Pisah; tentang jarak dan waktu.
Wanita mana di dunia ini yang sanggup terpisah jarak dan waktu dengan seseroang yang dia sayang? Tidak, sepertinya laki-laki juga tidak akan sanggup. Jika boleh memilih, bisa jadi tiga perempat manusia di dunia ini ingin bersama-sama orang yang mereka sayangi.
Di tengah hiruk pikuk kesibukan duniawi dari masing-masing kita, kadang kita sampai lupa membedakan prioritas yang harus diutamakan, atau mungkin lebih tepatnya bingung untuk menentukan hal mana yang jauh lebih penting dikarenakan kesemuanya adalah penting, misal: pekerjaan atau keluarga, me time atau berbagi dengan orang terkasih, dan hal-hal lain yang bisa dijadikan opsi dalam pengambilan keputusan.
Tak jarang satu dari kita rela menghabiskan waktu sia-sia untuk menunggu sedikit waktu supaya bisa sekadar berbagi cerita apa saja tentang hari ini, bahkan ketiduran di depan laptop demi membunuh waktu, walaupun pada akhirnya pasangan kita memutuskan untuk beristirahat karena sudah lelah dengan segala keriwehan seharian penuh.
Begitulah kuatnya wanita, sekali dikasih emeng-emeng atau sekadar kalimat penenang "tunggu sebentar, ya." Bagi mereka kalimat itu semacam perintah yang otomatis tertanam dalam relung hati mereka, bahwa mereka akan menunggu sampai kantuk itu tiba, tak jarang kedinginan karena tak menyiapkan selimut sebelumnya.
Sepele mungkin, tapi begitu bermakna bagi kami kaum hawa.
Wednesday, 28 November 2018
Friday, 3 August 2018
Rumor Cobaan Sebelum Menikah
Menikah.
Pernah nggak, sih, kalian dengar rumor seputar cobaan-cobaan yang datang sebelum menikah? Mulai dari kita dan pasangan yang mulai merasakan kekurangnyamanan, kurang kompak, kurang segala-galanya, ditambah lagi faktor lingkungan yang suka ikut-ikutan, terus mantan yang tiba-tiba ngajak balikan?
Well, tahun ini adalah tahun kode garis keras. Kode minta dinikahin maksudnya. Nggak, ding. Tahun ini adalah tahun di mana lingkungan sekitarku itu sudah diselimuti angan-angan pernikahan. Di mana-mana rumor yang diangkat di sela pembicaraan adalah soal "menikah".
Telingaku sudah kebal dengar soal persiapan temen-temen yang mau nikah, mulai dari temen kantor, temen kontrakan, bahkan sahabat. Ya ya ya, dara muda dengan angka kelahiran tahun 90an ke atas itu memang sudah layak menyandang gelar suami atau istri jika dipandang dari usia, tapi dari kesiapan? Siapa yang tahu.
Dari akhir tahun lalu, isi kontrakan kami sudah ikutan sibuk dengan persiapan salah satu temen kami yang nikah dengan sesama pegawai satu instansi, walau beda unit, tapi tetap saja rumor dilarang menikah sesama pegawai itu cukup jadi tantangan tersendiri buat mereka. Mulai dari lingkungan perusahaan yang memang sudah ada tercantum dalam PKB soal sanksi menikah dengan sesama pegawai, pertimbangan orangtua, bahkan pihak-pihak luar yang mencoba menggoyahkan niatan baik yang sudah ada.
Satu lagi sahabatku yang sejak zaman kuliah sudah beberapa kali dikenalkan oleh orang-orang terdekatnya dengan laki-laki yang mau serius buat nikahin dia. Aku belajar banyak dari perjalanan mereka ini, perjalanan menuju persiapan pernikahan. Sahabatku ini sudah beberapa kali dilamar oleh laki-laki dengan berbagai profesi, mulai dari teman sekantor, pegawai bank, anggota kepolisian, pegawai BUMN jangan ditanya, sudah banyak yang tumbang di pertengahan jalan.
Sebenarnya temanku ini tidak begitu pemilih, yang penting dasar agamanya baik, orangtuanya oke ya udah tinggal akad aja. Simpelnya begitu. Tapi ya soal jodoh mau dibilang apa, saat semua sudah dirasa oke tapi Allah kasih lihat atau kasih kode kalau orang tersebut bukan yang tepat. Di awal dia sudah sangat meyakinkan, tapi di tengah perjalanan ternyata banyak hal-hal yang disembunyikan.
Kalau menurut aku, kejujuran dari awal itu adalah hal yang paling penting, karena kalau sudah nikah semua baru terbuka akan jadi salah satu pemicu keributan rumah tangga.
Nah, dari kisah temen-temenku itu adalah beberapa rumor yang bisa dikategorikan sebagai cobaan pra nikah:
1. Mulai merasa lebih banyak ketidakcocokan dengan pasangan.
Hal ini biasanya lumrah terjadi, apalagi salah satu pihak sudah merasa terlalu nyaman dan merasa aman dengan posisi hubungannya. Yang tadinya biasa perhatian banget dengan pasangannya tentang hal apapun, termasuk cuma menanyakan hari ini dia makan apa aja, menjadi sosok yang cuek yang mungkin dalam pikirannya seperti ini "ah udahlah, kegiatan dia pasti itu-itu aja, aku udah paham betul sama dia. Udah bertahun-tahun juga".
Coba lihat dari sisi pasanganmu: "kok dia udah gak pernah nanya-nanya aku soal makanku, kegiatanku, dan lain-lain, ya? apa iya dia ini serius mau nikahin aku?"
Dari hal-hal kecil seperti inilah biasanya muncul satu kesimpulan dalam kepala: "kayaknya kita udah nggak cocok deh, daripada dipaksain pas nikah nanti malah lebih parah". Dalam keadaan inilah kalau pondasi tidak kuat akan membuat salah satu pihak berpikiran untuk menemukan orang lain yang lebih "cocok" menurut persepsinya, tidak peduli seberapa lama hubungan yang mereka sudah bangun dari bawah bersama-sama sebelumnya.
2. Komentar keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar.
Nah, yang satu ini juga biasanya jadi faktor terbesar. Misal, orangtua cewek pengen si cowok ngasih uang sekian buat nikahin anaknya. Dipatok macam anaknya itu barang merah yang kudu dibayar mahal. Hal ini yang kadang-kadang bikin miris dengan alasan gini: "kamu itu udah disekolahin tinggi-tinggi sama orangtuamu, masa iya dia cuma ngasih sekian. Apalagi nanti kalo sampe kamu yang berenti kerja, nanti kurang loh, bisa jadi ribut nanti rumah tangga."
Hmm, pernyataan semacam ini kadang bikin miris ya, nggak heran kalo banyak yang gagal nikah gegara patokan harga kayak gini, gimana nggak coba, di sisi cowok juga mungkin pengen ngasih yang terbaik buat si calon, nggak mungkin juga kan dia mau asal-asalan nikahin orang, tapi kalo udah matok harga kayak gitu, nggak takut apa nanti abis nikah anaknya diperlakukan kayak barang karena si cowok merasa udah "beli" mahal anaknya. Sedih kan kalo kayak gitu.
Ditambah lagi nanti sanak saudara yang jauh lebih repot ketimbang orangtua kita. Ketika orangtua manut dengan segala planning kita dengan calon karena mereka sungguh paling mengerti kemauan dan kemampuan kita, di saat itulah biasanya sanak-saudara mulai mengeluarkan opini. Kudu gini, kudu gitu, jangan gini, jangan gitu, sampe orangtua kita yang tadinya pengen kita treat kayak raja supaya nggak usah berpusing ria ngurusin nikahan kita jadi stres gara-gara komentar sana-sini yang nggak tahu kondisi real kita.
3. Kehadiran orang ketiga.
Nah, yang satu ini juga biasanya jadi faktor terbesar. Misal, orangtua cewek pengen si cowok ngasih uang sekian buat nikahin anaknya. Dipatok macam anaknya itu barang merah yang kudu dibayar mahal. Hal ini yang kadang-kadang bikin miris dengan alasan gini: "kamu itu udah disekolahin tinggi-tinggi sama orangtuamu, masa iya dia cuma ngasih sekian. Apalagi nanti kalo sampe kamu yang berenti kerja, nanti kurang loh, bisa jadi ribut nanti rumah tangga."
Hmm, pernyataan semacam ini kadang bikin miris ya, nggak heran kalo banyak yang gagal nikah gegara patokan harga kayak gini, gimana nggak coba, di sisi cowok juga mungkin pengen ngasih yang terbaik buat si calon, nggak mungkin juga kan dia mau asal-asalan nikahin orang, tapi kalo udah matok harga kayak gitu, nggak takut apa nanti abis nikah anaknya diperlakukan kayak barang karena si cowok merasa udah "beli" mahal anaknya. Sedih kan kalo kayak gitu.
Ditambah lagi nanti sanak saudara yang jauh lebih repot ketimbang orangtua kita. Ketika orangtua manut dengan segala planning kita dengan calon karena mereka sungguh paling mengerti kemauan dan kemampuan kita, di saat itulah biasanya sanak-saudara mulai mengeluarkan opini. Kudu gini, kudu gitu, jangan gini, jangan gitu, sampe orangtua kita yang tadinya pengen kita treat kayak raja supaya nggak usah berpusing ria ngurusin nikahan kita jadi stres gara-gara komentar sana-sini yang nggak tahu kondisi real kita.
3. Kehadiran orang ketiga.
Yaps! ini yang paling parah. Rumor ketiga inilah yang paling sering menjadi penyebab utama hubungan orang lain kandas di perjalanan. Semakin mendekati hari pernikahan, biasanya cobaan yang ini makin keras menghantam dinding pertahanan pasangan. Ketika sedang sibuk-sibuknya ngerencanain ini itu buat pernikahan yang sudah diidam-idamkan sejak lama, di saat rumor pertama dan kedua mulai muncul, datanglah rumor yang paling maknyus ini. Di saat kedua pasangan merasa lelah dengan segala persiapan, lelah fisik, lelah mental, bahkan finansial. Di saat masalah yang muncul harusnya dicarikan solusi bersama, datanganlah orang ketiga ini tanpa basa-basi.
Contohnya aku sendiri, di saat aku dan calonku ini mulai merencanakan segala hal tentang hari bahagia kami, meski masih hanya sebatas merencanakan, datanglah mantanku yang sudah hilang sejak 6 tahun lalu. Dia mengirim pesan di instagram tiba-tiba menanyakan apa aku udah punya pacar, kalau nggak dia mau nikahin aku katanya, tanpa basa-basi enteng aja dia ngomong mau nikahin aku, ditambah lagi ketika aku bilang aku udah mau nikah sama orang lain dia minta aku putusin calonku ini. Luar biasa kan?
Untuk aja aku masih dalam keadaan waras seratus persen, walaupun calonku ini bukan orang yang romantis, terkesan cuek dan nggak sebegitu antusiasnya aku kalo ngomongin soal nikahan, enteng aja aku jawab dia "Maaf aku udah mau nyiapin nikahan sama dia. Dia udah lama ngadep ayahku." Walaupun kenyataannya perjalanan kami masih panjang. Eh dia malah ngeyel, pake minta cariin calon yang sama kayak aku segala, kan apalah coba.
Belum lagi orang ketiga yang lain, yang dengan getolnya merayu-rayu mau nikahin lebih dulu dari calonku, padahal notabene dia bukan mantanku atau dalam kata lain kita cuma dekat. Ya walaupun dia memang datang ketika calonku ini tengah sibuk-sibukunya dan memang waktu itu aku ladenin dia sama kayak yang lain, dalam artian aku memang dekat dengan temen-temen yang lain juga, ketika ngobrolin kerjaan dan lain-lain. Tapi ya itu, nggak bisa nyalahin dia juga sih kalau akunya kuat pondasi ya gabakal jadi juga kan.
Dari setiap ada orang ketiga yang mencoba mendobrak pondasi kami, aku nggak pernah nggak cerita ke calonku ini dan dia bilang "Jangan diladeni, walau cuma cerita-cerita sebatas temen, nanti kamu jadi membandingkan ketika aku sibuk kamu berpikiran kalo dia bisa perhatian sama kamu dibanding aku, padahal dia cuma penasaran karena belum dapetin kamu."
Nah dari sini bisa diambil kesimpulan, bahwa sikap tegas kita itu dibutuhkan untuk menghadapi rumor-rumor yang bakalan dateng ketika kita tengah sibuk nyiapin pernikahan. Aku dan calonku selalu saling ngingetin, kita harus kuat, masih jauh gini aja udah banyak cobaan. Nanti-nanti kita harus semakin kuat pondasinya, karena semakin mendekati hari H akan semakin banyak pulan cobaan yang datang.
So, jangan kalah dengan rumor itu ketika kamu sudah mantap memilih dia sebagai calonmu dan "SALING" lah dalam segala hal. Saling memberi perhatian, saling merindu, saling menyayangi dan saling-saling yang lainnya.
Contohnya aku sendiri, di saat aku dan calonku ini mulai merencanakan segala hal tentang hari bahagia kami, meski masih hanya sebatas merencanakan, datanglah mantanku yang sudah hilang sejak 6 tahun lalu. Dia mengirim pesan di instagram tiba-tiba menanyakan apa aku udah punya pacar, kalau nggak dia mau nikahin aku katanya, tanpa basa-basi enteng aja dia ngomong mau nikahin aku, ditambah lagi ketika aku bilang aku udah mau nikah sama orang lain dia minta aku putusin calonku ini. Luar biasa kan?
