingkar tanya sinis dari banyak pasang mata. “Kenapa nggak lulus?”, “Nggak ada orang dalam, ya?” dan sebagainya. Banyak tanya  mengaum di kepala. Sungguh, taat itu tidak semudah meremat bungkus cokelat, lalu membuangnya ke tong sampah. 

Pelan-pelan, Allah membukakan jalan lewat perusahaan properti yang bersedia “bermain judi” karena memilihku sebagai Sekretaris Direktur dari sekian banyak kandidat yang lebih qualified dariku. Kalau bukan tangan Allah yang tidak turut serta, lantas bagaimana itu semua terjadi?

Kebimbangan menyelubungi isi kepala, tentang profesi yang akan kujalan itu. Profesi yang banyak kontroversi, hanya beberapa kepala saja yang bisa menelan makna “Sekretaris” adalah seseorang yang berfungsi untuk membantu kelancaran kegiatan operasional pimpinan dalam perusahaan, yang lainnya? Tentu sama saja. 

Hari ke hari, pekan ke pekan, bulan ke bulan, dengan melangitkan doa yang sama setiap hari supaya langkahku dimudahkan dan hatiku dilapangkan, Allah kembali memberiku kejutan. Lagi dan lagi. Teman seperjuangan yang juga sekantor denganku lebih dulu ditarik menuju cita-citanya, sementara aku masih harus bergulat dengan harap dan usaha yang aku sendiri tidak tahu kapan menuju titiknya. Lagi-lagi, kukira titik itu tidak ada.

Satu bulan ini, aku menjamah banyak angka dalam komputer. Mengelola segala bentuk keuangan perusahaan, menggantikan posisinya, tapi Allah sangat baik, aku dibiarkan mengendalikan dua posisi, sekretaris direktur dan asisten manajer keuangan setiap harinya. Berburu data dan membuat laporan untuk dua pimpinan itu cukup membuat napas sedikit tersendat, yang tadinya banyak waktu luang bisa dipakai untuk menulis, kini sudah tidak ada lagi. Menyentuh HP barang sebentar pun sudah jarang kutemui. 

Sungguh, Allah punya rencana yang diluar kemampuan akalku untuk menerka. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya untuk berkubang dalam dunia angka, apalagi keuangan. Selain karena aku tidak punya basic-nya, aku juga tidak sanggup kalau harus menelan pahitnya ketidaktelitian. Akan tetapi, lagi-lagi Allah maha tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya, semakin aku meyakinkan diriku sendiri kalau aku tidak mampu, semakin Allah memberiku jalan untuk ke sana. Saat ini, pelan-pelan aku mulai membuka jalan bagi “ikhlas” dalam menjalani hidup ini. 

Beberapa hari terakhir, waktu yang kutunggu untuk balas dendam pada kegagalanku di tahun sebelumnya tiba, instansi itu membuka rekrutmen lagi. Semua sudah kusiapkan dengan matang, meski apa pun hasilnya nanti. Lagi-lagi, Allah ingin memberiku banyak lagi pembelajaran tentang ikhlas, di hari rekrutmen dibuka, aku gagal untuk turut serta karena tidak ada lowongan untuk wanita bagi jurusanku. Satu tahun menunggu, tapi malah tidak bisa mendaftar sama sekali. Sedih? Jangan ditanya lagi. Satu tahun ini aku sibuk meyakinkan diri kalau kegagalanku kemarin hanyalah satu sentilan dari Allah kalau aku harus menimba ilmu lebih banyak lagi sebelum benar-benar siap menjalani semua cita-cita dan mimpi.

Saat ini, kukira Allah ingin aku belajar lebih banyak lagi. Lebih banyak ikhasl lagi, juga tentang isi hati yang diam-diam meronta karena sudah lama tak diobati. Berteman dengan sepi bukanlah sebuah kehancuran dengan harga mati, bila diiringi dengan nia tulus untuk memperbaiki diri. 

Ketika kerja keras dan pengorbananmu tidak sebanding dengan apa yang kau dapat, menangis bukanlah pilihan terbaik untuk membuatnya baik-baik saja. Tidak perlu banyak tanya dalam kepala, cukup jalani dan yakini bahwa Allah punya rahasia yang sempurna untuk nantinya kau teguk manis ujungnya. Barokallah.