Untuk aja aku masih dalam keadaan waras seratus persen, walaupun calonku ini bukan orang yang romantis, terkesan cuek dan nggak sebegitu antusiasnya aku kalo ngomongin soal nikahan, enteng aja aku jawab dia "Maaf aku udah mau nyiapin nikahan sama dia. Dia udah lama ngadep ayahku." Walaupun kenyataannya perjalanan kami masih panjang. Eh dia malah ngeyel, pake minta cariin calon yang sama kayak aku segala, kan apalah coba.
Belum lagi orang ketiga yang lain, yang dengan getolnya merayu-rayu mau nikahin lebih dulu dari calonku, padahal notabene dia bukan mantanku atau dalam kata lain kita cuma dekat. Ya walaupun dia memang datang ketika calonku ini tengah sibuk-sibukunya dan memang waktu itu aku ladenin dia sama kayak yang lain, dalam artian aku memang dekat dengan temen-temen yang lain juga, ketika ngobrolin kerjaan dan lain-lain. Tapi ya itu, nggak bisa nyalahin dia juga sih kalau akunya kuat pondasi ya gabakal jadi juga kan.
Dari setiap ada orang ketiga yang mencoba mendobrak pondasi kami, aku nggak pernah nggak cerita ke calonku ini dan dia bilang "Jangan diladeni, walau cuma cerita-cerita sebatas temen, nanti kamu jadi membandingkan ketika aku sibuk kamu berpikiran kalo dia bisa perhatian sama kamu dibanding aku, padahal dia cuma penasaran karena belum dapetin kamu."
Nah dari sini bisa diambil kesimpulan, bahwa sikap tegas kita itu dibutuhkan untuk menghadapi rumor-rumor yang bakalan dateng ketika kita tengah sibuk nyiapin pernikahan. Aku dan calonku selalu saling ngingetin, kita harus kuat, masih jauh gini aja udah banyak cobaan. Nanti-nanti kita harus semakin kuat pondasinya, karena semakin mendekati hari H akan semakin banyak pulan cobaan yang datang.
So, jangan kalah dengan rumor itu ketika kamu sudah mantap memilih dia sebagai calonmu dan "SALING" lah dalam segala hal. Saling memberi perhatian, saling merindu, saling menyayangi dan saling-saling yang lainnya.
Sunday, 13 May 2018
Tentang Menjaga Hubungan
Bicara soal menjaga hubungan, beberapa waktu lalu aku sempat ngebaca snapgram temenku waktu SMA, mereka sudah pacaran sejak SMA sampai sekarang, sekitar 8 tahun sudah. Dia buat kalimat kurang lebih:
"Banyak yang ngomong, udah pacaran bertahun-tahun nggak dinikah-nikahin, emang nggak bosen? apalah-apalah. Kalau nggak tahu ceritanya nggak usah komentar, setiap orang punya alasan masing-masing dalam menjalani hubungannya."
Itu yang pertama, kemarin malem dia ngepos lagi tulisan yang isinya cerita atau pengalaman orang lain yang sudah lama menjalin hubungan, sekitar 5 tahun tapi di tengah perjalanan pacarnya merasa bahwa mereka sudah tidak cocok lagi, mereka sering ribut, sering tidak satu jalan, dan akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dan mencoba mencari laki-laki lain yang satu visi dan misi untuk ke depan dengan alasan kalau dilanjutkan ke jenjang pernikahan, dia takut rumah tangganya tidak akan berjalan dengan baik. Padahal dia sudah tahu hal itu sejak lama dan dulu mereka masih mau saling memaklumi, tapi semakin mendekati waktu pernikahan (mereka sudah merencanakan) malah perempuan itu berubah pikiran.
Di situ aku menangkap satu pesan, juga mungkin yang dimaksud temenku itu, bahwa menjaga hubungan adalah kembali kepada pribadi kita masing-masing. Memang jelas, jawaban dari kegamangan hubungan pasangan yang sudah berjalan bertahun-tahun adalah dengan menikah, dan sudah sangat benar bahwa agama itu melarang menjatuhkan hati sebelum pernikahan karena hal ini.
Aku juga pernah baca buku Ustad Felixsiauw yang judulnya "Udah Putusin Aja", di dalamnya dikatakan bahwa bagi yang tengah menjalani ta'aruf pun ada batas waktu maksimal, sebab kenapa, hati manusia itu mudah berubah, ditakutkan kalau terlalu lama, pilihan yang tadinya mantap akan tiba-tiba berubah.
Aku tidak menghakimi mereka yang sudah menjalani hubungan dengan waktu yang terhitung sudah sangat lama, bahkan aku pun tengah menjalaninya. Benar, bahwa hati itu berbolak-balik, aku yang sejak awal membulatkan dalam hati bahwa pilihanku ini adalah yang terbaik, adalah jawaban doaku saja kadang masih bimbang. Bimbang kenapa, tiba-tiba aku merasa kalau aku belum tentu bisa menjadi sepenuhnya yang dia mau, belum tentu menjadi yang selama ini dia dambakan. Pikiran-pikiran itu lebih sering berkecamuk, bahkan kadang terpikir apa dengan beberapa kekuranganku suatu saat dia akan berpikir dua kali untuk meminangku.
Benar, jodoh itu adalah cerminan diri kita sendiri. Dulu, aku berdoa supaya diberi pasangan yang sederhana, satu visi-misi, mau memulai semuanya bersama. Misal, nabung bareng buat biaya nikah dan sebagainya, bukan pasangan yang mampu memberiku segala, mulai dari pernikahan impian, kehidupan mewah dan lain sebagainya, bukan itu.
Entahlah, apa mungkin akunya yang terlalu baper atau terlalu tinggi daya khayal yang sering membayangkan betapa bahagianya hidup sederhana bersama pasangan dengan impian yang tidak begitu tinggi, hanya ingin bersama pasangan yang menenangkan hati dan berada di jalan yang diridhoi-Nya.
Impianku adalah setelah menikah hidup dan menua bersama, mungkin kami harus tinggal di rumah kontrakan dengan sama-sama menabung untuk membeli rumah sendiri, kalaupun tidak tercapai, aku hanya bermimpi kalau kehidupan kami berjalan harmonis, aku dan suami punya banyak waktu menjalani hari-hari, belajar ilmu agama, mendidik anak, atau berniaga kecil-kecilan.
Bukan impian yang tiba-tiba dinikahi laki-laki kaya yang sudah siap segalanya, rumah, mobil, bisnis dan lain-lain hingga aku hanya tinggal berleha duduk manis di rumah menunggunya pulang, tapi sungguh kami tak punya waktu untuk sekedar bercengkerama di waktu malam. Bukan, sama sekali bukan itu.
Jadi, saat ini yang menjadi pemacu terkuatku dalam menjalani apa yang harus aku jalani dalam hidup ini selain keluargaku adalah semangat untuk berumah tangga sederhana, harmonis, dan berada di jalan terbaik Allah, itu saja. Ini mungkin sedikit sulit, menyita kesabaran dan keikhlasan, tapi semoga saja Allah senantiasa menguatkan.
Tuesday, 1 May 2018
Menjadi Kuat
Kuatlah, akan ada banyak air mata yang tak perlu mereka tahu, yang tak perlu kau bagi pada orang terkasihmu.
Air mata sepi, air mata rapuh, air mata kesendirian.
Kadang, membagi cerita pada diri sendiri lebih baik daripada membebani pundak orang lain dengan segala hiruk pikuk dalam dada dan kepalamu.
Kuatlah.
Air mata sepi, air mata rapuh, air mata kesendirian.
Kadang, membagi cerita pada diri sendiri lebih baik daripada membebani pundak orang lain dengan segala hiruk pikuk dalam dada dan kepalamu.
Kuatlah.
Thursday, 22 March 2018
Don't Act Like a Boss
Memasuki usia yang makin hari makin harus dewasa, menurut kalian belajar menempatkan diri itu seberapa penting, sih? Di lingkungan kerja utamanya.
Spesies Berambisi Tinggi
Teruntuk kalian yang masih mencari pekerjaan yang lebih baik di luar sana, yang juga mungkin punya impian bekerja di perusahaan milik negara yang digadang-gadang akan mensejahterahkan kehidupan hingga anak cucu mendatang, terkhususnya wanita, kudoakan kalian menjadi wanita sekuat-kuatnya wanita.
Why? Karena tidak semua yang kamu impikan itu berjalan sesuai dengan yang kamu mau, terlebih kalau kalian harus tinggal di kota orang. Berbagai suku bercampur menjadi satu dalam satu wadah yang dinamakan perusahaan. Ketika di dalam otakmu tertanam keras untuk merantau demi kehidupan yang lebih baik, maka tanamkanlah pula sedalam-dalamnya bahwa kamu harus siap menempatkan diri dalam keadaan apapun.
Sedikit sharing aja, sih. 27 April 2017 lalu, berarti menuju setahun lah aku bekerja di salah satu perusahaan milik negara yang mungkin hingga kini digandrungi banyak fresh graduate atau bahkan yang sudah bekerja di tempat yang sudah baik. Kalau dikatakan senang, ya bersyukur alhamdulillah setelah dua kali gagal tes akhirnya aku dikasih rezeki buat kerja di sana, di kota Bandung pula, kota yang jadi idaman perantau, katanya.
Ya sebenarnya tidak sebegitu enak seperti yang dilihat orang, tetap saja di kota ini aku berjuang dengan segala hal, dengan ambisi orang lain khususnya. Kenapa berjuang dengan ambisi orang lain? Ya itu, bekerja di perusahaan yang punya tujuan utama untuk kebaikan negara itu tidaklah segampang yang dilihat, semua pekerjaan berdasarkan target. Tidak jarang aku harus pulang larut, jalan kaki sendirian di bawah hujan sambil memeluk berkas sambil menangis ingat orangtua di rumah.
Belum lagi bertemu dengan orang-orang yang punya ambisi lebih, karir yang lebih baik. Wajar sebenarnya, hanya saja kadang ada beberapa kepala yang punya tujuan besar untuk hidupnya malah membuat orang lain tidak nyaman. Contoh, ada partner kerja yang mati-matian bekerja untuk mencapai target kinerja perusahaan, sampai rela tidur di kantor segala, tapi tidak punya jam kerja yang baik. Disebabkan dia sering pulang larut, di pagi hari dia tidak datang tepat waktu, atau sering menghilang entah ke mana di saat jam kerja, tapi ketika yang lain sudah beranjak akan pulang barulah dia sibuk memulai pekerjaannya.
Lalu bandingkan dengan yang lain, misalnya kamu sejak malam sudah merencanakan apa yang akan kamu kerjakan selama jam kerja di kantor keesokan harinya. Kamu datang tepat waktu, lalu setelah duduk di bangku panasmu kamu mulai mengambil secarik kertas kemudian menuliskan apa-apa yang akan kamu kerjakan dalam satu hari itu, berikut juga batas waktu dari setiap pekerjaan. Sehingga, ketika sudah waktunya jam pulang, kamu pun bisa lega untuk pulang tepat waktu. Akan tetapi ketika memang diperlukan untuk lembur, kamu pun tahu diri kalau tidak seharusnya kamu pulang lebih dulu.
Nah, menurut kalian sikap manakah yang tepat bagi kita para pegawai? Apakah kualitas seorang pegawai dilihat dari seringnya dia pulang malam atau dari seberapa tepatnya dia mengatur waktu kerjanya.
Ya, kalau menurutku pribadi itu kembali lagi ke visi dan misi hidup masing-masing. Ketika seseorang berambisi kuat untuk karir, maka dia seperti tidak punya kehidupan lain, bahkan dalam satu minggu penuh dia dikuasai oleh pekerjaan. Hm, atau yang demikian dianggap lebih bisa diandalkan?
Aku pribadi termasuk spesies yang tidak begitu tertarik akan hal itu, mungkin salah, seharusnya siapapun yang berani nyemplung dalam kubangan ini harus berani basah-basahan,bukan? Tapi kembali lagi, aku punya kehidupan lain, aku punya keluarga, orang yang disayang, bahkan aku butuh waktu untuk diriku sendiri.
Nah kadang apa yang menjadi prinsip hidup kita tidak sepenuhnya bisa diterima orang lain, akan ada cibiran-cibiran yang mungkin terdengar kurang enak ketika kamu berada di jalan yang menurutmu sudah benar. Herannya lagi kadang aku berpikir, apapun yang kita lakukan maka yang menuai hasil adalah kita. Lantas kenapa masih ada jenis makhluk hidup yang merasa jengkel ketika kelelahan yang dia tanam tidak disentuh sedikitpun oleh orang lain.
Maksudnya gini, ketika ada yang bekerja jor-joran lalu mendapat nilai yang baik dan hasil financial yang memuaskan merasa kamu itu terlalu santai. Tidak sama seperti dia. Padahal apapun yang didapatnya tidak sedikitpun kamu makan.
Kira-kira begitulah gambaran ketika banyak kepala yang beragam isi di dalamnya menjadi satu. Mudah-mudahan kalian yang nanti juga akan masuk ke dalam kubangan ini jauh lebih siap dibanding aku yang masih suka baperan kalau dizolimi orang lain. Perasa mungkin.
Ya sebenarnya tidak sebegitu enak seperti yang dilihat orang, tetap saja di kota ini aku berjuang dengan segala hal, dengan ambisi orang lain khususnya. Kenapa berjuang dengan ambisi orang lain? Ya itu, bekerja di perusahaan yang punya tujuan utama untuk kebaikan negara itu tidaklah segampang yang dilihat, semua pekerjaan berdasarkan target. Tidak jarang aku harus pulang larut, jalan kaki sendirian di bawah hujan sambil memeluk berkas sambil menangis ingat orangtua di rumah.
Belum lagi bertemu dengan orang-orang yang punya ambisi lebih, karir yang lebih baik. Wajar sebenarnya, hanya saja kadang ada beberapa kepala yang punya tujuan besar untuk hidupnya malah membuat orang lain tidak nyaman. Contoh, ada partner kerja yang mati-matian bekerja untuk mencapai target kinerja perusahaan, sampai rela tidur di kantor segala, tapi tidak punya jam kerja yang baik. Disebabkan dia sering pulang larut, di pagi hari dia tidak datang tepat waktu, atau sering menghilang entah ke mana di saat jam kerja, tapi ketika yang lain sudah beranjak akan pulang barulah dia sibuk memulai pekerjaannya.
Lalu bandingkan dengan yang lain, misalnya kamu sejak malam sudah merencanakan apa yang akan kamu kerjakan selama jam kerja di kantor keesokan harinya. Kamu datang tepat waktu, lalu setelah duduk di bangku panasmu kamu mulai mengambil secarik kertas kemudian menuliskan apa-apa yang akan kamu kerjakan dalam satu hari itu, berikut juga batas waktu dari setiap pekerjaan. Sehingga, ketika sudah waktunya jam pulang, kamu pun bisa lega untuk pulang tepat waktu. Akan tetapi ketika memang diperlukan untuk lembur, kamu pun tahu diri kalau tidak seharusnya kamu pulang lebih dulu.
Nah, menurut kalian sikap manakah yang tepat bagi kita para pegawai? Apakah kualitas seorang pegawai dilihat dari seringnya dia pulang malam atau dari seberapa tepatnya dia mengatur waktu kerjanya.
Ya, kalau menurutku pribadi itu kembali lagi ke visi dan misi hidup masing-masing. Ketika seseorang berambisi kuat untuk karir, maka dia seperti tidak punya kehidupan lain, bahkan dalam satu minggu penuh dia dikuasai oleh pekerjaan. Hm, atau yang demikian dianggap lebih bisa diandalkan?
Aku pribadi termasuk spesies yang tidak begitu tertarik akan hal itu, mungkin salah, seharusnya siapapun yang berani nyemplung dalam kubangan ini harus berani basah-basahan,bukan? Tapi kembali lagi, aku punya kehidupan lain, aku punya keluarga, orang yang disayang, bahkan aku butuh waktu untuk diriku sendiri.
Nah kadang apa yang menjadi prinsip hidup kita tidak sepenuhnya bisa diterima orang lain, akan ada cibiran-cibiran yang mungkin terdengar kurang enak ketika kamu berada di jalan yang menurutmu sudah benar. Herannya lagi kadang aku berpikir, apapun yang kita lakukan maka yang menuai hasil adalah kita. Lantas kenapa masih ada jenis makhluk hidup yang merasa jengkel ketika kelelahan yang dia tanam tidak disentuh sedikitpun oleh orang lain.
Maksudnya gini, ketika ada yang bekerja jor-joran lalu mendapat nilai yang baik dan hasil financial yang memuaskan merasa kamu itu terlalu santai. Tidak sama seperti dia. Padahal apapun yang didapatnya tidak sedikitpun kamu makan.
Kira-kira begitulah gambaran ketika banyak kepala yang beragam isi di dalamnya menjadi satu. Mudah-mudahan kalian yang nanti juga akan masuk ke dalam kubangan ini jauh lebih siap dibanding aku yang masih suka baperan kalau dizolimi orang lain. Perasa mungkin.
Friday, 16 February 2018
Kenapa Nggak Pernah Nulis lagi?
Sebuah kalimat pertanyaan itu sudah beberapa kali
dalam beberapa tahun ke belakang bermunculan. Ya, tepatnya, sih, setelah aku
memang nggak nulis lagi. Sekitar tahun 2015 kemarin, ketika aku udah nyemplung
di dunia kerja, aku memang mengurangi rutinitas yang bersentuhan langsung
dengan dunia tulis-menulis. Dulu banget, waktu masih kuliah sampe pas selesai
kuliah, masa transisi sebelum kerja a.k.a pengangguran, aku tuh paling suka
ikut event-event nulis. Biasanya setiap malam apa gitu, aku
udah lupa sih jadwalnya sekarang, aku suka ikutan puisi malam di akun twitter-nya
nulis buku.
Kalo nggak salah itu mulainya pukul 23:00-00:00,
biasanya admin nulisbuku bakal ngasih satu kata kunci buat dijadiin puisi
dengan hastag #puisimalam. Saking niatnya, aku tuh biasanya
tidur dulu mulai dari habis salat isya, terus paket data sengaja aku matiin dan
alarm udah aku setel sesuai jadwalnya. Soalnya, aku pernah kesel banget gegara
ketiduran pas nyetel alarm lebih cepet 15 menit dari acaranya dimulai. Padahal
niatnya supaya ada persiapan dulu, supaya otak bisa mikir buat ngeluarin
kata-kata pamungkas malem itu, tapi nyatanya aku ketiduran, pas bangun udah
subuh aja.
Entah kenapa aku dulu bisa sebegitu menyesalnya kalo
ketinggalan tuh puisi malam, berasa kayak kehilangan satu kesempatan emas buat
mengasah kemampuanku. Apalagi pas pagi-pagi itu liat di timeline twitter kalo
banyak puisi yang bagus-bagus itu di-retweet sama admin nulisbuku,
rasanya gondok pisan euy. Nah, dari puisi malam inilah aku banyak kenal
penulis-penulis berbakat Indoesia, penulis pemula kayak aku. Biasanya dimulai
dari mereka me-retweet puisi-puisiku yang di-retweet sama
nulisbuku, lalu saling balas dan akhirnya saling kasih link blog sampe sharing
soal kepenulisan.
Aku inget banget waktu itu sampe bikin grup gitu, kalo
nggak salah isinya kami bertiga itu satunya namanya Siska, dia lebih muda dari
aku, dia kuliah jurnalis kalo nggak salah. Satunya lagi Umay, dia orang Medan
dan suka nulis juga, aku lupa dia jurusan apa kemarin, kami seumuran. Nah
karena waktu itu ada lomba menulis yang hadiahnya tiket liburan ke Bali,
jadilah kami pada ikut, akhirnya yang menang itu kalo nggak salah penulis dari
Sulawesi atau Kalimantan. Setelah saling kontak-kontakan, mention-mention-an,
dia juga kami masukin di grup dan sekarang entah ke mana dia.
Selain itu, aku juga suka ikutan lomba FF2in1, Flash
Fiction Two in One. FF2in1 itu adalah satu acara yang juga dibuat sama
nulisbuku, di mana admin bakal melempar dua lagu yang dibagi dua sesi,
masing-masing 30 menit. Misalnya, di sesi pertama si admin ngasih lagunya
Sheila on Seven yang judulnya Anugerah Terindah atau lagu-lagu Barat, nah bagi
siapapun yang mau ikutan harus nulis di blog masing-masing, tulisan dengan
maksimal karakter sebanyak 500 kata kalo nggak salah, itu setiap Rabu malam jam
19:00.
Bagi siapa yang menang, berhak buat milih satu buku
yang ada di web nulisbuku, gratis. Sumpah itu bikin penasaran banget, setiap
ikut FF2in1 itu rasanya deg-degan. Beneran. Baru sepuluh menit aja udah banyak
banget yang ikutan dan pemenang yang diambil cuma satu, sampai pada akhirnya
waktu itu aku pernah ikutan dan menang, dapet buku deh. Itu juga rasanya yang
ikutan sepi, keliatan banget kalo saingan beratnya lagi pada nggak ada jadinya
aku menang haha.
Ya gitulah pokoknya, sampe sekarang pun aku berterima
kasih sama nulisbuku yang udah mau menjadi wadah bagi penulis-penulis pemula
seperti kami untuk belajar terus, untuk lebih mencintai bahasa, untuk lebih
banyak berkomunikasi dengan seluruh penulis berbakat di Indonesia yang mungkin
belum berkesempatan untuk bisa memajang karya mereka di toko buku ternama.
Nah, balik lagi ke pertanyaan di atas, kenapa nggak
pernah nulis lagi?
Gimana ya jawabnya, aku juga sebenernya bingung mau
jawab pertanyaan itu. Kalo dibilang nggak pernah lagi sih enggak, aku masih
nulis sampe 2015 akhir kalo nggak salah. Jadi sebenernya itu lebih karena
keadaan sih, di mana aku harus fokus dengan karirku, maksudnya dengan
pekerjaanku. Dulu banget, waktu masih menggebu-gebu soal nulis sampe aku
nerbitin novel di saat aku juga lagi sibuk-sibuknya kuliah, rasanya aku tuh
hidup banget dengan duniaku, menulis. Sampe pada waktu itu aku udah mulai kerja
di awal 2015, udah mulai susah bagi waktu.
Waktu masih nganggur di rumah, aku bisa bebas ngerjain
tulisanku sampe jam berapapun. Nah ini juga yang udah hilang dari aku, mungkin
bakal aku bahas di tulisan khusus lainnya. Tentang semangat yang dulu ada,
sampe aku punya kepinginan bukuku ada di Gramedia dan jadi best seller,
kemudian difilmkan dan filmnya juga laku keras.
Tapi makin ke sini, tiba-tiba dan memang aku
orangnya overthingking gitu kan. Semua hal kecil pun
dipikirin, makanya suka sakit kepala gegara kayak gituan. Aku tuh mikir aja,
aku tuh pengin punya buku yang menginspirasi, buku yang bermanfaat, nggak cuma
sekedar nulis dan laku di pasaran terus dompetku tebel dan bisa beli ini itu.
Ini tuh lebih dari beban moral, bagi aku nulis itu
dampaknya luar biasa. Ketika tulisanku disukai banyak orang, kemudian mereka
mempedomani isinya, di sanalah amal jariyahku dicatat. Ketika isinya
benar-benar bisa menjadi manfaat dan berisi kebaikan, tentulah itu berbalik
positif juga kan buat aku. Nah, sementara selama ini tulisanku itu biasanya
sesuai dengan tema-tema yang udah ditentuin sama panitia lomba-lomba menulis,
yang notabene-nya itu nggak jauh-jauh dari soal “percintaan”.
Entahlah, yang ada di kepalaku itu adalah, aku nggak
mau menebar pemikiran yang salah sama pembaca-pembaca tulisanku. Maka dari itu,
ada sih beberap lagi draft naskah tulisanku yang pernah aku
ikutsertakan dalam lomba nulis itu sampe sekarang aku simpen aja file-nya.
Kok gitu? Ya itu tadi aku nggak mau tulisanku malah membawa banyak hal negatif.
Misal nih, bukan maksud buat men-judge penulis-penulis lain ya.
Misalnya aku nulis novel soal cinta-cintaan yang isinya tentang cara-cara
mempertahankan hubungan LDR, katakanlah memang sesuai, bisa diterapkan. Tapi
apakah dibenarkan aku ngasih saran-saran yang begituan, ngajarin anak muda
Indonesia buat pacaran dan lain-lain.
Ya gitulah pokoknya, aku tuh pengin kalo tulisanku itu
benar-benar ada manfaatnya. Kemarin sempet nulis soal perjuangan seorang guru
buat ngajar di sekolah terpencil gitu, itu udah dari tahun 2014 kalo nggak
salah sih nulisnya, tapi sampe sekarang belum juga terbit karena belum punya
waktu merevisi. Ya, mudah-mudahan nanti bisa balik lagi semangat nulisnya
seperti dulu, juga isinya bener-bener bisa dijadiin pedoman buat siapapun yang
ngebaca.
Monday, 25 December 2017
Turns to 24!
Yaps, 24 tahun.
22 Desember 1993-22 Desember 2017. Genap sudah gadis itu berusia 24 tahun, satu tahun lagi menjelang usia krusial bagi wanita kebanyakan. Benarkah?
Bukan soal benar atau tidak, tapi soal pandangan dari mindset masing-masing kepala. Menuju angka 25 itu sebenarnya bukanlah hal yang menakutkan bagi wanita, hanya saja memang faktor biologis yang nantinya akan menentukan untuk keberlansungan keturunan mereka itu yang perlu dipikirkan.
Kaum Adam mungkin banyak yang berpendapat kalau usia 25 itu masih muda untuk takaran seorang wanita segera menyandang gelar istri, apalagi kalau si wanita punya hormon yang sehat, atau memang diberi rezeki muka awet muda. Tapi, lagi-lagi bukan soal itu, bukan juga tergesa-gesa, hanya saja menyegerakan itu lebih baik.
By the way, ngomoningin soal ulang tahun, rasanya di mana-mana semua wanita suka dikasih kejutan yang romantis, bukan? Tentu saja, tapi romantis itu tidak melulu soal ngasih kue atau kado (rasanya sudah sering bilang ini). Iya, romantis itu bisa lewat ucapan selamat ulang tahun degan cara spesial, atau diam-diam mengumumkan pada khalayak banyak (socmed) tentang keberadaan orang yang disayang, tidak perlu berlebihan, tapi hal seperti ini kadang melebih segalanya. Membuat seseorang merasa istimewa, merasa ada, dan dunia perlu tahu kalau dia termiliki.
Ya, lagi-lagi isi kepala dan hati kaum Adam dan Hawa itu berbeda, akan selalu begitu. Lalu, apa ketika si kaum Adam tidak begitu peduli dengan segala macam keromantisan itu lantas disimpulkan bahwa rasa sayang mereka tidak seberapa? Tidak, tentu tidak. Hanya saja kadang dalam hidup ini seseorang itu perlu dibuat merasa bangga dan bahagia karena sudah termiliki olehnya. Seketika ada mata lain yang memandang, tentulah dia merasa kuat dan selalu dianggap ada. Ini hanya sudut pandang saja.
Eh satu lagi lah, kadang hal biasa yang dilakukan tanpa bertanya itu lebih membahagiakan daripada spesial tapi setelah diingatkan. Sekian.
Jadi, bagaimana pertambahan usianya? Biasa saja. Seperti sebelumnya.
22 Desember 1993-22 Desember 2017. Genap sudah gadis itu berusia 24 tahun, satu tahun lagi menjelang usia krusial bagi wanita kebanyakan. Benarkah?
Bukan soal benar atau tidak, tapi soal pandangan dari mindset masing-masing kepala. Menuju angka 25 itu sebenarnya bukanlah hal yang menakutkan bagi wanita, hanya saja memang faktor biologis yang nantinya akan menentukan untuk keberlansungan keturunan mereka itu yang perlu dipikirkan.
Kaum Adam mungkin banyak yang berpendapat kalau usia 25 itu masih muda untuk takaran seorang wanita segera menyandang gelar istri, apalagi kalau si wanita punya hormon yang sehat, atau memang diberi rezeki muka awet muda. Tapi, lagi-lagi bukan soal itu, bukan juga tergesa-gesa, hanya saja menyegerakan itu lebih baik.
By the way, ngomoningin soal ulang tahun, rasanya di mana-mana semua wanita suka dikasih kejutan yang romantis, bukan? Tentu saja, tapi romantis itu tidak melulu soal ngasih kue atau kado (rasanya sudah sering bilang ini). Iya, romantis itu bisa lewat ucapan selamat ulang tahun degan cara spesial, atau diam-diam mengumumkan pada khalayak banyak (socmed) tentang keberadaan orang yang disayang, tidak perlu berlebihan, tapi hal seperti ini kadang melebih segalanya. Membuat seseorang merasa istimewa, merasa ada, dan dunia perlu tahu kalau dia termiliki.
Ya, lagi-lagi isi kepala dan hati kaum Adam dan Hawa itu berbeda, akan selalu begitu. Lalu, apa ketika si kaum Adam tidak begitu peduli dengan segala macam keromantisan itu lantas disimpulkan bahwa rasa sayang mereka tidak seberapa? Tidak, tentu tidak. Hanya saja kadang dalam hidup ini seseorang itu perlu dibuat merasa bangga dan bahagia karena sudah termiliki olehnya. Seketika ada mata lain yang memandang, tentulah dia merasa kuat dan selalu dianggap ada. Ini hanya sudut pandang saja.
Eh satu lagi lah, kadang hal biasa yang dilakukan tanpa bertanya itu lebih membahagiakan daripada spesial tapi setelah diingatkan. Sekian.
Jadi, bagaimana pertambahan usianya? Biasa saja. Seperti sebelumnya.
Sunday, 15 October 2017
Bahagia itu Sederhana
Bahagia itu sederhana saja, hanya dengan diberi kabar atau bahkan mendengar suaranya sejenak.
Kamu tahu bagaimana rasanya lelah karena berkutat dengan pekerjaan selama satu minggu penuh, kan? Jadi ketika weekend tiba rasanya ingin tiduran saja di kamar menghabiskan libur.
Tidak, tidak dengan wanita ini. Dia selalu menghitung hari di mana weekend yang dia punya sama dengan weekend orang yang dia sayang. Kenapa? Supaya bisa mendengar suaranya untuk melepas rindu walau sejenak saja.
Iya, waktu memang menjadi pembatas segalanya. Pembatas rindu yang makin hari makin menggebu. Bahkan ketika badannya sedang kurang fit pun dia rela menuntaskan pekerjaan lain di siang hari, supaya ketika malam tiba dia bisa mendengar suara orang yang disayanginya lebih lama. Syukur-syukur bisa memandangi wajahnya lewat layar handphone-nya.
Tapi kenyataan tidak selalu sama dengan yang diharapkan. Ketika dia punya banyak waktu dan perhitungannya benar. Bahwa hari yang dia tunggu ketika dia bisa mendengar suata itu tidaklah sama.
Kadang dia rela meninggalkan segala kegiatan demi menunggui bunyi dari handphone-nya, tapi tetnyata kadang orang yang dia sayang tak selamanya harus menghabiskan waktu untuknya. Dia juga punya kehidupan lain dan punya hak atas dirinya sendiri.
Jadilah kesia-siaan dalam menunggu itu tak jarang membuat matanya sembab, selain menahan kantuk, juga menahan rindu, dan mungkin orang yang dia sayang tidak tahu tentang itu.
Sebut saja itu "tulus".
Kamu tahu bagaimana rasanya lelah karena berkutat dengan pekerjaan selama satu minggu penuh, kan? Jadi ketika weekend tiba rasanya ingin tiduran saja di kamar menghabiskan libur.
Tidak, tidak dengan wanita ini. Dia selalu menghitung hari di mana weekend yang dia punya sama dengan weekend orang yang dia sayang. Kenapa? Supaya bisa mendengar suaranya untuk melepas rindu walau sejenak saja.
Iya, waktu memang menjadi pembatas segalanya. Pembatas rindu yang makin hari makin menggebu. Bahkan ketika badannya sedang kurang fit pun dia rela menuntaskan pekerjaan lain di siang hari, supaya ketika malam tiba dia bisa mendengar suara orang yang disayanginya lebih lama. Syukur-syukur bisa memandangi wajahnya lewat layar handphone-nya.
Tapi kenyataan tidak selalu sama dengan yang diharapkan. Ketika dia punya banyak waktu dan perhitungannya benar. Bahwa hari yang dia tunggu ketika dia bisa mendengar suata itu tidaklah sama.
Kadang dia rela meninggalkan segala kegiatan demi menunggui bunyi dari handphone-nya, tapi tetnyata kadang orang yang dia sayang tak selamanya harus menghabiskan waktu untuknya. Dia juga punya kehidupan lain dan punya hak atas dirinya sendiri.
Jadilah kesia-siaan dalam menunggu itu tak jarang membuat matanya sembab, selain menahan kantuk, juga menahan rindu, dan mungkin orang yang dia sayang tidak tahu tentang itu.
Sebut saja itu "tulus".
Saturday, 5 August 2017
Selamat Bertambah Usia
Teruntuk kamu yang bertambah usia hari
ini.
Teruntuk kamu yang bertambah usia hari
ini, aku masih ingat jelas saat pertama kali kedua pasang mata kita bertemu
tatap. Saat pertama kali kamu datang ke rumah sendirian, bertemu Ayah dan Ibu.
Kita saat itu bertukar cerita seadanya, tentang pekerjaanmu yang saat itu akan
segera kamu tinggalkan karena jerih payahmu akan segera terbalaskan. Juga
tentang ceritaku yang juga masih terus berjuang untuk pekerjaan yang lebih
baik.
Saat itu, aku sebenarnya malu, sebab
baru kamu laki-laki pertama yang berani datang ke rumah sendirian, sementara
temanku saja harus membawa teman wanita supaya bisa aman main ke rumah. Saat
itu kita ngobrol seseru itu, tidak terlalu canggung meski baru pertama kali.
Kamu dengan segala kepercayaan dirimu datang untuk menagih janji untuk makan
kue nastar di rumah.
Haha, kue nastar itu hanyalah modus
setelah novel pertamaku meluncur ke rumahmu. Walaupun niatmu membelinya hanya
untuk menjadi langkah awal kedekatan kita. Iya, aku ingat semuanya. Aku ingat
saat pertama kali deguban jantungku terasa berbeda ketika menjemputmu di depan
pagar rumah, mengajakmu masuk dan menyuguhimu makanan sederhana di rumah, juga
cokelat berbentuk hati itu.
Kamu pun dengan gagahnya masuk, tidak
terlihat kecemasan dari raut wajahmu. Saat itu aku kaget sungguhan, ternyata
aku hanya sebatas pundakmu saja. Selama waktu berjalan di hari pertama kita
bertemu itu, aku merasa ada yang berbeda dari sorot matamu, ketulusan.
Saat itu, kamu juga menunjukkan KTP
milkmu dan mengatakan dengan jelas bahwa kamu lebih muda dariku. Saat itu aku
malu sekaligus geli, bisa-bisanya brondong macam kamu berani menggodaku seperti
itu, datang ke rumah dengan sok pedenya ngajak ngobrol enteng tanpa terlihat
kecemasan sedikitpun.
Sejak itu, aku menjadi lebih tertarik
padamu, ditambah lagi informasi tentang kamu yang selalu ditransfer temanmu
untukku. Sampai pada akhirnya aku menemukan satu titik yang membuatku mencoba
untuk membuka hati kembali, untuk kamu.
Proses itu kita jalani bersama, kita
lewati dengan tidak begitu mudah. Banyak ranjau dan halang merintangi
kesemuanya. Diawali dari memantapkan hati untuk bersama dengan visi dan misi
yang sama, kemudian diterjang ombak yang cukup besar di awal perjalanan,
kemudian ombak lagi di pertengahan sampai pada saat itu mungkin kamu mulai
lelah dengan ombak-ombak yang mungkin aku ciptakan sendiri dan sampai pada
detik ini, akhirnya kita berhasil melewati banyak ombak yang menghalang karena
sama-sama masih memiliki visi dan misi yang juga sama.
Teruntuk kamu, laki-laki yang paling
bisa membuatku rindu sepanjang waktu, laki-laki yang selalu bisa membuatku
gagal untuk diam bisu saat hati entah kenapa merasa kesal padamu, laki-laki
yang tidak ingin banyak berjanji tapi selalu berusaha mencukupi, laki-laki yang
selalu berhasil membuat titik air mata tumpah karena lelahmu yang tak pernah
kau ucap, laki-laki yang tak pernah hilang barang sedetik pun dari ingatan,
kamu tentulah tahu seberapa besar perasaan ini terjaga selama dua kali
pertambahan usiamu ini.
Sayang, tetaplah seperti ini, menjadi
laki-laki yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam otakku untuk mencari
penggantimu di kemudian hari.
Sayang, tetaplah menjadi tempat
ternyaman, meski waktumu tak banyak untuk bisa kamu bagi karena banyak yang
harus kamu penuhi.
Sayang, tidak ada sesuatu yang
istimewa yang bisa kuberikan selain kesetiaan yang mungkin tidak begitu
terlihat saat ini.
Sayang, semoga kelak dengan semakin
dewasanya kamu, maka semakin bermanfaat pula bagi keluarga dan orang-orang yang
kamu sayangi.
Sayang, tidak akan ada paksaan dalam
hubungan ini. Jika aku sebagai pihak yang menunggu dan kamu pihak yang
ditunggu, tentulah tidak ada lagi pertanyaan setelah ini, cukup dengan menunggu
tibanya waktu itu.
Sayang, tidak ada hari paling bahagia
kecuali tidak ada lagi jarak bagi kita berdua.
Selamat bertambah usia, lelakiku.
Wednesday, 26 July 2017
Cari yang Sepadan
Tahukah kalian
arti kata sepadan versi KBBI online adalah:
sepadan (dengan)/se·pa·dan (dengan)/ a mempunyai nilai (ukuran, arti, efek, dan sebagainya)
yang sama; sebanding (dengan); seimbang (dengan); berpatutan (dengan).
Terkait dengan kata sepadan ini, tentulah banyak
hal yang perlu kita lakuin dan pilih itu sepadan. Contoh, sejak dulu aku tuh
punya kepengenan punya calon pendamping hidup a.k.a suami itu yang sepadan.
Sepadan dalam artian selaras. Mulai dari gaya hidup, sudut pandang, visi, misi
dan lain-lain. Kenapa mesti gitu? Aku pernah nggak sengaja liat video ustad apa
gitu ceramah soal mencari pasangan itu hendaklah yang sepadan. Misalnya, kita
kepengen dapet suami atau istri yang solehah ya tentulah kita harus seperti
kriteria itu terlebih dahulu. Kalo seandainya kita kepengen dapet suami atau
istri yang rajin ibadah, baik wajib maupun sunah ya kita mesti gitu juga. Kalo
nggak sepadan, risikonya berat. Misal punya suami yang rajin qiyamul lail (solat tahajjud), tapi
kitanya sendiri nggak gitu. Ketika si suami bangunin buat solat tahajjud bareng, itu pasti rasanya berat. Nah, di situ letak sepadan itu mesti diterapkan.
Dari sisi materi atau ekonomi, ketika ada
ketimpangan, nggak jarang rumah tangga itu bakal sulit dijalani. Makanya dari
dulu aku tuh kepengen banget punya suami yang dia dan keluarganya itu nggak
terlalu mengutamakan urusan dunia. Punya mertua yang gaul dan ngerti banget
dunia kekinian itu rasanya momok banget buat aku. Aku pengen punya mertua itu
yang kayak ibuku sendiri, yang sederhana dan nggak neko-neko, biar nyaman meski
nanti tinggal bareng. Nggak melulu ngeliat dari kacamata dunia doang.
Terus, aku juga kepengan punya suami itu yang
ilmunya sepadan, sama-sama mau belajar kalo sekarang ilmunya masih cetek,
syukur-syukur dapet suami yang bisa ngasih ilmu lebih banyak, tambahan bekal
buat anak-anak kami kelak. Selain itu, aku juga seneng banget kalo dalam
hubungan itu si pasangan mau menghargai dan melihat sisi positif lebih banyak
(meski kadang aku juga suka negatif sih, maklum lah kalo cewek kan perasa).
Contoh, dalam kondisi aku drop karena urusan
kerjaan dan lain-lain, dia tu selalu ngasih semacam suplemen yang bikin aku
tadinya minder, males, nggak pede dan lain-lain itu jadi lebih semangat. Ketika
dunia rasanya nggak nganggep aku ada, dia ada buat ngasih tahu kalo aku itu berharga,
misalnya ketika aku lagi ngerasa drop karena dituntut ini itu dalam kerjaan.
Dia bakal nenangin gini:
“Kamu tuh hebat, makanya kamu disuruh ini itu.”
Atau ketika aku gagal menjalani sesuatu, dia
bakal bilang:
“Tenang, aku yakin kamu tuh mampu. Kamu pasti
bisa.”
Atau aku yang juga selalu ngaggep dia itu yang
paling hebat, misalnya dia bilang:
“Ah, apalah aku ini cuma kerja di sini.”
Aku pasti jawab: “Kamu tuh hebat, nggak semua
orang bisa kerja di tempatmu.”
Atau “Kamu tuh memang yang terbaik, nggak pernah
berubah meski udah dikasih kelebihan kayak gini.”
Menurutku, kesepadanan perlakuan itu adalah
penting. Ketika kita memilih calon pasangan hidup yang sepadan, mulai dari
pemikiran, tabiat, perlakuan, dan segala yang mencakup aspek kehidupan itu
harus dipertimbangkan. Ketika kita sudah menemukan yang sepadan dan selaras
dengan segala tujuan hidup dan kebiasaan, mudah-mudahan nggak akan ada yang
namanya kekurangan, baik dari segi dunia maupun akhirat.
Sejauh ini aku bersyukur, Allah sudah dengan
sangat baiknya ngasih kondisi gini dilengkapi dengan dia yang kuanggap sepadan.
Mudah-mudahan di kehidupan di kemudian hari kesepadanan itu membuahkan hasil
yang baik untuk semua pihak.
Never Underestimate People!
Pernah nggak sih kalian tuh
ngalamin yang namanya perpeloncoan dalam dunia kerja, komunitas atau apapun?
Perpeloncoan maksud aku itu adalah, keadaan di mana kamu dipandang sebelah mata
sama siapapun mereka yang posisi atau kemampuannya mereka anggap lebih dari
kamu? Misalnya nih, ada tugas yang mesti kamu kerjain yang pada kenyataannya kamu
tuh belum punya basic-nya sama
sekali. Ex: kamu orang non teknik yang diminta ngerjain laporan orang lapangan,
soal jaringan, pembangunan dll? Tahu kan gimana rasanya, sementara kita orang
baru mesti manut sama apapun perintah yang dikasih. Ada dua macam alasan di
balik ini, yang pertama karena kita dipercaya mampu buat ngerjainnya, yang
kedua adalah uji coba mental, apakah kita sanggup kalo dikasih tugas yang di
luar main basic kita.
Kadang, dunia kerja nggak seindah
ngebayangin seberapa gede gajinya doang, tapi juga nggak seburuk yang dipikirin.
Lagi-lagi aku merenung, belum juga lulus ujian dan diangkat jadi pegawai tetap
kok aku banyak banget dikasih tantangan a.k.a cobaan, tapi di satu sisi rasanya
itu berkah dan kesempatan yang nggak semua orang bisa dapet itu. Mulai dari
awal OJT aku tuh nyoba buat nerima segala sesuatu yang aku anggap sebagai
tambahan ilmu.
Aku diminta untuk tampil,
memperkenalkan diri di depan semua pegawai. Kemudian selang beberapa waktu aku
udah diajak diklat yang bidangnya nggak seharusnya aku pegang, setelah diklat
udah diajak lembur ngerjain laporan triwulan untuk pencapaian kinerja
perusahaan yang berhubungan dengan pengembangan karir pegawai. Di saat itulah
aku merasa Allah tuh punya rencana besar di balik semua ini. Dari semua teman
seangkatan itu, di kelasku cuma aku yang dikasih lintas bidang. Merasa nggak
adil? Pernah dong. Merasa kok aku cobaannya berat banget ya, tapi di satu sisi
kok aku malah dikasih posisi yang aman.
Aman dalam artian, di saat
teman-temanku yang lain dikasih penempatan sesuai dengan bidang itu harus rela
lembur tiap malem karena ngurusin tunggakan pelanggan. Rata-rata mereka
ditempatin di Rayon (layer 3),
sementara aku ditempatin di Area (layer 2),
satu tingkat di bawah wilayah dan di bagian SDM, yang artinya aku harus
mengkoordinir semua data dan keperluan pegawai baik yang ada di Area maupun
rayon yang bernaung di bawahnya. Awalnya memang kupikir nyantai aja, toh nggak
berhubungan dengan data Niaga atau Keuangan yang ngejelimet, tapi ternyata
pemikiran itu salah. Semua pekerjaan itu punya tingkat kesulitan masing-masing.
Rasanya aku kadang kurang setuju
kalo ada yang bilang gini: “Mbak, background
pendidikannya apa? Kok di SDM, sayang banget nanti nggak bisa berkarir, mending
di Keuangan.”
Pendapat gitu
udah banyak banget aku denger, padahal asal mereka tahu kerjaan orang SDM itu
nggak segampang menurut mereka, yang cuma ngurusin data pegawai, input ini itu
doang. Bagian SDM juga punya KPI (Key
Performance Indicator) yang kalo menurutku cukup sulit. Bayangin coba,
bagian SDM itu sesi paling sibuk ngurusin karir orang lain. Setiap pegawai
mesti dimonitoring karirnya dan diupayakan untuk tindak lanjut dari posisi
mereka, nah yang sulit itu dan menjadi tantangan bagian SDM adalah untuk
menumbuhkan rasa kesadaran diri pegawai bahwasanya apa yang diminta bagian SDM
untuk dikerjain maupun dikumpulin itu adalah semata-mata untuk kebaikan karir
mereka ke depan. Itu, yang sulit itu bikin orang nyadar. Bikin orang nggak
males-malesan buat maju, bukan cuma buat perusahaan doang, tapi lebih ke
kebaikan si individu sendiri.
Setelah mulai
memahami tugas penting SDM, aku pun mulai dikasih tanggung jawab untuk ngerjain
laporan Keuangan, yang meliputi pembayaran tagihan investasi dan operasi. Nah
di sini letak never underestimate people
itu. Tahu kan di mana-mana yang namanya Keuangan itu ya bikin pusing kan ya.
Belum juga apa-apa aku udah diajakin rapat penyerapan anggaran investasi dan
operasi, dengan posisi masih siswa prajabatan (belum pegawai sah).
Di satu sisi
sebenarnya aku udah nggak kaget lagi soal Keuangan karena udah pernah berurusan
sama Keuangan di swasta itu hampir dua tahun, ketemu sama yang namanya angka,
SPK, RAB, pembayaran upah, dll itu udah biasa. Cuma ya bedanya itu, kerja di
swasta yang nggak punya banyak cabang perusahaan itu ya laporannya nggak
terpusat dan aplikasi yang dipake pun cuma untuk internal, tapi sedikit apapun
ilmu yang dipelajari tetaplah bermanfaat kan.
Nah, aku tuh
selalu inget omongan ayahku: “Tidak apa-apa kita dibilang bodoh, tapi kita
sebenarnya punya kemampuan. Mending kita terlihat lemah di awal, tapi akhirnya
potensi kita yang membuktikan.”
So, aku beneran pegang teguh pesan itu.
Biarin dianggep bodoh, biarin dianggep nggak tahu apa-apa, biarin dianggep
ilmunya cetek, yang penting pada akhirnya yang ngerasain manfaatnya adalah diri
sendiri. Ketika sebenernya kita mampu dan kemudian dianggap remeh, pada
akhirnya kemampuan itu akan semakin bertambah kalo kita mau sedikit bersabar
dan ikhlas nerima segala macam bentuk perlakuan orang lain.
Jadi, jangan
pernah underestimate ke orang lain,
karena sekecil apapun ilmu yang mereka punya itu akan jauh lebih baik ketika
mereka mencoba diam lalu berusaha memperbaiki dan menambahnya, ketimbang ilmu
yang banyak tapi sering meremehkan, menanggap diri paling banyak pengetahuan
dan nggak pernah salah. Siapa tahu orang yang kita anggap kecil itu akan jauh
lebih besar di kemudian hari. Keep your attitude
and be humble person, dude!
Tuesday, 25 July 2017
Menemukan Tujuan Hidup (Kembali)
Beberapa bulan ini, selepas
menempuh pendidikan yang panjang dan cukup rumit, aku merasa seperti kehilangan
tujuan hidup gitu. Entahlah, semacam bingung dengan keinginan sendiri.
Misalnya, sebelum diterima kerja di PLN ini, rasanya menggebu-gebu sekali supaya
bisa lulus dengan dua kali kegagalan sebelumnya. Dulu itu, sebelum tes aku nyiapin
diri semaksimal mungkin, mulai dari belajar ulang tentang psikotes (walaupun
sebenarnya aku udah hatam soal-soalnya, orang udah dua kali tes dari tahap GAT
sampai ke Psikotes soalnya itu-itu aja). Pelajaran buat kalian yang mungkin
perlu, selama tiga kali aku ikut tesnya, soal Bahasa Inggris dan Akademik yang
dikeluarin selalu sama. Soal Bahasa Inggris itu tentang pembangkit, tentang
pipa-pipa, proses penyaluran energi listrik dari pembangkit gitu. Cuma ya itu kosakatanya memang yang jarang dipake di soal-soal biasa. Terus kalo
soal akademik bagian niaga atau manajemen itu banyak masuk soal Manajemen Produksi.
Selain itu, aku juga nyiapin
kesehatan jiwa dan raga karena dua kali gagal, itu di tahap kesehatan fisik dan
laboratorium. Semenjak itu, aku lebih menguatkan lagi niat dan usaha untuk
mencapai target yang aku mau. Aku harus lulus kerja di BUMN sebelum usia 25
tahun (batas akhir bisa apply ke
BUMN). Dari dulu aku selalu pasang target dengan misi-misi rinci yang harus
dikerjain, selain itu juga aku kasih progres dari setiap pencapaian target yang
sudah kubuat. Mulailah dinding-dinding kamar dipenuhi dengan kertas-kertas
berisi tabel-tabel target.
Kebiasaan itu berjalan sampe sekarang. Menjadi anak rantauan yang diharuskan lulus segala macam ujian supaya
bisa jadi pegawai tetap itu gampang-gampang susah. Susahnya itu ya kalo
semangat udah mulai pudar, udah mulai ngerasa capek dan bosen. Rasanya kok
prosesnya susah banget, mau jadi pegawai gini amat, padahal tesnya aja udah
susah, mau jadi pegawai malah lebih susah.
Jadi, angkatan aku ini bisa
dibilang angkatan percobaan. Gimana maksudnya percobaan? Ya kita dijadiin sebagai bahan evaluasi untuk angkatan sebelumnya. Gini, sebelum kita diangkat
jadi pegawai tetap, kita harus memnuhi beberapa syarat:
Pertama, lulus pendidikan militer.
Aku dan teman-teman seangkatan harus, kudu, wajib melewati yang
namanya masa Kesamaptaan, yaitu Program Pembelajaran Bela Negara/Fisik dan
Karakter. Waktu itu kami pendidikan di Pusat Pendidikan Polisi Militer
(Pusdikpom) di Cimahi selama 10 hari. Rasanya aku udah pernah cerita soal ini,
bisa scroll aja ke tulisan-tulisan
sebelumnya hehe.
Kedua, lulus pembidangan.
Jadi, setelah selesai pendidikan militer di Cimahi, kami diangkut ke
Depok, tepatnya di Kinasih Resort and Outbond. Kami yang berstatus siswa
prajabatan ini harusnya belajar atau melewati masa pembidangan itu di Udiklat,
waktu itu yang menaungi kami adalah Udiklat Bogor. Berhubung angkatan kami
jumlahnya banyak, kurang lebih 800 siswa D3 dan S1, maka kami yang datangnya
lebih akhir dari anak S1 harus belajar di Kinasih. Di tahap pembidangan ini,
kami dibagi menjadi beberapa kelas sesuai dengan bidang yang kami apply di awal kemarin. Aku waktu itu
milih Niaga karena aku lulusan Administrasi Bisnis.
Nah, selama pembidangan dua bulan itu, aku dan teman-teman belajar
dari jam 7 pagi sampe jam 5 sore. Itu pun udah mulai sarapan jam 6 pagi. Pokoknya
kegiatan padet deh, belajar seharian banget. Untungnya, selama pembidangan,
anak Niaga tuh cuma beberapa kali dikasih tugas yang mengharuskan kami belajar sempe
jam 10 malem (batas aktifitas siswa, selanjutnya ya tidur), barang siapa yang
ketahuan masih melakukan aktifitas di kamar ya siap-siap aja disidak panitia,
pokonya no handphone, no more nonton
drakor, apalagi menggalau. Pokoknya ketat banget.
Materi yang aku dapet itu ya soal tarif tenaga listrik, penertiban
pemakaian tenaga listrik (P2TL), AP2T, P2APST, pokokny segala yang berhubungan
dengan pelanggan PLN deh. Kalo dibilang menguasai teori ya nggak mungkin
semuanya aku bisa, tapi seenggaknya itu bakalan didapet banget kalo langsung
praktek kan ya dan aku memang tipe yang suka ngomong, jadi seneng banget kalo
bisa ketemu pelanggan, melayani kebutuhan listrik mereka kan, sekalian ibadah.
Ketiga, lulus OJT.
Nah, ini tahap yang paling berat. Di sini lah letak angkatanku
kubilang jadi angkatan percobaan. Jadi, semenjak angkatan 54 kalo nggak salah
(aku angkatan 57), itu OJT udah nggak berkelompok lagi, sekarang semua
sendiri-sendiri. Nah, kalo dulu OJT berkelompok dan laporan yang harus dibuat
adalah PA (Project Assignment) dan
STO (Science Technology). Mereka juga
OJT bukan berbasis penempatan, temenku satu kelompok berisi 5 orang, awalnya
OJT di Bengkulu tapi penempatan kerja mereka beda-beda.
Apa yang bikin beda? Selain angkatan kami OJT nya sendiri-sendiri,
kami juga OJT berbasis penempatan. Jadi, kayak aku ini OJT di Distribusi Jawa
Barat, udah pasti aku bakalan penempatan di Jawa Barat. Terus, yang bikin
perjuangan berasa agak lebih berat adalah, di awal pembekalan OJT kami dikasih
arahan kalo yang dikerjain adalah PA dan STO dengan waktu OJT 45 hari kerja
efektif. Bisa kebayang kan stresnya kami, ditambah kabar kalo angkatan
selanjutnya nggak bakal ada PA sama STO lagi. Nah yang bikin mumet lagi adalah
aku dapet penempatan bidang SDM. Bayangiiiiiiiiin dua bulan aku dapet
pembidangan Niaga dengan segala materi yang udah didapet eh ternyata malah
ditempatin di SDM yang seharusnya ditempatin sama anak bidang PAS (Pelaksana Administrasi). Satu lagi, temenku cowok yang bidang PAS malah ditempatin di
Niaga. Cobaan banget.
Jadilah di minggu awal aku nyiapin buat PA tentang daftar tunggu
pelanggan pasang baru. Aku nggak mau salah dong bikin laporan, aku nanya ke
panitia Udiklat apa mesti bikin laporan sesuai bidang atau sesuai proyeksi
jabatan di OJT. Setelah dua minggu berjalan ternyata ada ketidaksesuaian antara
panitia Udiklat dengan SDM Disjabar. Udiklat minta aku buat laporan sesuai
pembidangan, sementara SDM minta aku buat sesuai proyeksi jabatan. Jadilah aku
galau, padahal udah mulai ngerjain laporan niaga.
Dan akhirnya ada evaluasi ulang setelah setengah perjalanan OJT yang
menetapkan kalo kami mesti buat laporan sesuai proyeksi jabatan pertama,
jadilah aku buat tentang SDM yang basic
teorinya aku nggak punya sama sekali dan mesti dibuat laporan.
Nah bedanya lagi, laporan kami nggak jadi dong PA dan STO jadinya
diganti Telaah Staf (TS). Kalo Telaah Staf sebelumnya itu buat anak rekrutan
SMK, tapi ternyata TS kami adalah kombinasi TS anak SMK dan PA anak D3/S1.
Pokoknya sepanjang perjalanan OJT ini banyak banget perubahan sistem yang buat
kami mesti kuat supaya nggak stres.
Nah untuk lulus OJT pun ada syaratnya, nggak asal lulus-lulus aja.
Pertama, kita mesti lulus Ujian Online (Ujo). Ujian ini adalah ujian online yang berisi 50 soal sesuai bidang
yang dipilih. Awalnya dibilang kalo Ujo itu soalnya sesuai proyeksi jabatan
(mampuslah aku yang nggak punya basic
teori bidang PAS sebelumnya kan).
Seiring berjalannya kegiatan OJT, ternyata beberapa hari sebelum itu
kita dikasih form untuk diisi mengenai bidang apa yang harus dipilih, bagi kami
yang lintas bidang ternyata boleh milih bidang apa yang kami kuasai, boleh
sesuai pembidangan atau sesuai proyeksi jabatan. Di situ galauku level atas.
Konsultasi sama mentor juga dia nyerahin ke aku sepenuhnya. Aku bingung, kalo
mau pilih bidang Niaga aku memang punya basic
teori tapi nggak turun langsung ke lapangan kayak teman-teman lain yang suka
pulang malem ngurusin tunggakan pelanggan, tapi kalo aku milih SDM/PAS aku
nggak punya basic-nya tapi udah turun
langsung walau nggak semaksimal anak niaga. Ya susah sih, staf SDM di tempatku
ini udah pada memasuki usia menjelang pensiun dan aku pun jarang megang
langsung kerjaan karena di awal mindset-nya
itu harus fokus ke laporan TS.
Selanjutnya, sistem dari penentuan kelulusan OJT adalah siswa harus
lulus Ujian Online terlebih dulu baru bisa mengikuti ujian akhir. Tibalah waktu
buat Ujo, kami cuma diperbolehkan membuka satu browser di laptop masing-masing dengan pengawasan ketat oleh
panitia. Nah, waktu itu aku bismillah aja milih bidang SDM dengan pemikiran
kalo aku udah turun langsung mudah-mudahan teori bisa ngikut. Pas waktu itu
ternyata soal untuk SDM nggak ada dan aku disuruh ngerjain soal Administrasi.
Tadaaa ternyata soalnya tentang adminstrasi umum yang aku nggak punya bekalnya,
memang ada soal-soal SDM dan aku yakin jawabanku bener. Terus, temen di
sebelahku yang tadinya ketuker sama aku itu terus-terusan minta dikasih tau
jawaban niaga dan aku ya enteng aja ngasih tau karena mikir saling bantu kan
ya, sampe berapa kali ditegur panitia. Tapi, pas aku minta kasih tau dia
ternyata dia udah banyak lupa teorinya. Hm.
Gimana hasilnya? Ya bener aja aku nggak lulus karena kurang 5 jawaban
lagi yang benar, sementara temenku itu lulus. Nggak bisa dan nggak boleh marah
dong, emang udah rezeki orang ya mau gimana lagi. Walaupun sebenernya kecewa
sama diri sendiri sih, kenapa nggak belajar semua teori SDM (ya sebenernya
mustahil, lah wong 2 bulan pembidangan aja belum tentu bisa). Tapi memang hampir
50% angkatan kami tu nggak lulus dan yang lintas bidang paling mendominasi, tapi
tetep aja kepikiran dan bikin drop, terus udah males aja sampe sekarang. Semacam
udah muak ngurusin OJT ginian, kayak susah baget jadi pegawai padahal udah
lewatin banyak tahap yang nggak mudah.
Tahu konsekuensinya apa? Kita mesti nambah hari OJT selama 20 hari
efektif kerja, begitu seterusnya kalo nggak lulus lagi, dikasih kesempatan 3
kali Ujo dengan penambahan hari OJT 20 hari setiap kegagalan. Bagi yang 3 kali
nggak lulus, bakalan dikasih tugas khusus dari Pusdiklat. Bagi teman-teman yang
lulus Ujo kemarin dibolehin ikut Ujian Akhir dan mereka udah pada lulus
beberapa hari yang lalu diumumin.
Bukan ngiri sama rezeki orang sih, toh juga SK nya bakal keluar
bareng-bareng satu angkatan. Cuma kadang aku merenung dan memang suka merenungi
segala sesuatu yang terjadi, kenapa sih aku mesti dapet lintas bidang sampe
buat aku nggak lulus? Dan sekarang aku bakalan ditempatin di bagian Keuangan
karena udah banyak yang rotasi jadi aku kebagian diminta di Keuangan dan mesti
bisa back up SDM. Kadang aku mikir, ini
tuh cobaan atau berkah, sih?
Di satu sisi rasanya berat, otakku nggak secerdas Einstein. Belumlah
juga lulus ujian udah disuruh ngerjain laporan pembayaran keuangan dan masih
nge-back up bagian SDM. Ngeluh si
sering, sampe si doi (sebut saja doi ya) bilang kalo aku tuh nggak boleh gini
setiap kali aku curhat kalo aku berasa udah capek, berasa udah nggak sesemangat
yang dulu, berasa udah males, berasa nggak tahu persis tujuan hidup. Padahal
sebelumnya aku tuh tipe manusia yang punya banyak planning dengan semangat menggebu. Tapi ya itu, kadang kondisi
mendadak ngerubah kita jadi manusia yang bukan kita sesungguhnya.
Jadi semenjak nggak lulus itu aku jadi makin males, males buat belajar
teori-teori yang sebarek-abrek. Udah jenuh aja ngurusin laporan udah
berbulan-bulan gitu. Ditambah lagi di kantor udah disuap buat ngerjain laporan
keuangan. Bayangin aja coba, aku pembidangan Niaga, OJT di SDM, Ujo
Administrasi dan sekarang mesti di Keuangan. Cobaan kan? Orang Keuangan itu
sering pulang malem karena tuntutan deadline.
Di awal aku mikir kok aku ditempatin di SDM, yang kata orang kalo mau
berkarir tuh agak susah karena di PLN ini yang sukses itu yang paham proses
bisnis, sementara orang SDM itu cuma ngurusin pegawai, nggak bakal tahu soal tarif
dan lain-lain. Awalnya sih ngambil hikmahnya ya mikirnya kerjaan SDM itu
nyantai, nggak perlu pulang malem ngejerin laporan dan dampaknya nanti kalo
udah nikah seenggaknya pas suami lagi di rumah aku bisa pulang cepet buat
masakin dia makanan enak dari tanganku sendiri.
Eh, akhirnya itu semua kayaknya bakal sulit karena aku udah ditempa
buat di bagian Keuangan. Beratnya itu bukan soal kerjaan, toh aku udah hampir 2
tahun kerja di swasta di bagian keuangan di posisi yang bisa dibilang lumayan,
Asisten Manajer Keuangan, yang kalo di PLN mah udah posisi orang-orang hebat.
Yang aku keluhin itu adalah ketika harus pulang malem terus, walaupun sebenernya
pulang ke kos atau kontrakan juga nggak ada kerjaan. Itu yang buat aku
males-malesan, jadi berasa kayak ngejerin dunia aja kalo sampe dapet di
Keuangan, tapi ya mau gimana lagi.
Aku merenung lagi, mungkin di balik semua ini Allah punya rencana
lain. Mungkin Allah pengen aku manfaatin semua potensi yang aku punya selama
belum menikah ini dengan cara nempatin aku dalam kondisi yang aku sendiri
kadang mikir bisa nggak ya aku jalaninnya? Makin ke sini aku makin mikir lagi,
kayak yang doi bilang, mesti ikhlas biar ibadahnya berkah. Jadilah aku mencoba
merenungi lagi tujuan dari semua ini dan akhirnya memutuskan untuk menjalani
saja. Toh Allah tahu posisi terbaik buat kita kan, siapa tahu aku bisa
bantu-bantu calon suamiku nanti buat buka usaha sendiri setelah nikah dengan
berkarir dulu selama kerja ini.
Mudah-mudahan bisa bantu buat tambah-tambahan biaya nikah atau buat
beli rumah, siapa tahu kan ya. Doain ajalah aku kuat biar nggak stres di sini. Karena
membagi unek-unek yang banyak dalem hati itu nggak gampang, apalagi soal
perasaan dan masa depan. Kadang mending dipendem dan direnungi sendiri, apalagi
soal cita-cita dan keinginan yang mungkin berasa hampir nggak bisa diwujudin.
Berbagi dengan pasangan pun kadang sulit, sulit ngejelasin gimana maunya kita
tapi nggak ngebikin mereka ngerasa ikut terbebani dengan segala unek-unek yang
ada. Jalan keluarnya ya merenung dan mencari solusi sendiri, mencoba ikhlas
dengan tujuan hidup yang ada tanpa memaksa apa yang ada harus berjalanan sesuai
yang dimau saja.
Dan dari hasil merenung ini, kayaknya topik soal
nikah, hidup sama pasangan dan punya anak mesti dikubur dulu aja biar nggak stres
sendiri ujungnya. Biarin ajalah, apa yang bakal didapet juga sesuai dengan apa
yang diperjuangkan. Allah maha tahu isi hati umat-Nya kan. Nggak perlu maksa,
semua orang punya pilihan hidup yang kita sendiri nggak berhak ngatur-ngatur
kehidupan mereka. Hmm, intinya ya udah jalani ajalah toh yang bikin kamu maju
dan bangkit itu ya dirimu sendiri meski banyak support sana-sini. Ntar lagi
lah nyambung ke opini selanjutnya soal pilihan. See ya!
Thursday, 8 June 2017
Bersyukur
Detik ini tetiba pengen banget
nulis, walupun sebenernya lagi sibuk banget ngejer deadline Laporan Telaah Staf yang harus diupload tanggal 15 nanti
dan mudah-mudahan lulus sidang habis lebaran nanti. Hmm, capek, sih. Pernah
ngeluh juga sih, kok ribet banget ya mau jadi pegawai? Tesnya susah, sampe
tiga kali baru lulus, udah masuknya makin susah lagi. Mesti ngerjain laporan,
sidang, OJT, ujian online, tinggal sendirian di rantauan. Uh, penuh pokoknya.
Minggu pertama pun dilewatin
dengan nangis-nangis sendirian di kos, ngadu sama Randy, nangis-nangis juga
sampe dia bingung sendiri. Pergi kerja sendirian, aksesnya gak jauh cuma angkot
gak lewat sana, ya alhasil jalan kaki bolak-balik kantor. Nyampe kantor mesti
ketemu orang-orang baru yang banyak karakternya, mulai dari yang perlakuin
kayak anak, ada yang perlakuin beneran kayak anak buah, ada juga yang jutek dan
sebagainya. Semua dipikul sendirian. Dan itu .... gak mudah.
Masuk minggu kedua makin stres
sama laporan yang makin dikejer-kejer dan banyak perubahan sana-sini, diajak
pergi sana-sini, ikut diklat ini itu yang gak tahu sama sekali basic-nya. Dan, pada akhirnya semua
kuserahkan pada yang memiliki kuasa besar atas hidup.
Aku gak mau stres sendiri, di
sini aku sendirian. Mesti kuat, mesti bisa ngelakuin apapun sendirian, karena
kalo gak mau, ya aku gak bisa hidup. Ngangkat galon dari bawah ke dalam kamar,
misalnya. Berobat ke klinik yg jauh dari kos, pergi sendirian, dikasih ujian
dengan sakit berminggu-minggu sampe jalan aja susah, solat pun masih duduk
sampe sekarang. Allahuakbar.
Kadang, rasanya gak kuat. Rasanya
mau nyerah, tapi ketika rasa capek itu dateng, hati pun ngerasa ada
yang salah. Rasa syukur itu harus kembali ditanamkan dalam hati, bersyukur kalo
sejauh ini apapun yang diminta sudah dikabulin sama Allah. Dulu pengen kerja di
BUMN, alhamdulillah dikasih. Sekarang udah dikasih, kok malah ngeluh?
Sebenernya ada rasa risau dalam
hati tentang apa yang sebenernya dicari selama ini, yang sejak dulu menjadi
poin utama tujuan hidup: “ketenangan hati”. Semakin banyak bersyukur, maka
ketenangan hati pun bisa dirasakan lebih. Hanya saja kadang ketika lelah
dateng, rasanya gak sanggup jalani ini untuk waktu yang cukup lama.
Ngelihat antusiasme orang bekerja
di perusahaan ini kadang-kadang nge-push juga untuk bisa kayak mereka dengan tujuan
supaya bisa banyak manfaat untuk banyak orang (cita-cita yang sejak dulu ingin
dicapai), tapi di satu sisi ngerasa kok ibu-ibu ini kuat banget yan jalaninnya,
udah nikah LDR sama suami, kerjaan di kantor banyak, pulang malem terus. Lah
terus di mana letak ketenangannya?
Wanita mana yang gak mau jadi ibu
rumah tangga seutuhnya yang bisa mengabdi utuh pada suami dan keluarga?
Tentulah tidak ada, tapi bagi kami yang sudah terlanjur dan alhamdulillah
diberi rezeki dengan bisa bekerja di tempat yang lebih baik ini, semogalah bisa
ngasih manfaat lebih untuk orang lain, terutama keluarga.
Saat ini, semoga Allah selalu
menguatkan, supaya bisa berjuang di sini sendirian demi mereka yang disayangi.
Kuat sampai pada waktunya segala yang dicita-citakan bisa terwujudkan, menjadi
sepenuhnya anak yang berbakti bagi kedua orangtua dan suami, juga ibu yang
bisa jadi madrasah pertama bagi anak-anakku nanti.
Monday, 15 May 2017
APA AKU TIDAK HIDUP DI HARI INI?
Menjadi seseorang yang visioner
itu mungkin betulan buat hidup jadi kurang asik. Terlalu memikirkan masa depan,
tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, bagaimana ini,
bagaimana itu, salahkah kalau begini, salahkah kalau begitu sampai tidak
menikmati hari ini. Betulkah? Bisa jadi.
Yap. Aku adalah seseorang yang
visioner, yang memandang segala sesuatu itu harus direncanakan dengan baik,
karena dengan perencanaan, maka permulaan yang baik akan bisa dimulai. Tapi
tidak ngogot, dalam artian punya planning
B setelah planning A gagal. Punya
jalan lain jika jalan yang satu tidak bisa membawa sampai ke tujuan.
Jika dikatakan berpikir visioner
itu sama saja tidak menikmati hidup, lantas apa yang harus dilakukan orang-orang
model kami? Membiarkan semuanya terjadi tanpa ada persiapan, sementara di satu
sisi orang yang katanya menikmati hidup itu malah merencanakan sesuatu yang
membuat mereka bisa menikmati hidup. Pergi berliburan, misalnya.
Apa iya ada yang ingin pergi
berlibur main pergi saja? Tentulah harus merencanakan biayanya, waktunya, dan
segala macam pertimbangan, bahkan sampai baju apa yang dipakai. Barulah setelah
itu bisa menikmati hidupnya.
Kalau memang betul kami yang
visioner ini tidak hidup di hari ini karena terlalu banyak memikirkan apa yang
baik yang seharusnya dilakukan, lantas apa yang akan dan seharusnya kami
lakukan? Membiarkan semua angan dan cita-cita berjalan seadanya.? Aku paham
betul kalau segala sesuatu itu sudah digariskan Tuhan, tapi aku juga yakin
kalau Tuhan memberikan kemampuan untuk berpikir supaya bisa menjalani hidup ini
dengan segala faedahnya, perencanaan salah satunya.
Misal, ingin menjadi istri dan
ibu yang baik bagi suami dan anakku kelak. Bagaimana menjadi istri dan ibu
yang baik? Salah satunya dengan menjadi seseorang yang selalu ada untuk mereka.
Bagaimana bisa, sementara aku saja harus bekerja, menghabiskan hampir seharian
waktu dengan sibuknya pekerjaan? Itulah gunanya perencanaan, itulah gunanya
menjadi visioner. Mencari solusi atas apa yang akan dihadapi di depan nanti.
Bukan tidak menikmati hidup, tapi berusaha menyiapkan hidup yang lebih dari
sekadar nikmat, tapi bermanfaat, dan bernilai ibadah di mata Tuhan.
Mungkin calon yang ibu lain pun
sepemahaman. Kami hanya butuh wadah untuk merencanakan itu semua, butuh solusi
dari kepala lain yang nantinya akan menjadi satu pemikiran, tentunya dimulai
dari perencanaan. Jika kelak masa itu tiba, lantas semua dihadapkan dengan
pilihan yang sulit, jika kita sudah punya opsi jauh sebelum hal itu terjadi,
maka mudah-mudahan Tuhan membukakan jalan. Tapi jika kita berusaha untuk
menikmati hari ini, menyerahkan semuanya dengan takdir, maka aku sendiri pun
tidak bisa menjamin kalau kelak batin belum siap menjalani.
Ya, tidak ada yang salah.
Beruntunglah kalian yang berhasil hidup di hari ini, menikmati hidup yang
begitu keras dijalani. Tidak seperti kami, kamu hawa yang tak henti berusaha
menjadikan diri sebaik-baiknya pribadi, meski kadang apa yang kami pikirkan tak
sejalan dengan apa yang kalian jalani.
Sulit bagi kami untuk menjalani
hari ini tanpa persiapan di hari nanti, apalagi menjadi seorang istri adalah
peran yang begitu menyita segalanya dalam pribadi. Semuanya hanya demi
membangun kehidupan yang bermakna hakiki di mata sang Ilahi. Kami hanya butuh
solusi, kami hanya butuh tempat berbagi, tidak harus dituruti saat ini, cukup
beri ruang untuk kami menata hati dengan segala apa yang kami ingini terjadi
nanti. Semoga Allah menguatkan hati dan meridhoi niat baik kami, para kaum hawa
yang visioner, yang mungkin belum bisa hidup hari ini.
Friday, 12 May 2017
MENJADI KUAT
5 Mei kemarin, tepat 3 bulan aku
meninggalkan rumah, meninggalkan orangtua, sahabat dan segala memori yang
menggantung di langit-langit kota tercinta. Tinggal di Palembang bersama
orangtua mungkin adalah keinginan yang sudah tidak bisa lagi dipenuhi, nasib
sudah mengubah semuanya, Tuhan punya jalan yang berbeda. Panggilan “ayuk” pun
sudah berubah menjadi “teteh”. Ya, saat ini aku tengah menjalani salah satu
skenario terbaik Tuhan, menjadi warga Kabupaten Baleendah, Bandung, Jawa Barat.
Ketika mengeluhkan keberadaan
saat ini, maka banyak pula yang mengatakan, “Bandung itu kota impian anak OJT,
enak kamu dapet di sana.” Sebelumnya, tidak pernah terpikir akan hidup di sini,
mungkin entah sampai kapan, bisa sampai pensiun mungkin. Entahlah, biarlah
Tuhan yang mengatur segalanya, tugasku hanya cukup dengan menjadi kuat.
Saat itu, 5 Februari 2017, pukul
03:00 dini hari aku melangkah keluar dari rumah, tempat tinggal bersama kedua
orangtua dan saudaraku. Sejak langkah pertama itu, satu hal yang wajib kujalani
adalah “menjadi kuat” karena aku tahu, setelah langkah pertama itu aku akan
menjalani segalanya dengan keadaan yang akan sangat berbeda.
10 hari mengikuti pendidikan
militer di Pusikpom Cimahi mendidikku menjadi pribadi yang kuat dan tegar, di
saat segalanya dilakukan tanpa keluh. Sebelum ke Cimahi, aku dan teman-teman
dari Palembang turun di bandara Soekarna Hatta. Perasaan bahagia sekaligus sedih
karena meninggalkan rumah begitu campur aduk, selama di pesawat yang ada dalam
pikiranku adalah: “Aku sudah jauh dari Ayah, Ibu, dan saudaraku. Akan tetapi,
aku dekat dengan ‘dia’.”
Tuhan terlalu baik, selalu
menjawab ingin hamba-Nya meski tidak secara langsung. Ya, ini keinginanku, aku
ingin meninggalkan kota di mana aku dibesarkan salah satunya karena “dia”, yang
In Syaa Allah kelak diridoi menjadi teman sepanjang hidup. Teman yang akan
mengambil alih segala kewajiban Ayah dan Ibu, teman yang akan selalu ada dalam
kondisi apapun. Dan, Tuhan pun Maha Baik, kami menjadi begitu dekat.
Waktu itu, dia sudah berjanji
untuk menjemputku di bandara, meskipun saat itu dia hanya bisa menunggu di
luar. Perasaan bahagia begitu menyeruak, wajar saja, kami terakhir bertemu
sekitar 3 bulan sebelumnya. Setelah berhasil menerobos kerumunan berseragam
hitam putih di depanku, aku melihat dia berdiri dengan senyumnya yang rekah,
waktu yang hanya singkat itu pandai sekali mempermainkan perasaan kami. Aku dan
dia hanya sempat berfoto seadanya karena rombongan kami sudah harus masuk ke
damri untuk diangkut ke Cimahi. Dan, kami pun kembali terpisah oleh jarak.
Hari pertama pendidikan militer
tak urung membuat kami yang baru saja berpisah dengan orang-orang terkasih
ingin menyerah rasanya. Sampai di markas TNI ketika azan magrib, setelahnya
kegiatan lansung dimulai ala militer sampai jam 11 malam. Kemudian masuk ke
barak yang diisi oleh satu kompi. Kamar mandi, tempat tidur, semuanya berbagi.
Bertemu dengan teman-teman dari semua provinsi. Tidak ada lagi keluhan, yang
ada hanyalah menjalani.
Di hari pertama orientasi
keesokan harinya, kami diguling di lapangan luas, dihantam suara-suara peluru.
Aku dan teman-teman sudah semaput. Dikasih makan siang ala tentara, belum lagi
disuruh ini itu, segala macam yang ada dalam orientasi kemiliteran. Hampir
setiap malam setelah latihan selesai aku diam-diam nangis di balik selimut,
supaya tidak ketahuan teman satu barak. Tangan dan kaki lecet, badan lelah,
muka gosong, rengekan dalam hati cuma satu: “Ayah, Ibu, mau pulang.”
Baru lepas dari kurungan militer,
kami pun beralih ke Depok, tepatnya di Kinasih Resort Depok untuk mengikuti
pembidangan, sekolah lagi. Tanggal 16 Februari sampai 18 April kami di sana. Setiap
Senin sampai Jumat belajar, dengan segala macam tata tertibnya, mulai dari
mandi, makan, berjalan dan segalanya. Hari Sabtu dan Minggu pun masih ada
kegiatan, HP dikumpul dan baru bisa diambil Jumat sore. Untungnya, setiap hari
Minggu kami boleh dikunjungi.
Dia, dengan segala perjuangannya
hampir setiap 2 minggu sekali mengunjungiku dari Tangerang ke Depok. Sungguh
Tuhan Maha Baik, aku diberi dia yang sejauh ini begitu sabar dan tulus.
Entahlah, aku pun belum bisa membalasnya hingga kini.
Selama dua bulan belajar, aku
bertemu banyak karakter manusia yang lagi-lagi membuatku menjadi kuat. Mulai
dari yang manja, mandiri, baik, jahat, egois, dan sebagainya. Semua berkumpul
menjadi satu. Saat itu aku sekamar dengan teman dari Blitar, Nganjuk, dan
Selapan (daerah di kota Palembang), dan ketiganya lebih muda dariku. Jadilah
selama masa pendidikan aku memiliki banyak anak.
Sampai pada saat pembagian
penempatan, aku ditempatkan di kantor Distribusi Jawa Barat bersama 11 teman
yang lain, yang 6 di antaranya juga orang Palembang. Tentulah aku masih biasa
saja, masih belum terasa sepi, perjuangannya masih belum begitu terasa. Hampir
diculik gocar pun berdua, masih ada teman. Jalan-jalan rame-rame selama 10 hari
menginap di hotel Nandya di Jalan Pangarang Bandung.
Rabu, 27 April 2017 perjuangan
sebenarnya dimulai. Aku ditempatkan di kantor PLN Area Majalaya. Hari itu dia
pulang pagi karena harus bekerja dengan shift malam, tapi dia sudah berjanji: “Mau
di manapun kamu ditempatkan, di Papua sekalipun, aku bakalan ambil cuti buat
nemenin kamu.” Dan, jadilah dia berangkat jam 2 siang menuju Bandung, tiba
sekitar habis isya. Lagi-lagi, aku beruntung memiliknya, benar-benar tidak ada
kata tidak, meski aku tahu kalau dia begitu lelah.
Malam itu, kami naik gocar menuju
Baleendah. Kami tiba sekitar pukul 09:45 WIB. Saat itu kami di drop di depan
kantor PLN Area Majalaya, dengan gesitnya dia membawa koper dan tasku.
Sementara aku hanya membuntut di belakang, baiknya waktu itu kami diantar
satpam untuk mencari kos di daerah situ. Tibalah kami di satu kos yang katanya
isinya banyak orang PLN juga. Alhamdulillah aku dapat kamar dan dia pun dapat
satu kamar kosong. Jadilah malam itu kami membersihkan dua kamar itu sampai
hampir larut. Lelahnya tidak bisa ditutupi, mata itu terlihat sayu.
Tiga hari dia menemaniku, meski
ketika aku berangkat ke kantor dia harus menghabiskan waktu hanya di kamarnya,
atau mungkin keluar hanya untuk mencari makan. Sepulang kerja dia pun menjemput
ke kantor, meski hanya jalan kaki di bawah rintik hujan. Itu sudah sangat
membuatku berterima kasih. Dia sungguh luar biasa bagiku. Entahlah, sudah tidak
ada kata-kata lagi yang bisa menggambarkan pengorbanannya sejauh ini.
Dan, sepi pun mulai mendekat
ketika dia kembali ke Tangerang. Aku mulai sendirian, meski hampir setiap mala
dia menemani via telepon, tetap saja drama menangis ketika bangun dan akan
tidur itu tidak hilang. Sadar kalau ketika bangun aku sendirian di kota orang,
lalu menangis. Aku kuat menjalani lelah karena bekerja, tapi aku rapuh ketika
mengingat aku sendirian di sini. Sering pura-pura tegar di depan orangtua dan
dia, tapi ketika mereka sibuk dan tidak punya waktu hanya untuk sekadar
menelepon, mulailah sedih itu kembali beranak pinak. Sama seperti rinduku pada
mereka. Saat ini, aku masih terus berusaha menjadi kuat, supaya kelak aku akan
lebih siap menjalani kehidupan yang mungkin lebih keras dari ini. Nanti, saat
kami sudah bersama tapi tetap terpisah jarak.
Monday, 24 April 2017
REALISTIS
Semakin ke sini aku semakin
paham, bahwa setiap apapun yang direncanakan sesuai dengan keinginan tidak akan
selalu berjalan dalam satu garis lurus. Dilema ini makin menjadi ketika banyak
ketidakpastian dalam hidup. Sebenarnya sah-sah saja kalau dalam hidup ini
banyak tanya yang tidak ada atau belum ada jawabnya dalam waktu dekat, tapi
yang menjadi masalah adalah apakah kita mampu bertahan dalam banyak terkaan
dalam kepala tentang jawaban itu sendiri?
Egois, ialah salah satu sifat dasar
manusia yang tentulah sudah mengakar sejak lahir, yang tidak bisa dihilangkan
sampai ke angka nol. Kita tentulah akan mendahulukan kebahagiaan diri sendiri
baru orang lain, juga keinginan sendiri baru keinginan orang lain. Hal yang
demikian adalah lumrah adanya.
Di saat ada keinginan yang kita
pun sebenarnya tidak memaksakan, yang sebetulnya kita sendiri mencari tahu apa
yang harus dilakukan dalam kondisi demikian, salah satunya menikah. Entahlah,
sepertinya hal itu menjadi momok besar dalam kepala banyak wanita, atau mungkin
aku saja?
Aku tidak iri dengan mereka yang
bisa menikah lebih dulu dengan segala macam hal, perayaan, dan sebagainya yang
sesuai bahkan melebihi ekspektasi mereka. Yang menjadi momok besar dalam kepalaku
saat ini adalah: salahkah aku?
Apakah aku terlalu menuntut? Aku
bingung, tidak tahu harus mengambil keputusan yang seperti apa, di satu sisi
aku ingin disegerakan, di satu sisi aku tidak tega. Aku tahu persisi posisi
itu, posisi yang begitu berat, melibatkan banyak hal yang menjadi ujung tombak
dalam kebahagiaan: keluarga dan orang terkasih.
Mengapa wanita punya target usia
untuk menikah? Aku pribadi hanya ingin menghindari fitnah, karena sejatinya
rasa cinta itu sulit sekali untuk dikendalkan, hanya ada dua kemungkinan: bisa
menjadi kebaikan atau malah membawa dalam jurang yang menyesatkan. Tapi di satu
sisi, pria tentulah punya alasan
tersendiri dengan targetnya, mereka
harus membalas budi kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, tidak mengecewakan.
Di saat orangtuanya mengatakan
bahwa mereka haruslah siap secara lahir batin dan finansial, di saat itulah
posisi pria menjadi begitu rumit. Di satu sisi mereka harus menyegerakan,
supaya si wanita tidak terlalu lama menunggu untuk menghindari fintah, tapi di
satu sisi mereka harus mengutamkan keluarga lebih dulu. Lantas apa yang bisa
dilakukan oleh wanita selain menunggu dan bersabar? Kurasa tidak ada.
Sulit, ini begitu sulit. Ketika
ada dua kepala ingin menyatu, namun keadaan mengharuskan mereka untuk berpikir
keras, di saat itulah kesabaran dan keikhlasan diuji. Di saat itulah bahagia
mungkin tak selalu berupa hal yang diinginkan segera terjadi.
Allahurabbi, kuatkan hati kami.
Tuesday, 11 April 2017
MINGGU SORE DI KINASIH
26 Maret 2017
Seperti biasa, gadis itu selalu
terlihat repot setiap kali jadwal kunjungan tiba. Sudah dari semalam, bahkan
dua minggu yang lalu dia menunggu. Iya, jadwal itu memang akan datang dua
minggu sekali. Tidak ada persiapan khusus, hanya saja dia selalu ingin
menampilkan yang terbaik, meski dia tahu tidak ada yang berubah dari dirinya. Di
Minggu kali ini, kekasihnya kembali datang, berjuang menembus macet dan lelah
bekas bekerja seharian. Rela berlelah menggandul tangan di atas kaitan besi
dalam gerbong panas berisi banyak penumpang. Iya, begitulah rute yang harus
ditempuh kekasihnya dari kosan menuju tempat gadis itu menempuh pendidikan
sekarang. Ditambah lagi harus naik gojek supaya bisa masuk ke kawasan Resort di sana.
Siang itu panas terik, dia
seperti enggan keluar kamar kalau bukan karena kekasihnya akan datang. Minggu
ini tempat makan siswa prajabatan mereka dipindahkan ke Saung Besi, tempat
makan yang letaknya lebih jauh dari kamar tinggalnya. Makan siang kali itu
dilewati dengan harap-harap cemas, sebab beberapa kali dia mengecek ponsel,
bahkan menelpon, kekasihnya belum juga ada kabar. Sampai pada penutupan doa
makan, sebuah pesan masuk ke Whatsapp-nya
yang isinya dari kekasihnya. Laki-laki yang selalu terlihat gagah di matanya
itu ternyata sudah tiba, dia menunggu di tempat makan biasnya, di hall Leonie.
Hari itu, kebetulan ada tamu lain
di Resort itu yang mengharuskan
mereka mencari tempat lain untuk bertemu. Gadis itu segera saja mendahului
temannya yang masih duduk santai di meja makan supaya bisa segera bertatap muka
dengan kekasihnya. Dari kejauhan, tampaklah gagahnya bergerak mendekat dari
arah berlawanan. Dia sudah bisa memastikan kalau itu adalah kekasihnya. Dia
memakai kaos berwarna abu-abu tua, celana jin, dan memakai tas punggung
berwarna hitam. Wajahnya nampak lelah. Segera saja gadis itu menghampirinya, di
belakangnya sudah banyak suara-suara sumbang yang bilang “ciyee” ketika dua
pasang mata itu beradu dan melempar senyum masing-masing.
“Tadi aku nunggu di tempat
biasa.”
“Oh, iya. Di sana ada acara, jadi
kita gak bisa duduk di sana. Kamu mau solat dulu? Di belakang ada mushola, tapi
jauh.”
Mereka berjalan beriringan.
“Iya, kami solat di sana aja.”
Laki-laki itu bergerak menuju rumah kayu yang berada di sisi kiri.
“Yakin, kayaknya gak bisa dipake
lagi deh,” gadis itu menyela.
“waktu itu kami solat di sana.”
Gadis itu mengangguk, “Ya udah
kalo gitu, kami solat di kamar dulu ya. Sekalian mau ambil laptop.”
***
Sepanjang perjalanan menuju
kamar, senyum gadis itu begitu rekah, meski dia sadar penuh kalau penampilannya
sungguh di luar harapan, siang itu begitu terik, wajahnya tentulah gosong
ditimpa sinar matahari. Urunglah sudah memberi tampilan terbaik yang hanya bisa
dia lakukan dua minggu sekali itu. Setibanya di kamar, dia segera menarik tas,
memasukkan laptop, menyemprotkan minyak wangi di baju, juga merapikan sedikit
tampilannya.
Riwehnya bertambah lagi ketika satu
pesan masuk dari kekasihnya, dia bilang kalau rumah kayu itu tidak bisa dipakai
solat. Gadis itu mengembuskan napas, bergegas memasukkan mukenah ke dalam tas,
saking repotnya dia, jam tangannya pun sampai lepas. Masa bodohlah, yang
penting kekasihnya tidak merasa kesal karena lama menunggu.
Dia bergegas menapaki anak tangga
resort, kamarnya berada di lantai
kedua di sisi kiri dan paling ujung. Mereka bertemu di depan hall, dengan masing-masing tas
menggantug di pundak. Saling melempar senyuman. Tidakkah kalian tahu, senyuman
itu yang selalu dia nantikan. Seolah melihat masa depan di sana, masa depan
yang sederhana namun membahagiakan. Senyuman yang selalu berusaha mengatakan
bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Kan, udah aku bilang tadi. Ya
udah, kita solat di belakang aja, tapi jauh banget. Musholanya dekat gerbang
keluar, dekat kelasku.” Gadis itu bersungut, mencoba mensejajari kekasihnya.
“Ya udah, gak apa-apa jauh, bisa
jalan-jalan,” laki-laki itu kembali menyulut senyum.
Kaki-kaki itu menapaki aspal yang
ditutupi rindangnya pepohonan di kanan-kiri, melewati rumah kayu, lapangan
basket, rumah tinggal bagi siswa dan tamu lain, melewati banyak kelokan.
Sesekali gadis itu mengeluh panas lalu menyeka keringat.
“Uh, panas. Jauh lagi, setiap
hari kami kayak gini. Kelasku jauh, mana bawaan berat lagi.”
Laki-laki itu menarik lembut
tangan gadis itu, membawanya ke tepi. “Minggir sini, ada mobil.”
Gadis itu kini berada sedikit lebih
di depan, kembali menyeka wajah, dengan tisu menempeli sisi-sisi jilbabnya
dengan harapan wajahnya tidak begitu gosong.
“Udah, gak apa-apa panas, jauh,
sekalian ngurusin badan. Biar sehat juga,” celetuk kekasihnya. Dia selalu
mengucap ringan, tidak pernah mau ambil pusing soal hal yang seperti itu.
Dia selalu bilang: “Udah, nanti
juga putih lagi.” Atau “Udah, nanti juga jerawatnya ilang.”
Kekasihnya selalu membuatnya
nampak sempurna tanpa harus bersusah payah tampil luar biasa untuknya. Hal
itulah yang membuat gadis itu merasa diterima apa adanya, sebab dia tahu,
dirinya pun biasa saja. Tapi tidak dengan kekasihnya, dia selalu mengatakan
bahwa kekasihnya tampan. Tidak peduli banyak laki-laki lain yang mungkin lebih trendy dibanding kekasihnya. Yang dia tahu,
ketampanan kekasihnya berasal dari hatinya yang tulus dan kesederhanaannya yang
begitu menenangkan. Wajar saja kalau gadis itu betah menatapinya tanpa harus
banyak kata yang mewakilinya.
Bersambung....
Subscribe to:
Posts (Atom)